Ali Sadikin, Infrastruktur dan Kota Berbudaya

Diposting pada

Digiqole ad

KOSADATA – Mayor Jenderal KKO Ali Sadikin dipercaya memimpin Daerah Chusus Ibu Kota sejak tergulingnya rezim Orde Lama pada 1966. Ali Sadikin menjadi Gubernur DKI Jakarta pada kurun 1966-1977.

Kala itu, Ali Sadikin menggantikan Henk Ngantung yang menjabat tidak beberapa lama. Ali Sadikin mewarisi banyak permasalahan yang telah dimulai sejak zaman Walikota Soewirjo.

Namun, Ali Sadikin berhasil menata Jakarta lebih baik. Pembangunan demi pembangunan terus digalakkan, hingga sampai pada akhir masa kepemimpinannya, Ali Sadikin masih sempat meresmikan museum khas Jakarta, yaitu Museum Bahari di Pelabuhan Sunda Kalapa. Ini adalah museum ke sembilan yang dibangun di masa jabatannya.

Tidak saja bangunan Museum Bahari yang ingin dibangun dan dipelihara sebagai cagar budaya, tetapi juga area sekitar yang melingkupinya seperti Pasar Ikan dan tata kehidupan serta budaya nelayan setempat, Pelabuhan Bandar Sunda Kalapa, dan bahkan Mesjid Luar Batang sebuah mesjid tua yang dibangun pada abad ke-17 juga menjadi bagian perhatiannya.

Bang Ali, sapaan akrab Ali Sadikin, bukan saja membangun fisik kotanya, tetapi juga memberi perhatian penuh pada pembangunan kebudayaan masyarakat setempat.

Dilansir dari sejarah Jakarta, Bang Ali membangun Jakarta dengan kebijaka fenomenalnya. Kala itu, sejak tahun 1950, setelah pemulihan kedaulatan Republik Indonesia dan Jakarta kembali menjadi Ibu Kota Republik Indonesia, urbanisasi menaik sehingga Jakarta menjadi tempat penampungan penduduk yang datang dari berbagai daerah.

Urbanisasi merupakan permasalahan lama pemerintah Kota Jakarta yang sulit dicarikan solusinya, permasalahan yang berdampak pada kendala yang mengganggu kelanjutan jalannya pemerintahan seperti permasalahan gelandangan, pendidikan dan lapangan kerja serta pemenuhan kebutuhan akan perumahan penduduk.

Permasalahan yang terus meningkat dari tahun ke tahun karena mengikuti arus urbanisasi yang juga meningkat, sementara anggaran pemerintah tidak mencukupi untuk menanggulangi hal ini. Sebuah hal klise karena telah dialami oleh para pejabat-pejabat gubernur sebelumnya yang pada akhirnya menemui kegagalan.

Baca Juga :   Wisatawan Kepulauan Seribu Puji Wajah Baru Pelabuhan Muara Angke

Disamping itu pula Bang Ali dituntut untuk menjadikan Jakarta sebagai Kota Metropolitan, sebuah keinginan dari pemerintah pusat yang mau tidak mau harus direalisasikan mengingat Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Republik Indonesia harus berkompetisi dengan ibu kota-ibu kota negara tetangga lainnya.

Permasalahan yang kompleks dengan anggaran pemerintah Kota Jakarta yang minim ini disiasati Bang Ali dengan menciptakan kebijakan yang fenomenal pada waktu itu, yaitu dengan melegalkan perjudian.

Pada kwartal pertama pemerintahannya, tepatnya tanggal 3 April 1967 Bang Ali meresmikan permainan LOTTO (Lotere Totalisator) JAYA, dimana hasil keuntungan dari LOTTO JAYA ini digunakan untuk pembangunan gedung-gedung Sekolah Dasar dan sarana umum seperti perbaikan jalan rusak.

Kebijakan fenomenal Bang Ali ini dalam waktu yang tidak terlalu lama terlihat hasilnya, sebanyak 108 gedung Sekolah Dasar dapat dididirikan, perbaikan jalan ekonomi sepanjang 120km dan jalan lingkungan sepanjang 230 km, kemudian 14 jembatan termasuk saluran pencegah banjir dapat dibangun.

Belum lagi dengan keberhasilan didirikannya tujuh Balai Kesehatan, memperbaiki empat Balai Kesehatan dan dua gedung BKIA, ditambah dengan  pemberian fasilitas-fasilitas kesehatan rakyat.

Kebijakan melegalkan perjudian menimbulkan pro dan kontra pada masyarakat khususnya di Ibu Kota, namun kemudian dengan tangan besinya Bang Ali dapat meyakinkan bahwa perjudian yang dilegalkan hanya menjaring segelintir orang terutama dari kalangan the haves yang difokuskan pada satu lokasi.

Hal ini dibuktikan dengan diresmikannya Petak Sembilan pada tahun 1968 sebagai daerah sentra perjudian, dimana judi Hwa Hwe menjadi permainan favorit para cukong di Ibu Kota. Meski judi Hwa Hwe ini hanya berlangsung beberapa bulan saja namun dampaknya sangat dirasakan sebagai dana pembangunan.

Seperti perbaikan Lapangan Banteng dan terminal-terminal di dalam kota, pengembangan Jalan Sudirman dan Thamrin serta pembangunan taman kebudayaan Ismail Marzuki. Yang tidak kalah penting adalah perbaikan dan pembangunan sarana perumahan masyarakat, jalan-jalan MHT dan pengaturan kebersihan lingkungan masyarakat menjadi lebih tertata.***

Baca Juga :   Festival Indonesia kembali dengan gembira ke Somersworth NH pada tahun 2022

Simak berita Kosadata lainnya pada google news.

Artikel ini bersumber dari : kosadata.com.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari Travelling.Web.id di Google News

  • Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *