Asa Enggan Terbenam di Lereng Penanggungan Bumi Majapahit

TIMESINDONESIA, SURABAYAPariwisata Jatim kembali tersenyum. Sektor usaha mikro kecil menengah tak lagi tersiksa oleh napas pendek. Semua bergotong-royong menyongsong kekuatan ekonomi baru di Bumi Majapahit. 

Angin gunung berhembus di pelataran Jungle Cafe-Hotel Grand Whiz Trawas Kabupaten Mojokerto. Matahari sedikit malu-malu. Namun juga tak nampak mendung. 

Sekelompok pedagang kecil sibuk membersihkan etalase gerobak sejak pagi. Mereka siap menjemput rezeki. Ada penjual es teler, bakso dan beragam jajanan kemasan. 

Ujung sebelah timur, seorang wanita muda merapikan toples berisi buah dan agar-agar aneka rasa. Toples paling besar penuh sirup warna merah menggoda. 

Wanita dengan senyum mengembang itu bernama Dina. Orang-orang memanggilnya mbak. Dina berjualan Es Teler. Sesuai dengan banner cantik yang terpasang pada bagian depan etalase. 

Sesaat kemudian, dua orang pembeli datang mencari tempat duduk. Berkeliling sejenak lalu memilih menuju tempat Dina berjualan. 

Trawas memang dingin. Tapi tidak untuk sebuah keinginan menikmati semangkok es lezat bersama pujaan hati. 

Tangan cekatan Dina segera menyiapkan sejumlah bahan. Dua mangkok es tersaji penuh buah segar. Alpukat, nangka, kelapa muda, jelly, sirup pandan, dan susu kental manis melimpah. 

Dina kemudian duduk sejenak sebelum rombongan pembeli lain datang. Ia tak henti mengucap syukur. Pikirannya menerawang. 

Ia ingat dua tahun lalu sempat pontang-panting berjualan di pinggir jalan dan harus berjuang di tengah sepinya pembeli karena pandemi. 

Namun sejak satu tahun terakhir, ia mendapat tawaran dari pihak hotel tanpa persyaratan biaya maupun sistem bagi hasil. 

Pihak hotel memfasilitasi lokasi sekaligus menetapkan standar produk agar rasa serta kualitas makanan maupun minuman mereka tetap terjaga. Kontan saja, ibu muda ini sangat bersemangat menerima tawaran tersebut. 

“Alhamdulillah sekarang saya mendapat bantuan tempat dari Grand Whiz buat jualan di Jungle Cafe,” ujar Dina bersyukur, Kamis (22/9/2022). 

Dalam sehari, Dina mampu mencatat omzet Rp400.000. Jika akhir pekan bisa menembus Rp600.000. Rata-rata pembeli adalah pengunjung hotel. 

“Alhamdulillah, lebih-lebih untuk kehidupan saya sehari-hari,” tandasnya seraya tersenyum ketika bercerita kepada seorang pembeli. 

Dina tak menyangka dapat berjualan di sini. Tamu hotel memang tak pernah sepi. Demikian pula dengan Jungle Cafe. Bahkan banyak pengunjung dari luar Mojokerto. 

Mereka datang karena ingin menikmati kemegahan Gunung Penanggungan sambil berkuda atau melepas kepenatan di area hotel dan villa seluas 40 hektar tersebut. 

Pesona gunung kuno itu seolah terangkum dalam sekali pandangan mata. Dari Jungle Cafe maupun Grand Whiz Trawas, leluasa memandang tanpa sekat. Nampak gagah dan utuh. 

Gunung ini menjadi anugerah bagi penduduk sekitar. Tempat mereka mendapat berkah berlimpah membentuk sebuah mata rantai kehidupan. 

Ekosistem pariwisata adalah oksigen bagi para pelaku UMKM di Lereng Penanggungan. Bagi Dina, keberadaan Trawas sangat membantu pengusaha kecil. Terutama jika pengunjung hotel atau wisatawan tak pernah surut. 

Sementara bagi wisatawan domestik, Trawas secara keseluruhan adalah hidden paradise. Surga tersembunyi. Tempat relaksasi saat akhir pekan. Setiap putaran roda, pelancong mendapat suguhan panorama alam menakjubkan. 

Padi menguning, perjalanan petani menuju ladang, pepohonan teduh dan tinggal memilih di mana pacu kendaraan berlabuh. Bisa saja menuju Air Terjun Putuk Truno, Air Terjun Putuk Suko, Air Terjun Dlundung, Coban Talun, Sumber Gempong, Taman Ganjaran dan destinasi lainnya. 

Secara geografis, Trawas memang memiliki keuntungan berlipat sebagai pusat healing. Kontur pegunungan, perbukitan dan arakan kabut adalah lukisan alam tak terbantahkan.

Masyarakat sekitar nampak bahagia tinggal di sebuah kawasan kaki dan lereng paku bumi. Wajah mereka selalu berseri meskipun sepanjang hari, suhu udaranya rata-rata mencapai 18-20 derajat Celcius. 

Trawas dikelilingi tiga gunung sakral. Arjuno-Welirang-Penanggungan dengan ketinggian rata-rata 700 meter di atas permukaan laut.

Karena keelokan itulah, Daerah Trawas terkenal sebagai daerah wisata baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. 

Jarak Trawas dari Kota Surabaya sebagai pusat bisnis yang penuh kepenatan hanya sekitar 65 kilometer saja. Atau sekitar 1,5 jam. 

Setiap akhir pekan, biasanya mereka berbondong-bondong memadati jalanan menanjak berliku dan memilih tempat menginap paling nyaman. 

Berbagai macam usaha pendukung pariwisata tumbuh subur. Mulai perhotelan, penginapan, sentra kuliner, cafe, dan tempat hiburan. 

Salah satunya keberadaan Grand Whiz Trawas dengan Jungle Cafenya yang ikonik. Bahkan menjadi salah satu hotel peraih penghargaan Tourism Award 2022 dari Pemkab Mojokerto. 

Grand Whiz Trawas bukan nama asing bagi warga sekitar bahkan wisatawan. Hotel bintang empat legendaris di kawasan wisata andalan Kabupaten Mojokerto. 

Pemilik Jungle Cafe kebetulan merupakan General Manager Inti Whiz Jatim, Danny Budiman. Bapak dua orang anak ini nekad membuka Jungle Cafe saat pandemi meradang. Butuh sebuah keberanian ekstra. 

Ia getol membantu membangkitkan perekonomian warga sekitar. Sementara ia sendiri juga harus berjibaku menantang sepinya pengunjung dengan catatan zero occupancy kala itu. Namun semua berangsur-angsur pulih kembali. Karena rajutan asa itu tak pernah berhenti. 

Tak terbayangkan, bagaimana Danny tertatih bangkit dari hantaman badai pandemi. Ia bahkan rela tak menerima gaji, asal tidak merumahkan karyawan. Tekad baja itu membawa sebuah inovasi baru dengan membangun Jungle Cafe. 

Niatnya cuma satu, agar pemasukan bagi para pegawai tetap mengalir meskipun bagi rata. Maklum, kondisi saat itu pariwisata dan terutama perhotelan benar-benar terpuruk, tersungkur telak tanpa ampun. 

Jungle Cafe menjadi penopang saat pemerintah perlahan mulai melonggarkan aturan bepergian dengan sejumlah ketentuan protokol kesehatan. Masyarakat merindukan udara segar dan tempat tujuan melepas kepenatan. Dari situ, nama Jungle Cafe kian bersinar dengan rata-rata pengunjung dari luar kota. Bahkan omzetnya di luar ekspektasi. Hotel juga mulai ramai kembali dengan sejumlah kegiatan. 

Sukses membangun Jungle Cafe sebagai upaya bangkit dari keterpurukan, Danny kemudian bertekad memfasilitasi para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sektor informal. 

Mulai pedagang bakso dan aneka ragam kuliner lainnya termasuk makanan ringan dalam kemasan. Mayoritas merupakan warga sekitar. Agar ekonomi mereka kembali berdaya. Ia menyediakan area khusus di Jungle Cafe. Sebuah tempat nongkrong kekinian dan viral besutannya.

Sementara Danny mengatakan sebuah keinginan mulia. “Tujuan kami gotong royong dengan menggandeng masyarakat terutama yang membutuhkan. Agar kita sama-sama bisa hidup sejahtera paling tidak meringankan beban untuk warga yang sangat terdampak oleh pandemi beberapa waktu lalu,” ucapnya

Ia juga mengungkapkan sebuah catatan menggembirakan. Saat ini okupansi hotel selalu di atas 80 persen bahkan terkadang sampai menolak tamu. 

Para pelancong biasanya berkunjung untuk menikmati destinasi wisata alam dan desa wisata di sekitar Trawas kemudian menginap selama dua hari saat akhir pekan di hotel. Aura Jatim Bangkit kian bersinar di pelosok sentra wisata. 

Artinya, kunjungan wisatawan meningkat pesat pasca pandemi. Industri pariwisata kembali bergeliat. Hal itu juga turut berdampak pada pemasukan pelaku usaha kecil. 

“Kami juga tidak menuntut fee atau sharing sama sekali dari mereka, terutama di outlet Jungle Cafe. Asal kita bisa bekerja sama dengan menjaga kualitas terbaik,” imbuh Danny. 

Danny rupanya masih memiliki keinginan besar membangun sinergitas lebih luas, konstruktif dan berkelanjutan. Ia juga tengah mencari beberapa UMKM rekanan dan merancang program pendampingan. 

“Tentunya tak hanya jualan tapi juga pendampingan langsung dari hotel dengan standarisasi yang lebih baik lagi kedepannya. semoga segera,” harapnya. 

Eksistensi UMKM Ketapanrame

Etalase es teler di Jungle Cafe Grand Whiz Trawas telah membantu Dina mengais rupiah, Kamis (22/9/2022). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

Keinginan Danny bukan omong kosong belaka. Ia menggandeng pelaku UMKM sektor makanan dan minuman makin berdaya. Seperti Keripik Jamur Crispy buatan UD Arifah. Sesuai nama pemiliknya. 

Arifah merupakan salah satu produsen aneka cemilan asal Ketapanrame. Ia mendapat tempat sebuah mini outlet berbahan kayu ukuran 1,2 meter kali 60 centimeter di Grand Whiz Trawas. Warnanya kuning dan terlihat cerah sehingga menarik perhatian pembeli. 

Arifah berjualan Sale Pisang Ambon, Kripik Pare, dan Jamur Crispy. Jualannya terbilang laris manis. Sebagai contoh, dalam satu hari Arifah memproduksi 20 kilogram Jamur Crispy dengan harga per kilo Rp70.000. Namun ia juga menyediakan kemasan praktis dengan harga Rp10.000.

“Lima puluh persen reseller menjual produk di tempat wisata di daerah saya di Trawas, dan penjualannya juga banyak, repeat ordernya (order ulang) cepat,” ungkap Arifah. 

Perempuan berhijab ini lantas bercerita, ia memantapkan diri terjun sebagai pelaku UMKM sejak 2015 silam.

Pada awalnya hanya memproduksi Jamur Crispy rasa original. Kemudian berkembang menjadi beberapa varian rasa. Mulai balado, keju, jagung bakar, dan barbeque (BBQ). Pada tahun 2021, Arifah mulai mengembangkan varian baru yaitu keripik pare. 

Terhitung dalam satu bulan, ia mampu memproduksi 500 kilogram keripik aneka varian. Bahan baku juga mudah ia dapatkan dari pembudidaya sekitar. Untuk proses produksi, Arifah melibatkan tetangga kanan kiri. Roda ekonomi berputar, warga turut bahagia. 

Proses pembuatan keripik berlangsung seperti pada umumnya. Setiap hari Arifah berbelanja bahan segar. Setelah semua bahan siap, berlanjut ke proses pengolahan. Seperti peracikan bumbu dan proses sisir jamur untuk keripik jamur. 

Helaian jamur kemudian dicampur tepung bumbu dan digoreng di atas wajan penggorengan dengan api sedang agar matang merata lalu ditiriskan. Aromanya sangat gurih. Rasanya renyah dan nikmat.

Saat keripik sudah agak dingin, selanjutnya karyawan melakukan proses spinner menggunakan mesin guna mengurangi kadar minyak sekaligus menjaga kualitas keripik. Kemudian berlanjut pada proses pengemasan atau packaging sehingga tampilan keripik nampak cantik. 

Sejak 2016 silam, Jamur Crispy ini rupanya sudah masuk ke rak swalayan serta pusat oleh-oleh di Trawas. Seperti Citra Swalayan dan Ria Swalayan. 

Terbaru, pada 2020 aneka produk varian keripik Arifah mejeng di Alfamart dan 2021 menembus jajaran produk UMKM pilihan di Indomaret. Arifah juga membuka outlet stok di rumahnya. 

Kemudian secara online, keripik dengan merek dagang Arifah ini terpajang di galeri Shopee, Tokopedia dan sejumlah marketplace kenamaan. 

“Seratus persen produksi habis terjual baik secara online melalui marketplace maupun offline,” tuturnya. 

Namun, ia memang belum berencana menambah kapasitas produksi. Karena penambahan alat produksi masih bertahap. 

Menurut Arifah, semua itu tak lepas dari bantuan Pemerintah Provinsi Jatim maupun Pemkab Mojokerto. Karena ia mendapat pelatihan gratis, fasilitasi perizinan halal, dan hak merek gratis. Semua itu demi pengembangan produksi. 

“Untuk perizinan, kami selalu mendapat bimbingan dari dinas kesehatan. Kami datang kemudian nanti dibimbing di lokasi,” ucap warga Ketapan Rame ini. 

Kendati demikian, Arifah tak memungkiri mengalami sejumlah kendala. Terutama jika harga bahan pokok naik tajam tak kunjung turun. Ia juga pusing tujuh keliling. Seperti harga minyak beberapa waktu lalu. 

“Minyak dan tepung makin mahal,” ucapnya seraya tersenyum tipis. 

Akan tetapi Arifah bersyukur, karena mendapat bantuan subsidi minyak goreng dari pemerintah. Setidaknya itu cukup melegakan. 

Bahkan ia juga menjadi mentor berbagi ilmu dalam beberapa pelatihan kepada institusi pemerintah maupun sektor swasta. Seperti Koperasi Wanita (Kopwan) dan Tim Penggerak PKK. Lokasi pelatihan di sejumlah hotel maupun restoran Area Trawas. 

Pariwisata dan UMKM Bersinergi

UMKM-3.jpgEtalase Keripik Jamur Arifah di Grand Whiz Trawas Kabupaten Mojokerto, Kamis (22/9/2022). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

Arifah merupakan satu dari sekian pelaku UMKM dan Ekonomi Kreatif (Ekraf) asal Ketapanrame, Trawas yang mampu bertahan dari gempuran zaman karena kegigihan untuk terus berinovasi. 

Desa Ketapanrame sendiri merupakan salah satu kawasan wisata yang cukup mencuri perhatian. 

Desa ini terdiri dari tiga dusun yaitu Dusun Ketapanrame, Dusun Sukorame, Dusun Slepi. Gunung Penanggungan dan Welirang memayungi dusun-dusun berpemandangan eksotis tersebut. 

Masyarakat setempat memanfaatkan anugerah alam untuk bercocok tanam dan mengolah buah maupun sayur dalam sebuah produk turunan. Kekayaan alam dan budaya orisinil masih tetap terjaga. 

Ketapanrame memiliki beberapa tempat wisata. Mulai Wana Wisata Air Terjun Dlundung. Lokasinya berada paling ujung dan memasuki areal lahan Perhutani. Kemudian juga ada objek wisata BUMDesa Taman Ghanjaran dan Sumber Gempong. 

Sepanjang Agustus 2022 kunjungan wisatawan di Taman Ghanjaran mencapai 5.047 orang. Sedangkan Sumber Gempong 3.399 orang. 

Berdasarkan data Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto, secara keseluruhan kunjungan ke objek wisata Mojokerto mulai Januari-Agustus 2022 sebanyak 861.337 orang wisatawan nusantara dan 50 wisatawan mancanegara. Mayoritas kunjungan di Kawasan Trawas. 

Maka tak heran, jika banyak jasa pariwisata dalam bidang akomodasi menjamur. Mulai hotel, villa, hotel dan guest house. Total ada 11 home stay dan 7 guest house di lokasi tersebut. 

Kepala Disbudporapar Kabupaten Mojokerto Norman Handito mengatakan, pihaknyae berupaya mensinergikan industri perhotelan dengan UMKM dan Ekraf seperti arahan Gubernur Jatim Khofifah dan Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati. 

“Produk lukisan, kerajinan tangan atau handcraft dimasukkan. Hal itu sudah saya sampaikan ke pihak hotel agar di lobby itu disediakan karena itu branding dari daerah,” ujar Norman kepada TIMES Indonesia. 

Disbudporapar juga terus mendorong pertumbuhan desa wisata. Desa Ketapanrame tercatat merupakan pilot project desa wisata sejak 2016 lalu. Pengembangan menggunakan Bantuan Keuangan (BK) Desa. Sehingga akselerasi berjalan cepat. 

Norman mengatakan, sebenarnya ada beberapa BUMDesa potensial. Mulai BUMDesa Kesimantengah, BUMDesa Trawas, BUMDesa Penanggungan dan semua berpotensi menjadi desa wisata. Namun saat ini memang belum optimal jika dibandingkan Ketapanrame. 

“Kalau ingin BUMDesa cepat ya menggunakan BK (Bantuan Keuangan) Desa, tidak menunggu ADD (Anggaran Dana Desa) dan DD (Dana Desa),” ujarnya. 

Dana Pengembangan Wisata 

Norman melihat secara keseluruhan Kabupaten Mojokerto kaya akan sektor pariwisata unggulan dengan pembagian pengelola. 

Air Terjun Dlundung dikelola oleh Pemkab Mojokerto bekerja sama dengan Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM) Ecowisata, Petirtaan Jolotundo dikelola Pemkab Mojokerto bekerja sama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim, Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Pasuruan dan Desa Seloliman, Taman Ghanjaran dikelola BUMDesa Ketapanrame, dan Sumber Gempong dikelola BUMDesa Ketapanrame. 

Data Satu Palapa Disbudporapar Kabupaten Mojokerto menyebutkan, sektor wisata turut berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Mojokerto.

Sepanjang Januari-Agustus 2022 tercatat sumbangan sektor pariwisata terhadap PAD mencapai Rp2,2 miliar atau tepatnya sekitar Rp2.284.868.000. Data tersebut diambil mulai 27 Januari hingga 5 Agustus 2022 di sembilan kawasan wisata beretribusi (berbayar). 

Guna pengembangan wisata itu, Pemkab juga mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebesar Rp200.000.000 dan anggaran Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (P-APBD) sebesar Rp2,8 miliar untuk konsultasi, penambahan fasilitas, peralatan dan mesin, alat kebersihan serta pemeliharaan 8 objek wisata yang dikelola oleh Pemkab Mojokerto. 

Sementara Disbudporapar lebih fokus kepada pengembangan sumber daya ekonomi kreatif secara keseluruhan, tidak hanya berhubungan dengan UMKM saja. Namun juga sub sektor kriya, kuliner dan fashion dengan anggaran sebesar Rp110.000.000 yang berasal dari APBD dan P-APBD. 

“Sampai saat ini sudah terserap sebesar Rp38.411.000 sisanya akan dilaksanakan bulan Oktober sampai dengan Desember 2022,” terang Norman. 

Anggaran ini, tambahnya, digunakan untuk menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD), Workshop, Capacity Building, maupun Bimbingan Teknis terkait pengembangan sumber daya pariwisata dan ekonomi kreatif. 

Zona KIP Trawas

Seluruh program pengembangan wisata dan UMKM tersebut sejalan dengan cita-cita Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menuju Jatim Bangkit. Bagi Khofifah, Bumi Majapahit adalah replika sebuah ketangguhan menantang zaman. 

Khofifah bahkan meresmikan Zona KIP (Kreatif, Inovatif dan Produktif) di Desa Wisata Poetoek Soeko, Desa Sukosari, Kecamatan Trawas pada Juni kemarin. 

Zona KIP merupakan produk wisata baru yang dibangun oleh Klinik BUMDesa Jatim berkat dukungan penuh dari Sampoerna untuk Indonesia.

Dwi Ariady Kusuma selaku pelaksana program Klinik BUMDesa Jatim  menyampaikan bahwa Zona KIP merupakan inovasi produk wisata sebagai penguatan Desa Wisata.

“Zona KIP merupakan upaya strategis tim Klinik BUMDesa Jatim dalam mendorong peningkatan pengunjung ke Desa Wisata Poetoek Soeko dengan menghadirkan konsep arena atraksi pertunjukan bagi anak muda maupun keluarga untuk berkreasi, berinovasi dan produktif berkarya,” ungkapnya. 

Guna memperkuat peran BUMDesa di Jatim, Gubernur Khofifah juga mengukuhkan Forum Badan Usaha Milik Desa Jatim periode 2022-2024 di Rainbow Garden Poetoek Soeko. 

Sebanyak sembilan orang dikukuhkan dalam kepengurusan Forum BUMDesa ini berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Timur nomor 188/168/KPTS/013/2022 Tanggal 7 Maret 2022.

Dalam rangkaian kegiatan itu, bantuan keuangan khusus senilai Rp2.028.875.000 diberikan kepada Pemerintah Kabupaten Mojokerto yang diwakili oleh Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati, diserahkan secara langsung oleh Gubernur Khofifah. 

Secara khusus Gubernur Khofifah meminta Forum BUMDesa menjadi bagian yang memberikan penguatan pada pemberdayaan dan ketahanan Desa. 

Pasalnya, BUMDesa yang semakin produktif akan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar kepada masyarakat serta kepada desa. 

Gubernur Khofifah berharap agar pemerintah desa terus memetakan potensi-potensi desanya dan berupaya agar desanya menjadi lebih tangguh melalui pengembangan desa wisata. 

Khofifah mengajak para pengelola desa wisata dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) untuk memaksimalkan potensi UMKM di daerahnya dan mensinergikan dengan BUMDesa. 

Menurutnya, sinergi penting agar produk UMKM menjadi bagian dari paket wisata yang ditawarkan, sehingga memiliki nilai tambah dan daya tarik. Pada saat yang sama, BUMDes juga dapat berkembang.

Produk-produk unggulan UMKM ini akan memperkaya daya tarik yang ditawarkan desa wisata. 

“Karena saat ini, orang tidak hanya berwisata untuk menikmati keindahan alam saja tapi juga wisata kuliner serta  berbelanja oleh-oleh,” kata Khofifah. 

Gubernur Khofifah menjelaskan, banyak kementerian yang menjadikan desa sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan berbagai program strategis. 

Di antaranya Desa Devisa dari LPEI, Desa Cantik atau Desa yang mencintai Statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS), juga Kampung Restorative Justice (KRJ) dari Kejaksaan Agung, Desa Wisata dari Kemenparekraf dan sebagainya.

Oleh sebab itu peranan seluruh stakeholder di lini desa diharapkan bisa membangun desanya lebih kreatif, inovatif dan lebih produktif.

Sehingga pentahelix approach akan benar-benar dapat diimplementasikan di desa dan membawa keberhasilan bagi desa. Termasuk di Kawasan Trawas Mojokerto ini. 

Majafest Gairahkan Pariwisata dan UMKM

Satu bulan setelah Gubernur Jatim Khofifah menggalakkan kebangkitan pariwisata di Trawas, Pemkab Mojokerto langsung menyambut dengan berbagai program positif melalui Majafest 2022.

Pameran perdana pariwisata dan UMKM tersebut seolah menggali kembali pesona Lereng Penanggungan dengan segala potensinya. Majafest berlangsung selama lima hari penuh mulai 23-27 Agustus 2022 lalu di Lapangan Desa Trawas dan Lapangan Paseban Agung. 

Event akbar yang menelan anggaran Rp 1,9 miliar ini sontak menjadi daya tarik para wisatawan. Majafest menampilkan beragam pameran. Mulai pameran wisata, budaya dan ekonomi kreatif, serta festival makanan khas. 

Selain itu juga ada pemecahan rekor MURI mengulek sambal wader dalam 1.035 layah (cobek) dan peragaan busana batik dan tenun. Semua produk asli dan otentik karya masyarakat Kabupaten Mojokerto.

Majafest 2022 kemudian ditutup dengan Tourism Award atau malam penganugerahan para pegiat wisata, seni dan budaya di Kabupaten Mojokerto.

Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati memberikan penghargaan kepada pengelola wisata alam terbaik, wisata buatan terbaik, desa wisata terbaik dan wisata religi terbaik. Beberapa hotel dan restoran terbaik juga mendapatkan penghargaan dari Bupati Ikfina.

“Majafest memang untuk meningkatkan daya jual dan daya saing seluruh potensi di Kabupaten Mojokerto,” kata Ikfina. 

Bupati perempuan pertama di Mojokerto ini bersyukur Majafest 2022 berlangsung sukses. Karena antusias masyarakat yang besar. 

Oleh sebab itu, event serupa akan digelar lebih meriah tahun depan melibatkan lebih banyak pihak. Baik dari sektor pariwisata, industri perhotelan, UMKM, kesenian dan kebudayaan. 

Semua berpadu seperti dua hati tak terpisahkan. Mereka berkolaborasi, berkembang, berkreasi dan berinovasi menantang perubahan zaman.

Termasuk produk keripik buatan Arifah. Keberadaan Majafest sangat membantunya dalam mengenalkan produk lebih luas lagi. Apalagi banyak influencer hadir sehingga sekaligus menjadi ajang promosi gratis. Arifah sangat berterima kasih kepada Bupati dan Disbudparopar Kabupaten Mojokerto. 

Urat Nadi Wisata 

Trawas dengan segala pesonanya mampu bangkit karena sinergi antara industri perhotelan dan UMKM terjalin kuat. 

Dunia perhotelan dan UMKM merupakan urat nadi bagi ekosistem pariwisata. Sebagai salah satu fasilitas pelengkap primer, keberadaan hotel sekaligus menjadi indikator utama geliat kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Termasuk sebagai etalase bagi produk UMKM. 

Lantas apakah kebangkitan Trawas tersebut sekaligus menggambarkan kondisi pariwisata Jatim secara keseluruhan? 

Menurut Data BPS Provinsi Jatim, pada bulan Juli 2022 kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Jawa Timur melalui pintu masuk Juanda sebanyak 6.087 kunjungan. Kondisi ini mengalami peningkatan dibandingkan Juni 2022.

Jumlah kunjungan wisman Juli 2022 naik sebesar 11.605,77 persen dibandingkan jumlah wisman bulan Juni 2021 yang hanya 52 kunjungan.

Angka itu menambah kontribusi Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel dengan berbagai klasifkasi bintang di Jawa Timur. 

Di mana sepanjang bulan Juli 2022 mencapai rata-rata 56,62 persen atau naik sebesar 2,37 poin dibandingkan bulan sebelumnya. 

TPK hotel bintang 4 (empat) sebesar 63,87 persen merupakan TPK tertinggi dibandingkan TPK hotel berbintang lainnya.

TPK hotel klasifkasi non bintang di Jawa Timur bulan Juli 2022 mencapai rata-rata 25,78 persen atau naik sebesar 0,54 poin dibandingkan bulan sebelumnya.

Rata-rata Lama Menginap Tamu (RLMT) asing pada hotel klasifkasi bintang selama bulan  Juli 2022 tercatat sebesar 2,93 hari atau terjadi kenaikan sebesar 0,17 poin jika dibandingkan dengan keadaan Juni 2022 yang mencapai 2,76 hari. 

“Sementara untuk RLMT keseluruhan pada bulan Juli 2022 sebesar 1,54 hari atau terjadi kenaikan sebesar 0,08 poin jika dibandingkan dengan keadaan Juni 2022,” ucap Kepala BPS Jatim Dadang Hardiwan. 

Jatim Pusat Gravitasi Ekonomi

Keberhasilan Gubernur Khofifah memimpin pertumbuhan ekonomi melalui berbagai sektor termasuk pariwisata kian mengukuhkan eksistensi Jatim sebagai center of grafity

Jatim menjadi provinsi penentu bagi angka pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Bahkan, Jatim merupakan penyumbang perekonomian terbesar kedua di Pulau Jawa yakni sebesar 25,01 persen. Demikian juga terhadap perekonomian 34 provinsi lain. 

Kinerja ekonomi Jawa Timur pada triwulan II 2022 mengalami perbaikan dibandingkan triwulan sebelumnya, sejalan dengan tren perkembangan perekonomian nasional dan Wilayah Jawa. 

Pada triwulan laporan, kinerja ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,74 persen year on year (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 5,24 persen (yoy).

Gubernur Jatim Khofifah menjelaskan, ekonomi Jawa Timur Triwulan II-2022 dibandingkan Triwulan I-2022 tersebut meningkat sebesar 2,39 persen berdasarkan data BPS tersebut. 

Kemudian, ekonomi Jawa Timur sampai dengan Triwulan II-2022 meningkat sebesar 5,49 persen (c-to-c). 

Sementara perekonomian Jawa Timur Triwulan II-2022 yang diukur berdasarkan Produk Domestk Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp677,52 triliun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan mencapai Rp438,03 triliun.

“Sebanyak 57,81 persen kontribusi PDRB  Jatim berasal dari UMKM,” terang Khofifah. 

Jatim juga berkontribusi dalam skala ekonomi terhadap Produk Domistik Bruto (PDB) Nasional sebesar 24,93 persen. Salah satunya berkat UMKM.

“Artinya, Jawa Timur juga memiliki kontribusi yang besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional di posisi kedua dan menunjukan betapa UMKM di Jatim menjadi kekuatan yang substansial,” kata Gubernur Khofifah. 

Sektor UMKM Kuliner Kontributor Terbesar 

Dari catatan di atas, benar adanya jika peningkatan pertumbuhan ekonomi di Jatim tak lepas dari kontribusi dari para pelaku dunia usaha termasuk UMKM. 

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinkop dan UKM) Jatim Andromeda Qomariah menyebut, kontribusi UMKM mencapai 57,81 persen terhadap PDRB Jatim pada tahun 2021. 

“Kontribusi ini memang kami hitung tahunan,” jelas Andromeda. 

Jika dilihat dari perkembangan tahun lalu, kontribusi nilai tambah Koperasi dan UMKM Tahun 2021 terhadap PDRB Jawa Timur sebesar 57,81 persen atau meningkat sebesar 0,56 persen dibandingkan tahun 2020 (57,25 persen). 

Andromeda menjelaskan, ekonomi Jatim selalu didominasi oleh tiga sektor UMKM unggulan yaitu sektor pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan. 

Berdasarkan data Sensus Ekonomi, UMKM sektor pertanian dan non pertanian mampu menyerap tenaga kerja 18,8 juta orang. Mereka terus berkembang untuk merespon tuntutan pasar. 

“UMKM Jatim masih menjadi backbone ekonomi Jawa Timur. UMKM saat ini juga menjadi primadona karena terus tumbuh dan berkembang,” tandasnya. 

Sebagian besar UMKM yang bergerak di industri pengolahan merupakan pelaku usaha sektor makanan dan minuman. Sejak pandemi, sub sektor ini terus mengalami peningkatan. 

Pasalnya, selama pandemi tahun lalu banyak sektor fashion dan kriya menjajal peruntungan pada bidang makanan dan minuman tersebut. 

Mereka juga difasilitasi berkolaborasi dengan talenta muda yang tergabung dalam MJC (Millenial Job Center) untuk pembuatan desain logo kemasan, foto produk, sampai dengan pembuatan katalog digital. 

“Jadi makanan minuman perkembangannya sangat luar biasa. Untuk evaluasi kita biasanya melakukannya setiap akhir tahun,” terangnya. 

Andromeda optimistis bahwa tahun 2022 perekonomian Jatim makin berkilau berkat dukungan dari pemerintah maupun stakeholder sesuai dengan tagline Optimis Jatim Bangkit yang diinisiasi oleh Gubernur Khofifah. 

Maka jangan heran jika memantau beberapa program pameran di Jatim. Khususnya di Surabaya sebagai ibu kota provinsi paling timur Pulau Jawa ini. 

Karena Pemprov Jatim sangat aktif memberikan berbagai ruang dan pendampingan kepada UMKM. Antara lain dalam bentuk exhibition berkelanjutan hingga akhir tahun mendatang. 

Sebagai contoh, pada Hari Koperasi ke-75 Tahun 2022, Pemprov Jatim juga melakukan percepatan program Bangga Buatan Indonesia (BBI) sebagai momentum kebangkitan ekonomi dan K-UMKM Expo yang telah digelar pada akhir Juli 2022 dapat meraup omzet hingga Rp2,5 miliar

Lewat rangkaian pameran dan berbagai fasilitasi pendampingan, Pemprov Jatim berjuang mendorong dan memberdayakan kemandirian para pelaku UMKM tersebut. 

Pemprov Jatim juga mendorong perbankan memberikan permodalan melalui penyerahan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI dan Bank Jatim, penyerahan Dana Bergulir (Dagulir) dari Bank Jatim dan LPDB, fasilitasi badan hukum pendirian koperasi, dan MoU antara Pemprov Jatim dan e-commerce.

Menurut Andromeda adanya acara ini seluruh UMKM di Jawa Timur diharapkan untuk bisa mengakses pasar lebih luas lagi dan menstandarisasi kualitas produk.

“Dari Kredit Usaha Rakyat (KUR)  yang sudah ada juga dapat menjadi manfaat dan semoga dapat menjaga resiliensi para pelaku UMKM, selain itu saat ini Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama dengan BPR UMKM Jatim memiliki Program Kredit Sejahtera (Prokesra) dengan bunga murah sebesar 3 persen untuk plafon kredit maksimal Rp 10 Juta dengan jangka waktu maksimal 12 bulan,” tuturnya.

Digitalisasi UMKM

UMKM tetap tangguh bertahan, memiliki resiliensi atau resistensi terhadap beragam kondisi. Namun, ada istilah jika UMKM terutama sektor mikro memiliki napas pendek. Sehingga mereka harus bergantung pada cashflow.

Oleh karena itu, para pelaku usaha ini tidak boleh berhenti belajar, beradaptasi. Karena jika tidak, akan tergerus oleh perubahan. 

“Kita juga melihat bahwa selama ini UMKM mampu beradaptasi terhadap berbagai kondisi,” tandasnya. 

Selama pandemi banyak terjadi peralihan usaha. Banyak lini bisnis UMKM melakukan adaptasi dalam bidang pelayanan. Mulai proses produksi, packaging, distribusi hingga pemasaran online.

Andromeda mengatakan bahwa akses pasar UMKM memang masih minim, oleh karena itu Pemprov Jatim terus melakukan aksi untuk memasarkan produk secara online dan juga membangun kolaborasi dengan berbagai e-commerce. Seperti Shopee, Tokopedia, Grab, Gojek dan sebagainya. 

“Hal ini dalam rangka untuk mempromosikan sekaligus membantu UMKM kita untuk bisa tetap eksis produknya,” tambah Andromeda. 

Dinkop dan UKM Jatim memfasilitasi persyaratan, legalitas dan pembinaan bersama lintas sektor. Termasuk permodalan dan pemasaran. 

Harapannya, populasi UMKM semakin bertumbuh dan naik kelas. Kolaborasi ini sangat penting dilakukan bersama dengan unit berkompeten. Demikian pula intervensi memiliki peran utama. 

Pada tahun lalu, digitalisasi UMKM di Jawa Timur telah mencapai 3 ribu lebih landing berkat kerja sama antara talenta muda dalam MJC dan UMKM. 

Percepatan upaya digitalisasi juga dilakukan dengan bersamaan dengan fasilitasi Nomor Induk Berusaha (NIB) secara gratis serta pelatihan secara online yang dapat diakses melalui platform SiJawara+ (Sistem Informasi Pembelajaran dan Peningkatan Wawasan Perkoperasian dan UKM). Baik pelatihan terkait aplikasi digital transaksi keuangan maupun dengan program lain. 

“Dan ini akan terus kita lakukan melalui berbagai platform e-commerce dan ini akan terus bertambah,” tandasnya. 

Tak hanya itu saja. UMKM Jatim juga sudah melakukan kegiatan pemasaran secara digital melalui Jatim Belanja Online (Jatim Bejo) milik Pemprov Jatim dan juga didukung oleh 38 kabupaten maupun kota. 

“Kesadaran dari pemerintah kabupaten maupun kota untuk percepatan digitalisasi bagi UMKM atau istilahnya naik kelas semakin meningkat dengan semakin banyaknya produk-produk UMKM yang masuk Jatim Bejo dan telah dikurasi terlebih dulu,” terangnya.

Napas Panjang UMKM Jantung Ekonomi Wisata

Keberadaan UMKM di kawasan wisata sangat bergantung pada tingkat kunjungan wisatawan. Karena dengan demikian, mereka tetap bisa bernapas panjang. 

Pada tahun 2022 ini, Dinkop dan UKM Jatim bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim serta Bank Nasional Indonesia (BNI) Kantor Wilayah Surabaya, bersinergi dan berkolaborasi dalam pengembangan UMKM di desa wisata yang tersebar di 11 kabupaten di Jawa Timur. 

Kolaborasi tersebut berkaitan dengan pendataan usulan penerima program bantuan dan pendanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari PT Bank BNI (Persero) Wilayah Surabaya.

Sinergi dilakukan dalam bentuk penyediaan 150 kios oleh BNI pada 15 titik lokasi desa wisata. Dari 150 kios tersebut, sebanyak 90 kios akan digunakan untuk penjualan makanan minuman dan 60 kios untuk penjualan produk kerajinan souvenir (cinderamata). 

Kios tersebut diperuntukkan bagi usaha mikro dan kecil yang berada di desa wisata di beberapa Kabupaten oleh PT Bank BNI.

Rincian kabupaten maupun kota desa wisata tersebut antara lain di Bangkalan (Pantai Biru), Sampang (Kampong Milon Napote), Pamekasan (Bukit Kehi), Sumenep (Pantai Ropet), Lamongan (Pantai Kutang, Jombang (Wisata Sumber Biru, Wisata Pandansili) Gresik (Wisata Mangrove Sidokumpul, Kampung Kreasi) Tuban (Sendang Asmoro), Bojonegoro (Wisata Petik Belimbing) dan Mojokerto (Bejijong Trowulan, Kampung Majapahit, Lembah Mbencirang, Desa Wisata Bahari Telocor Wisata Alam).

“Selain itu, di beberapa kegiatan penguatan desa wisata kami mengundang pelaku UMKM untuk memberikan pencerahan kepada pelaku desa wisata,” terang Kepala Disbudpar Jatim, Sinarto. 

Disbudpar Jatim juga berencana untuk berkolaborasi guna peningkatan kapasitas pengelola desa wisata.

Di mana Disbudpar memberikan materi tentang tata kelola, sedangkan Dinkop UKM Jatim memberikan materi seputar UMKM meliputi pengolahan produk, desain, pengemasan dan pemasaran produk.

Keseluruhan upaya sinergitas tersebut akan terus berjalan. Agar pariwisata dan UMKM di Bumi Majapahit kian berdaya menantang segala perubahan zaman. Selayaknya asa yang enggan terbenam di Lereng Penanggungan.(*) 

**) Dapatkan update informasi pilihan setiap hari dari TIMES Indonesia dengan bergabung di Grup Telegram TI Update. Caranya, klik link ini dan join. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi Telegram di HP.


Artikel ini bersumber dari : www.timesindonesia.co.id.

Tinggalkan komentar