Asrizal Nur, Sang Penyair Multimedia : Mulai Karir dari 1988, Penggagas Hari Puisi Indonesia

Diposting pada

seniman
PENYAIR : Asrizal Nur tampil di Kuala Lumpur, Malaysia. Agenda bertajuk Konsert Jundai Nusantara 2.0 semakin menggelegar dengan auman Raja Penyair Multimedia yang bermukim di Kota Depok.

Asrizal Nur lahir di Pekanbaru, Riau 16 November 1969, seorang sastrawan berkebangsaan Indonesia. Ia terkenal lewat puisi-puisi yang ditulis dan dibacakan dengan ciri khas musik dan drama.

Laporan : Andika Eka Maulana

RADARDEPOK.COM, Sahabat Radar Depok sudah ada yang kenal belum dengan Asrizal Nur yang kini tinggal di Kota Depok?

Asrizal Nur dikenal sebagai salah satu inisiator dan penggagas Hari Puisi Indonesia yang paling dikenal dengan karya spektakulernya konser puisi multimedia, sebuah sumbangsih karya yang telah memberikan warna baru dalam pementasan puisi di Indonesia.

Dia adalah penyair pertunjukan yang dikenal sebagai pelopor puisi-puisi multimedia, sebagai kepeloporanya itu, oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei Darussalam tahun 2010 ia diundang untuk memberikan pelatihan tentang puisi multimedia , Dan Badan Bahasa Republik Indonesia mengundangnya untuk mempresentasikan tentang puisi multimedia di hadapan pengurus Balai Bahasa seluruh Indonesia tahun 2021.

Ia memulai karirnya sebagai deklamator dengan menjuarai lomba baca puisi mulai dari Tingkat Provinsi Riau pada tahun 1988, Tingkat Sumatra pada tahun 1992 dan tingkat Nasional pada 1996.

Tahun 2009 ia mementaskan puisi-puisinya dengan Spektakuler di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Mazuki Jakarta, Kolaborasi pembacaan Tari, Teater, Musik, audiovisual, diberi nama nama Konser puisi Multimedia Asrizal Nur. Sering membacakan puisinya di dalam dan luar negeri, baik secara bersama maupun dalam pementasan puisi tunggal diantaranya di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand dan Korea Selatan.

Dalam perjalananya, Berikut Blibiografi Asrizal Nur sang Raja Penyair Multimedia seperti Naskah Drama sang yang Hitam (1992), Umar Bin Khattab (1992), Merambah Belantara Naga (1993), Merdeka Atau Mati (2014), Mencencang Air (2019).

Untuk Kumpulan Puisi seperti dalam Kotak Debu (Kumpulan Puisi sosial, 1995) Perlawanam Orang-Orang Pabrik (Kumpulan Puisi Sosial, 1997), Percakapan Pohon dan Penebang (2009), Membaca Raga (2013), Kuda (Kumpulan Puisi Pertunjukan, 2019), Gurindam Sukuraga (2022).

Baca Juga :   7 Makanan Khas Bangka Belitung, Tidak Hanya Lempah Kuning Halaman all

Dan kumpulan Puisi bersama seperti Antologi Puisi Nusantara (2006), Rampai Melayu Asia Tenggara (2006), Antologia De Poe’ticas Kumpulan puisi Portugal, Malaysia dan Indonesia (Gramedia, 2008), Musi, Pertemuan Penyair Nusantara V (2011), Kumpulan Puisi dan Cerpen Internasional Jilfest: Ibu Kota Keberaksaraan(2011), Lambaian Nusantara Dari Kota Singa, Antologi puisi bersama Pertemuan Penyair Nusantara VII (2014), Antologi Puisi Asean, The Vice Of Humanity (2015), Antologi Puisi Asean Pulara 5 Dan 6 (2015 dan 2016), Antologi Puisi Serumpun (2016), Antologi Puisi Dunia : The Silk Road Anthology, Arabian Night, World Poem, Editor Ashraf Aboul – Yazid,(2022).

Sebagai pelopor puisi Multimedia ia memiliki konsep, bahwa baca puisi multimedia adalah : Pembacaan puisi didukung oleh lebih dari 2 media seni, atau setidak- tidaknya 3 media dan lebih akan tetapi puisi tetap menjadi kekuatan sedangkan media seni lainnya memperkuat puisi itu sendiri. (*)

Editor : Junior Williandro

Artikel ini bersumber dari : www.radardepok.com.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari Travelling.Web.id di Google News

  • Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *