Bagaimana Wujud Rumah di Zaman Majapahit, Begini Penggambarannya

Diposting pada

Mojokerto

Menurut beberapa ahli, Trowulan di Kabupaten Mojokerto merupakan sebuah kota besar pada zaman Majapahit. Permukiman penduduknya kala itu mempunyai ciri khas. Hunian rakyat biasa dan para pertapa tentu saja mempunyai corak yang berbeda dengan kaum bangsawan.

Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim Vidi Susanto mengatakan permukiman zaman Majapahit mempunyai beberapa ciri khas. Salah satunya atap hunian menggunakan genting. Sudut-sudut atapnya berhiaskan ukel.

Oleh sebab itu banyak temuan pecahan genting dan ukel di situs-situs permukiman peninggalan Majapahit. Seperti di Situs Watesumpak, permukiman Segaran dan Grogol yang ditemukan di Kabupaten Mojokerto. Selain itu, gerabah yang digunakan juga mempunyai ciri khas.

“Gerabahnya kebanyakan dengan pola hias, seperti motif hias tumpal, beberapa bunga. Gerabah model seperti itu booming pada zaman Majapahit,” kata Vidi kepada detikJatim, Rabu (28/9/2022).

Hunian masyarakat pada zaman Majapahit, lanjut Vidi juga dibedakan antara rakyat biasa dengan kaum bangsawan, brahmana dan kesatria. Menurutnya hunian rakyat biasa berupa rumah tunggal yang berjajar tanpa pagar sehingga membentuk kampung.

“Kalau puri untuk orang-orang dengan kasta tinggi dia punya pembagian ruang tempat sakral, semi sakral, profan. Berdasarkan kasta ada kerabat keraton, kesatria dan pemuka agama,” terangnya.

situs watesumpakSitus Watesumpak (Foto: Enggran Eko Budianto)

Arkeolog Universitas Indonesia Profesor Agus Aris Munandar menjabarkan lebih rinci tentang ciri khas permukiman Majapahit melalui kajiannya berjudul Pakuwon pada Masa Majapahit: Kearifan Bangunan Hunian yang Beradaptasi dengan Lingkungan. Menurutnya Majapahit sebagai kota besar di Jatim eksis sampai pertengahan abad 16.

Kerajaan yang didirikan Raden Wijaya tahun 1293 itu kemudian dikuasai kesultanan Demak tahun 1419. Yaitu berdasarkan laporan Musafir Portugis Antonio Pigafetta tahun 1522 yang menyebutkan eksistensi Majapahit sebagai kota besar di Jawa bagian timur. Ditambah lagi dengan data dari Prasasti Pabanolan Pari yang dibuat di Majapahit tahun 1541.

Baca Juga :   Resep Membuat Kue Nona Manis Khas Sulawesi yang Lezat

“Maka Majapahit sebagai permukiman besar bertahan sampai pertengahan abad 16. Tidak diketahui pasti penyebab ditinggalkan penduduknya hingga menjadi desa sepi, hutan dan areal pertanian yang sekarang dinamakan Trowulan,” jelas Profesor Agus seperti dikutip detikJatim.

Untuk mengkaji permukiman zaman Majapahit, Profesor Agus menggunakan banyak sumber. Salah satunya relief-relief candi peninggalan Majapahit di pusat informasi Majapahit (PIM) di Trowulan, serta relief-relief di Candi Minakjinggo, Candi Surawana di Kediri, Candi Penataran di Blitar dan Candi Jawi di Pasuruan.

“Konsep hunian Majapahit beda dengan masa setelahnya. Kalau Majapahit memakai dasar keagamaan Hindu dan budha. Masa setelahnya menggunakan konsepsi baru gabungan Hindu, Budha, Islam dan aturan tradisi,” ujarnya.

Berdasarkan relief-relief candi tersebut, rumah kaum berkasta tinggi pada zaman Majapahit menggunakan konsep pakuwuan atau pakuwon. Yaitu berupa sekumpulan bangunan terbuka, setengah terbuka dan bangunan berbilik yang dikelilingi pagar tembok. Pada salah satu sisi pagar terdapat pintu gerbang berupa gapura candi bentar atau gapura kembar seperti Candi Wringinlawang di Desa Jatipasar, Trowulan.

Simak Video “Menyusuri Gua Buatan Sepanjang 60 Meter di Kebun Warga Mojokerto
[Gambas:Video 20detik]

Artikel ini bersumber dari : www.detik.com.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari Travelling.Web.id di Google News

  • Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *