Cara Klasik Warung Soto di Semarang Pertahankan Cita Rasa 3 Generasi – Solopos.com

Diposting pada

SOLOPOS.COM – Warung Soto Rombongan di Kota Semarang dijajakan Pak Mul pertama kali secara pikulan pada 1977. (Ponco Wiyono-Solopos.com)

Solopos.com, SEMARANG – Berbagai daerah di Indonesia memiliki makanan berupa soto yang menampilkan khas masing-masing, begitu dengan di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng). Di Kota Semarang ada satu warung soto yang mempertahankan cita rasa tradisionalnya dengan teknik memasang yang terbilang klasik.

Warung soto tersebut adalah warung Soto Ayam Rombongan yang berada di Jalan Anjasmoro, Kota Semarang. Warung Soto Rombongan ini awalnya dijual pendirinya, Pak Mul, pada tahun 1977 dengan cara dipikul. Namun sejak tahun 1992, Pak Mul mulai mendirikan kedai soto di Jalan Anjasmoro.

PromosiDukung UMKM Binaan BUMN Go Online, Tokopedia Daftarkan 2.000 NIB

Sejak awal berdiri, warung ini pun masih mempertahankan teknik tradisionalnya. Teknik itu berupa memasang dengan menggunakan kayu bakar.

Dewasa ini, sangat jarang warung kuliner tradisional yang memasang dengan menggunakan kayu bakar. Pemilik warung Soto Ayam Rombongan yang juga istri Pak Mul, Aisyah, mengatakan kayu bakar dipilih sebagai bahan bakar lantaran panasnya lebih merata.

“Karena kuahnya pakai kaldu dari ayam yang direbus langsung, maka lebih mantap kaldunya kalau direbus pakai kayu [bakar],” ujarnya kepada Solopos.com, Senin (5/9/2022).

Baca juga: Kisah Pemilik Soto Ndelik Boyolali: Pernah Jadi Bakul Es, hingga Servis Dandang

Ucapan Asiyah memang benar, kuah soto ayam di warung yang terbilang legendaris di Kota Semarang ini terasa gurih karena kaldunya. Menurut Asiyah, kaldu tidak bisa digantikan dengan bumbu.

“Semua rasa muncul dari kuah. Tinggal nanti pembeli mau tambah kecap atau sambal sendiri,” lanjut Asiyah.

warung soto semarang
Seporsi soto ayam yang kuah kaldunya direbus memakai kayu bakar. (Ponco Wiyono-Solopos.com)

Kayu Pohon Karet

Mulanya, kayu bakar yang digunakan untuk merebus kuah menggunakan kayu pohon karet. Namun Asiyah mengaku kini ia kesulitan mendapatkan bahan baku tersebut.

Baca Juga :   Perkuat Jejaring, Dewan Pendidikan Kota Semarang Kunjungan Balasan ke Cirebon • Metro Times News

“Sebagai gantinya kami pakai kayu bekas dari toko mebel. Biasanya mereka ke sini mengantarkan dari bekas bongkaran rumah juga,” tutur pemili warung Soto Rombongan di Kota Semarang ini.

Bertahan dari gerusan zaman, apresiasi pun datang dari para pengunjung setia. Pak Mul sendiri merupakan generasi ketiga yang berjualan soto. Orang tua Pak Mul disebut Asiyah pernah berdagang makanan soto di Puspogiwang, Kota Semarang, pada tahun 1960-an.

Baca juga: Ini Dia Cikal Bakal Penjual Nasi Tiwul di Wonogiri

Memiliki kekhasan dalam meramu kuah sotonya, Asiyah mengaku pelanggannya beragam dan datang dari berbagai daerah. “Pak Gubernur [Ganjar Pranowo] pernah ke sini, juga beberapa tokoh yang saya lupa namanya. Saya berusaha mempertahankan rasa karena itulah alasan orang-orang datang lagi ke sini,” aku Asiyah.

Ciri khas lain warung soto ini adalah sapaan ‘rombongan’ kepada pengunjung. Setiap kali pembeli datang, pemilik kedai dan pelayan menyapa dengan kata ‘rombongan’ meskipun yang datang hanya seorang.

“Biar jadi doa kalau rejeki yang datang bisa rombongan juga,” ujar Asiyah sambil tertawa.

Warung Soto Ayam Rombongan berada di Jalan Anjasmoro, Karang Ayu, Semarang Barat. Pelanggan bisa menikmati soto di kedai ini mulai pukul 09.00 WIB.

Artikel ini bersumber dari : www.solopos.com.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari Travelling.Web.id di Google News

  • Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *