Cerita Sukardi dan Purnamasari, Pasangan Muda Perajin Wayang Kulit di Purbalingga

Pasutri asal Purbalingga, Purnamasari dan Sukardi, sedang melakukan aktifitas kesehariannya sebagai perajin wayang. Selain bahan kulit, wayang produksinya juga dibuat dari bahan kertas kardus bekas. (Foto: Amin Wahyudi)

Seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, kebudayaan tradisional mulai tergerus oleh modernisasi. Seperti halnya kesenian Wayang di Indonesia, perlahan mulai tergeser oleh budaya asing. Padahal, kesenian Wayang Kulit telah masuk sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO.


Purbalingga, serayunews.com

Beruntungnya, masih ada kaum muda yang masih mau merawat dan melestarikan kesenian wayang. Seperti yang dilakukan pasangan suami istri (Pasutri) di Purbalingga ini.

Adalah Sukardi (33) dan Purnamasari (24), warga Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga. Pasangan muda ini, menjadikan wayang sebagai sumber penghidupannya.

Sejak sekitar tahun 2017, Sukardi memantapkan diri dari sebuah kecintaan, dijadikan mata pencaharian. Dia membuat tokoh-tokoh wayang, untuk dijual.

“Kalau mulai menjual itu sejak menikah, sekitar tahun 2017,” kata Sukardi.

Sepetak ruang yang tak lebih dari dengan ukuran 3×6 meter, dijadikan workshop oleh Sukardi dan Purnamasari. Nuansa kesenian sangat kental di sana. Ada barong yang dipajang pada tembok tengah dan di sisi lain, tertempel sejumlah tokoh pewayangan hasil karyanya.

Seperangkat alat kerjanya, tergeletak di atas kulit kering yang sudah terlihat motifnya. Ya, Sukardi sedang menggarap Gunungan yang dipesan oleh kliennya.

Sementara itu, duduk di lantas beralas matras warna-warni, istrinya menghadapi deretan botol cat berbagai warna. Dia dengan seksama mewarnai wayang-wayang yang sudah selesai dibuat suaminya.

Hampir setiap hari, keduanya menghabiskan waktu di ruang tersebut. Kolaborasi suami dan istri yang sangat kompak.

“Saya spesialis mewarnai Wayang yang sudah selesai dibuat oleh suami,” ujar Purnamasari.

Wayang yang dibuat Sukardi tak hanya berbahan kulit, seperti pada umumnya. Dia juga kerap memanfaatkan barang bekas untuk dijadikan bahan, termasuk kertas kardus. Mengejutkan, hasil akhirnya nyaris tak nampak beda dengan wayang berbahan kulit.

“Ini dari kertas kardus, saya memanfaatkan barang bekas dan tetap bisa kaku seperti ini karena ada caranya,” ujar Sukardi.

Diceritakan, kertas kardus bekas itu dikelupas lapisan luarnya. Kemudian, dia tumpuk dan lem dengan lembar lain. Selain menjadikan kaku, tekstur kertas itu juga rata dan halus.

“Bisa dibilang ya keunikan wayang kami, ada yang berbahan kertas,” kata dia.

Dalam mendapatkan uang, Sukardi tidak hanya mengandalkan pesanan wayang besar atau wayang yang dibuat pentas. Namun, dia berinovasi dengan produk-produk lainnya dengan membuat cinderamata seperti gantungan kunci.

“Bisa juga lukisan wayang atau wayang karikatur. Bisa juga melukiskan wayang di gelas atau botol minuman, itu juga sering dipesan,” katanya.

Selain bahan kertas, ada juga nilai keunikan lainnya. Sang istri, sejatinya merupakan warga luar Jawa. Namun, saat ini dia mulai hafal dan paham tokoh serta karakter pewayangan. Kemampuannya itu, bahkan belum tentu dimiliki oleh orang asli Jawa.

“Awalnya diajak suami nonton wayang, sama sekali tidak tahu. Apalagi bahasanya juga tidak maksud,” ujar perempuan kelahiran Sijunjung, Sumatera Barat ini.

Tapi dari ketidaktahuan itu, muncul rasa penasaran dan mulai mempelajari. Sehingga, sampai saat ini dia cukup paham dengan nama serta karakter wayang.

“Perlu paham, karena saat memilih warna harus sesuai dengan karakternya,” ujarnya.

Kalau Sukardi sendiri mengaku, kecintaan terhadap kesenian wayang sudah ada sejak kecil. Dia sering menonton dan mendengarkan cerita pewayangan. Makin klop, karena dia juga memiliki hobi menggambar.

Sejak masih duduk di bangku sekolah, dia sering menggambar wayang. Hanya saja, saat itu belum dijadikan usaha.

“Saya sejak kecil sudah ada ketertarikan dengan kesenian wayang dan kebetulan saya senang nggambar,” katanya.

Sejauh ini, karyanya sudah dipesan dari berbagai daerah. Tak hanya masyarakat Jawa, beberapa pulau seberang juga pernah memesannya secara online.

“Pernah ada orang luar negri yang pesan, tapi saya tidak respon karena tidak tahu proses pengirimannya,” kata Sukardi.

Artikel ini bersumber dari : serayunews.com.

Tinggalkan komentar