Desa Jantur di Muara Muntai Kukar, Surganya Ikan Air Tawar

Diposting pada

TIMESINDONESIA, KUKAR – Siapa sangka daerah yang begitu jauh dari keramaian kota, seperti Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), ternyata memiliki sebuah daya tarik untuk dikunjungi

Kukar merupakan salah satu daerah di Kalimantan Timur yang memiliki luas 27.263, 10 km persegi, terbagi menjadi 18 kecamatan, 193 desa dan 52 kelurahan.

Kecamatan Muara Muntai adalah salah satu kecamatan di pedalaman Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Letaknya sekira 157 kilo meter atau kurang lebih 3 jam perjalanan ke arah barat dari Kecamatan Tenggarong, ibukota Kabupaten Kutai Kartanegera.

Luas wilayahnya mencapai 928,6 kilomoter persergi dan memiliki 13 desa. Wilayah ini memiliki potensi perikanan air tawar yang besar. Hal ini karena penduduknya berada di area dataran sedang yang bermukim di sepanjang aliran sungai dan danau.

Muara-Muntai-Kukar-b.jpgProses pembuatan ikan asin dan pengeringan (foto Syahir/TIMES Indonesia)

Sebab itu, sebagian besar masyarakat Muara Muntai adalah nelayan. Warga memanfaatkan perairan air tawar yang besar berupa sungai dan danau ini sebagai wadah untuk mengais rezeki.

Memasuki musim air surut paska banjir di hulu sungai Mahakam jumlah tangkapan ikan tawar para nelayan mengalami peningkatan drastis. Dalam sehari para nelayan mampu menangkap ikan mencapai puluhan ton.

Salah seorang pengolah Ikan asin di Desa Rebak Rinding, Ariati menyebut, pasca banjir di daerahnya, tangkapan ikan tawar para nelayan meningkat 4 kali lipat dari biasanya. Adanya musim seperti ini dalam sehari, dirinya mampu mengolah ikan asin mencapai satu ton lebih.

“Kalau engga musim, biasa cuman 200 kilo seharian tapi sejak dua minggu ini, sehari kita bisa olah lebih dari satu ton ikan asin, dari tangkapan nelayan,” tutur Ariati kepada TIMES Indonesia.

Pengiriman ke Pulau Jawa

Hasil tangkapan itu kemudian sebagian besar dijadikan olahan ikan asin. Beberapa jenis ikan seperti Ikan biawan, ikan sepat, toman, gabus, repang, dan haruan jadi bahan baku.

Ikan tersebut diolah dan dikirim ke Pulau Jawa. Meski terpencil, desa-desa di Kecamatan Muara Muntai mampu menembus pasar di luar pulau Kalimantan Timur.

Saking melimpahnya, ikan-ikan asin olahannya, setelah proses penjemuran langsung dikirim ke luar daerah seperti Bontang, Balikpapan, Banjarmasin hingga ke Jakarta.

“Sebagian memang sudah ada yang pesan di Jakarta, biasanya kapal-kapal dari sana datang mengambil ikan asin saya, ya sehari kita bisa kirim 1ton lebih ikan asin ke sana,” terangnya.

Dari olahan ikan asin itu, Ariati mengungkapkan, mampu meraup keuntungan hingga puluhan juta rupiah dalam sehari.

Muara-Muntai-Kukar-c.jpgMasjid Apung seribu ulin Jamiyyatul Taqwa Desa Jantur (foto Syahir/TIMES Indonesia)

“Sekitar puluhan juta, tapi hasil itu kita bagi ke pekerja, dengan hitungan satu kilo ikan kita bayar se-ribu rupiah untuk para pekerja,” ungkapnya.

Desa Jantur Surganya Ikan Air Tawar

Dari pusat kota kecamatan Muara Muntai, TIMES Indonesia menuju ke salah satu desa penghasil ikan asin yakni Desa Jantur.

Baca Juga :   Menparekraf apresiasi ajang Banjarmasin Sasirangan Festival 2022

Perjalanan menggunakan ces atau perahu ketinting selama 25 menit, menyusuri sungai Mahakam. Sepanjang perjalanan berpapasan dengan ces lainnya, karena satu-satunya alat transportasi hanya dapat menggunakan ces.

Sungai Mahakam terlihat seperti bentangan laut yang tak bertepi, sesekali melewati tanah gambut yang muncul dipermukaan, bangau putih serta burung lainnya seakan menyambut kedatangan kru TIMES Indonesia.

Setelah 25 menit perjalanan menyusuri sungai Mahakam, TIMES Indonesia langsung menuju salah satu tempat pengolahan ikan asin milik Ontun, di Desa Jantur Selatan. Perahu ces menyusuri sungai yang berada di antara Desa Jantur Induk dan Desa Jantur Selatan.

Kedua desa ini dihubungkan dengan jembatan gantung khusus roda dua. Hampir semua konstruksi bangunan dan jalan terbuat dari kayu ulin. Pekarangan rumah Ontun dipenuhi dengan ikan asin yang telah dibelah dua.

“Ini hasil panen kemarin, ada ikan sepat, jelawat, gabus, haruan, dan toman. Dalam sehari bisa 1 sampai 2ton ikan air tawar yang kami dapatkan di musim ini,” ujar Ontun kepada TIMES.

Ia menjelaskan proses pengolahan ikan asin sangat mudah, setelah dibelah, keluarkan isi perut dan insang kemudian direndam dengan garam.

“Campur garam semalaman, habis itu besoknya baru dijemur. Garamnya juga harus memakai takaran agar tidak keasinan,” ungkapnya.

Pesanan ikan asin, lanjut Ontun, bukan hanya berasal dari dalam Kaltim saja tetapi selama ini ia mendapat pesanan dari Surabaya dan Jakarta.

“Ini semua sudah dipesan sama orang Jakarta, sebulan bisa 5 kali pengiriman, biasanya 7ton lebih, ini masih proses pengeringan lagi, setiap hari pasti ada kalau musim surut,” tuturnya.

Selain itu, terdapat ikan pipih atau biasa disebut dengan ikan Belida oleh masyarakat setempat.

“Jadi ikan Pipih yang kita dapat dari nelayan ini, kita ambil dagingnya saja, karena dagingnya ini yang biasa jadi bahan baku kerupuk amplang khas Kaltim,” tuturnya.

Tak sampai disitu, daging ikan Pipih yang sudah diolah, sebagian besar di kirim ke daerah Palembang.

“Nggak cuman kita kirim ke daerah Kalimantan, olahan ikan Pipih ini juga kita kirim ke Palembang karena bahan utama makanan empek-empek, jadi sudah ada pemesanannya disana,” tuturnya.

Masjid Apung Jamiyyatul Taqwa

Secara geografis Desa Jantur memiliki daratan rawa-rawa atau gambut dan berada diatas Danau Jantur. Sehingga tidak heran jika desa ini sepanjang tahunnya terendam air.

Pemukiman masyarakat terbuat dari kayu ulin, jalan dan jembatan pun terbuat dari kayu ulin. Wajar saja jika Kecamatan Muara Muntai terkenal dengan Kampung Telihan (ulin) atau kampung sejuta ulin. Termasuk Desa Jantur ini.

Kepala Desa Jantur, Abdul Azis mengatakan Jantur merupakan nama orang. Berawal dari adanya pendatang dari Banjarmasin Kalimantan Selatan pertama kali mendarat di daratan rawa itu.

Merasa nyaman tinggal di tempat itu, karena banyaknya ikan air tawar, Jantur Kembali ke Banjarmasin dan memboyong keluarga dan kerabatnya Kembali ke daratan itu, mereka mendirikan rumah panggung dengan konstruksi ulin.

Baca Juga :   Pemerintah Jepang Harapkan Perawat Lansia dari Kalimantan Selatan

“Karena belum ada Namanya, warga sepakat memberi nama desa itu dengan nama Jantur, orang yang pertama kali datang di tempat ini. Makanya bahasa yang dipakai warga adalah bahasa Banjar,” tuturnya.

Kehidupan masyarakat jantur bertumpu pada hasil tangkapan ikan air tawar yang ada di sungai Mahakam dan Danau Malintang. “Sebagian besar masyarakat sini adalah nelayan, hasil ikan air tawarnya bisa dikirim sampai ke pulau Jawa,” tuturnya kepada TIMES.

Keadaan alam Desa jantur hamper semuanya adalah rawa. Sehingga bangunan yang ada harus memiliki tiang kokoh dari ulin. Sama halnya dengan Masjid Jamiyyatul Taqwa yang berdiri diatas ratusan tonggak kayu Ulin.

Masjid ini terbilang megah dan satu-satunya masjid yang terletak di tiga desa, Yakni Desa Jantur (induk), Desa Jantur Selatan dan Desa Jantur Baru. “Jumlah penduduknya untuk ketiga desa ini sekitar 7 ribu jiwa, lumayan padat makanya dibagi menjadi tiga desa,” ungkap Abdul Azis.

Konon masjid ini merupakan masjid terbesar di Kecamatan Muara Muntai. Abdul Azis mengatakan masjid apung tersebut dibangun sekira tahun 1950-an. Bahan utama masjid ini adalah kayu Ulin, kayu kapur, kayu meranti dan beberapa kayu jenis lainnya.

“Atapnya itu terbuat dari kayu ulin yang telah dipipihkan, seperti sirap, 0,1-0,2 sentimeter (cm) dengan panjang mencapai 35-40 cm, dan lebar kurang lebih 10 cm,” kata Azis.

Walaupun tipis, konon ketahanannya bisa mencapai 20 tahun. Namun, lanjutnya, sejak tahun 2000, masjid tersebut beberapa perbaikan dan renovasi.

“Karena ini cuma satu-satunya masjid di tiga desa, jadi perlu perluasan, karena semakin hari semakin banyak jamaah yang datang, apalagi hari besar Islam, bisa penuh,” lanjutnya.

Bangunan masjid berukuran 35×35 meter, dan terdiri dari dua lantai. Lantai utama untuk jamaah laki-laki, sedangkan untuk lantai atas yang dibuat berbentuk letter U, untuk jamaah perempuan.

Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Jamiyyatul Taqwa, Jaini menerangkan, jamaah masjid datang menggunakan perahu ketinting, biasanya berisi 6 sampai 10 orang.

“Ada juga yang datang dengan perahu ces sendiri. Jika hari raya Idul Fitri atau Idul Adha, jamaah penuh hingga ke teras masjid,” ceritanya kepada TIMES.

Lokasi Masjid Jamiyyatul Taqwa terletak di simpang tiga, pertemuan alur sungai Desa Jantur, Desa Jantur Selatan dan Jantur Baru.

“Musim air pasang biasanya itu 3 bulanan sehingga masjid ini terlihat terapung. Pondasinya terdiri dari tiang kayu ulin ukuran 10 x 10 cm dengan tinggi 2 meter,” ujar Ketua Takmir Masjid di Desa Jantur Muara Muntai, Kukar. (*)

**) Dapatkan update informasi pilihan setiap hari dari TIMES Indonesia dengan bergabung di Grup Telegram TI Update. Caranya, klik link ini dan join. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi Telegram di HP.


Artikel ini bersumber dari : www.timesindonesia.co.id.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari Travelling.Web.id di Google News

  • Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *