Disbud Gelar Lomba Pembuatan Wayang Khas Buleleng

Diposting pada

SINGARAJA, NusaBali
Sebanyak 54 peserta dari 9 kecamatan di Buleleng mengikuti lomba membuat wayang khas Buleleng yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan, Senin (29/8).

Lomba yang dilangsungkan di Puri Seni Sasana Budaya, kompleks Kantor Dinas Kebudayaan ini dimaksudkan untuk tetap melestarikan kesenian dan budaya warisan leluhur.

Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng I Nyoman Wisandika mengatakan, lomba yang digelar salah satu upaya penguatan dan pengenalan warisan budaya kepada generasi muda. Terlebih saat ini tradisi membuat wayang mulai tergerus kemajuan zaman.

“Kami ingin menghidupkan kembali, menguatkan, menggali dan melestarikan warisan budaya yang kita miliki untuk dikembangkan dan dimanfaatkan generasi muda kita,” kata Wisandika.

Khusus lomba pembuatan wayang ditekankan wayang khas Buleleng dengan karakter Bima. Kekhasan seni budaya Buleleng ini tetap ditonjolkan Dinas Kebudayaan sebagai identitas kesenian Buleleng yang kreatif dan bebas.

Dia pun mengapresiasi partisipasi peserta dengan jumlah yang sangat banyak di tengah mulai menurunnya minat generasi muda menekuni kesenian tradisional. Selain lomba pembuatan wayang juga dilaksanakan lomba Palawakya yang juga diikuti perwakilan dari 9 kecamatan yang ada di Buleleng.

Juri lomba pembuatan wayang I Ketut Supir menjelaskan wayang khas Buleleng memiliki ciri khas tersendiri. Menurutnya yang menjadikan wayang Buleleng berbeda dengan wayang lainnya di kabupaten/kota lain di Bali terletak pada kreasi pakaian.

“Wayang Buleleng itu berkreativitas di pakaian. Hal yang tidak menyangkut simbol iti boleh dan bagus dikreasikan. Buleleng punya cara berbeda. Pakem-pakem Buleleng seperti ini harus diwariskan kepada generasi muda,” ucap Ketut Supir yang juga dosen seni Undiksha Singaraja ini.

Karakteristik wayang Buleleng tidak hanya tampak pada karakter Bima, tetapi juga pada karakter para dewa lainnya. Sejumlah wayang karakter dewa khas Buleleng dalam ornamen pakaiannya mengenakan celana panjang selain kain. Kreasi itu yang tidak ditemui pada wayang Bali selatan.

Baca Juga :   Batik Slobog, Batik Khas Jogja yang Bermakna Duka

Sementara itu salah satu peserta Komang Hendri Purwanta, 25, mewakili Kecamatan Tejakula, mengaku tidak ada persiapan khusus. Dia mengaku menguasai teknik mengukir dan pewarnaan wayang karena memiliki ayah seorang dalang.

“Dadakan sih ini saya ikutnya, jadi tidak ada persiapan khusus. Di rumah kadang memang buat wayang karena bapak jro dalang. Lomba ini cukup bagus, bagaimanapun kesenian ini harus tetap lestari di Bali,” tegas Hendri.

Seluruh peserta lomba wayang diberikan waktu 5 jam untuk menuntaskan pekerjaannya. Lomba ini pun terbuka untuk pemuda usia 17-25 tahun yang mewakili setiap kecamatan wilayah tempat tinggalnya. *k23


Artikel ini bersumber dari : www.nusabali.com.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari Travelling.Web.id di Google News

  • Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *