Ecoton Teliti Dua Sungai Besar di Banjarmasin, Hasilnya?

 

 

  • Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) meneliti kesehatan dua sungai besar di Banjarmasin, Sungai Martapura dan Barito, yang banyak tercemar sampah plastik itu.Tim peneliti yang tergabung dalam Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN), Prigi Arisandi dan Amiruddin Muttaqin ini melakukan penelusuran dan menemukan kedua sungai besar itu tercemar mikroplastik.
  •  Ecoton juga menguji kadar mikroplastik dari 10 spesies ikan di sungai itu yakni, ikan patung, seluang, tembubuk, lompok, lais, nila, puyau, sili-sili, haruan (gabus), hadungan dan senggiringan.Tim Ecoton menyatakan, kandungan mikroplastik terbanyak dalam lambung lais (135 partikel mikroplastik dalam satu ekor), paling sedikit pada seluang (18). Rata-rata kandungan mikroplastik dalam lambung ikan di DAS Barito 53 partikel.
  •  Berdasarkan Penelitian National Research and Innovation Agency pada 2008, muara Sungai Barito terkontaminasi logam berat merkuri (Hg), timbal (Pb), cadmium ( Cd), dan tembaga (Cu) meskipun kadar tak melebihi baku mutu kalau tak ada upaya pengendalian dari pemerintah berpotensi terjadi peningkatan.
  • Prigi Arisandi, Direktur Eksekutif Ecoton menyarankan, pemerintah pusat, provinsi dan kota, segera mengambil langkah serius dalam mengendalikan sumber pencemaran limbah domestik dari permukiman warga yang kerap membuang sampah ke sungai.

 

 

Sampah plastik jadi masalah besar bagi perairan di Indonesia, tak terkecuali di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Organisasi konservasi lingkungan, Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) meneliti kesehatan dua sungai besar di Banjarmasin, Sungai Martapura dan Barito, yang banyak tercemar sampah plastik itu.

Tim peneliti yang tergabung dalam Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN), Prigi Arisandi dan Amiruddin Muttaqin ini melakukan penelusuran dan menemukan kedua sungai besar itu tercemar mikroplastik.

Mikroplastik merupakan potongan kecil (mikro) sampah plastik. Ia kemungkinnan dimakan ikan-ikan di sungai, dan berimplikasi terhadap kesehatan manusia.

Tim peneliti Ecoton ini berkolaborasi dengan Perkumpulan Kaoem Telapak Badan Teritori Kalimantan Selatan. Mereka eskpedisi sungai pada 26 Agustus-1 September 2022.

Sebelumnya, dua peneliti Ecoton ini berpetualang dengan menggunakan sepeda motor telah menyambangi 68 sungai di Indonesia. Dari Sumatera, Kalimantan hingga Papua sejak melakoni perjalanan darat pada 1 Maret 2022.

Hari pertama, tim peneliti Ecoton mulai dari Siring Patung Bekantan, Banjarmasin, menyusuri Sungai Martapura, Barito hingga mengambil sampel di Sungai Kuin. Selama penyusuran sungai, Prigi dan Amiruddin melihat banyak sampah sachet bertebaran di sungai.

“Sungai-sungainya sudah terkontaminasi mikroplastik,” kata Prigi Arisandi juga Direktur Eksekutif Ecoton ini kepada Mongabay, awal September lalu.

Dia mengatakan, mikroplastik adalah serpihan plastik berukuran kurang lima mm dari hasil pemecahan dari plastik seperti tas kresek, stryofoam, botol plastik, sedotan, alat penangkap ikan, popok dan sampah plastik lain yang dibuang di aliran Barito.

“Karena paparan sinar matahari dan pengaruh fisik pasang surut maka sampah plastik ini akan rapuh dan terpecah jadi remah-remah kecil,” katanya.

Di tepian sungai, mereka menjumpai beberapa sampah plastik seperti dari produk-produk Wings, Unilever, Indofood, Mayora, Danone dan Coca-cola dan banyak lagi.

Dia bilang, produsen perlu bertanggung jawab atau terlibat atas penanganan sampah dari produk mereka di sungai, termasuk di Banjarmasin.

“Industri-industri besar yang penyumbang sampah plastik ini harus dilibatkan. Untuk berkontribusi, entah menyediakan perahu sampah atau tempat-tempat sampah khusus,” katanya.

Dalam UU No 18/2008 tentang pengelolaan sampah, katanya, penanganan sampah ini seharusnya dilakukan industri dan pemerintah. Apalagi, kata Prigi, ada terbaru PP No 22/2021 tentang penyelenggaraan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Lebih bahaya lagi, katanya, ketika sungai jadi bahan baku air minum “Ketika air minum yang dikonsumsi, ternyata mengandung mikroplastik masuk ke dalam tubuh akan mengganggu sistem hormon reproduksi, hormon metabolisme dan diabetes melitus pada manusia,” katanya.

 

Mikroplastik yang ada di sungai di Banjarmasin, keika Ecoton teliti. Foto: Rahim A/ Mongabay Indonesia

 

Soal kandungan mikroplastik di perairan DAS Barito, Ecoton menjelajahi tiga titik sungai di Jembatan Banua Anyar, Jembatan Pengambangan dan Tugu Bekantan. Mereka dapatkan mikroplastik seperti fiber, filamen, fragmen dan granul secara keseluruhan sekitar 173 partikel. “Paling banyak fiber 270 partikel di Tugu Bekantan. Di Jembatan Banua Anyar empat partikel dan Jembatan Pengambangan lima partikel.”

Ecoton juga menguji kadar mikroplastik dari 10 spesies ikan di sungai itu yakni, ikan patung, seluang, tembubuk, lompok, lais, nila, puyau, sili-sili, haruan (gabus), hadungan dan senggiringan.

“Sudah terverifikasi seluang, lais dan nila rata-rata di dalam tubuh ada 70 partikel mikroplastik,” katanya.

Tim Ecoton menyatakan, kandungan mikroplastik terbanyak dalam lambung lais (135 partikel mikroplastik dalam satu ekor), paling sedikit pada seluang (18). Rata-rata kandungan mikroplastik dalam lambung ikan di DAS Barito 53 partikel.

Tim juga menemukan oksigen dalam air rendah, berkisar 1,5 ppm. Ikan memerlukan oksigen 3-5 ppm.

“Untuk standar air minum memerlukan oksigen 4 mg/liter atau ppm. Sungai di Kalsel khusus Banjarmasin, jauh dari bawah standar baku mutu,” katanya.

Berdasarkan Penelitian National Research and Innovation Agency pada 2008, muara Sungai Barito terkontaminasi logam berat merkuri (Hg), timbal (Pb), cadmium ( Cd), dan tembaga (Cu) meskipun kadar tak melebihi baku mutu kalau tak ada upaya pengendalian dari pemerintah berpotensi terjadi peningkatan.

 

Tanda bahaya

Keberadaan mikroplastik dalam air DAS Barito menjadi tanda bahaya bagi ekosistem sungai itu hingga pemerintah daerah perlu beraksi.

Mikroplastik, katanya, akan mengikat polutan seperti logam berat, pestisida dan detergen dalam air. “Jika dalam air terdapat mikroplastik maka akan menyerap polutan dalam air. Mikroplastik akan menyerap dan mengikat logam berat,” katanya seraya bilang, mikroplastik juga bisa jadi media bagi bakteri pathogen.

 

Ecoton sedang melakukan penelitian di dua sungai di Banjarmasin. Foto: Rahim A/ Mongabay Indonesia
Ecoton sedang melakukan penelitian di dua sungai di Banjarmasin. Foto: Rahim A/ Mongabay Indonesia

 

 

Solusi ?

Prigi menyarankan, pemerintah pusat, provinsi dan kota, segera mengambil langkah serius dalam mengendalikan sumber pencemaran limbah domestik dari permukiman warga yang kerap membuang sampah ke sungai.

Dia melihat persoalan sampah di Banjarmasin sangat kompleks, hingga perlu ada perhatian seluruh stakeholder.

Prigi mengusulkan, ada Tempat Pembuangan Sampah (TPS) dan membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal di beberapa kelurahan agar sungai-sungai di Banjarmasin terjaga. Perlu juga, katanya, ada Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dengan kegiatan pengumpulan, pemilahan, penggunaan ulang, pendauran ulang, pengoalahan dan pemrosesan akhir.

“Mendorong pembuatan IPAL komunal juga penting melalui APBD. Ini memang mahal, apalagi disebut dengan Kota Seribu Sungai,” katanya.

Dalam penanganan sampah di sungai itu, katanya, harus ada alat semisal perahu pengakut sampah (PPS). Dengan itu, pemerintah bisa lakukan sistem destilasi guna mengoptimasi pengurangan sampah plastik yang mencemari sungai.

Juliade, Ketua Perkumpulan Kaoem Telapak Badan Teritori Kalimantan Selatan, mengatakan, sungai di Banjarmasin banyak fungsi dari sumber penghidupan. sarana transportasi sungai termasuk sarana wisata.

Akbar Rahman, Ketua Pengurus Daerah Eco Enzyme Nusantara (EEN) Kalimantan Selatan, geram dengan banyak yang buang sampah sembarangan ke sungai. Sungai di Banjarmasin, katanya, perlu perhatian bersama.

 

 

 

******


Artikel ini bersumber dari : www.mongabay.co.id.

Tinggalkan komentar