Empat Tahun Kepemimpinan Gubernur Bali Wayan Koster dan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Artha Ardhana Sukawati, Ekonomi Kerthi Bali Sebagai Pilar Perekonomian Bali

Diposting pada

Kepemimpinan duet Gubernur Wayan Koster dan Wakil Gubernur Tjok Oka Artha Ardana Sukawati telah membawa Bali ke arah yang lebih baik dengan berbagai program pro rakyat terutama di bidang ekonomu

DENPASAR – Sejak kepemimpinan Gubernur Bali wayan Koster bersama Wakil Gubernur Bali Tjokorda Artha Ardhana Sukawati pembangunan bidang perekonomian, secara genial dibangun melalui Transformasi Ekonomi dengan Ekonomi Kerthi Bali.

Pembangunan perekonomian ini menerapkan konsep perekonomian baru dalam upaya menyeimbangkan struktur dan fundamental perekonomian Bali. Ekonomi Kerthi Bali untuk mewujudkan Bali Berdikari dalam Bidang Ekonomi, dibangun dan dikembangkan berlandaskan nilai-nilai filosofi Sad Kerthi dengan menerapkan 11 (sebelas) prinsip.

Gubernur Wayan Koster mengatakan, Ekonomi Kerthi Bali memiliki 6 (enam) Sektor Unggulan sebagai Pilar Perekonomian Bali. Politisi PDIPasal Desa Sembiran, Buleleng ini menjelaskan pilar perekonomian tersebut; Sektor Pertanian dalam arti luas dengan Sistem Pertanian Organik. Sektor Kelautan/Perikanan. Sektor Industri Manufaktur dan Industri Berbasis Budaya Branding Bali. Sektor IKM, UMKM, dan Koperasi. Sektor Ekonomi Kreatif dan Digital. Sektor Pariwisata berbasis budaya, berkualitas dan bermartabat.

Enam Sektor Unggulan Ekonomi Kerthi Bali merupakan perekonomian yang harmonis terhadap Alam, hijau/ramah lingkungan, menjaga kearifan lokal, berbasis sumber daya lokal, berkualitas, bernilai tambah, berdaya saing, tangguh, dan berkelanjutan.

Ekonomi Kerthi Bali telah dijadikan percontohan dalam transformasi ekonomi nasional oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional RI yang dituangkan dalam dokumen Peta Jalan Ekonomi Kerthi Bali: Hijau, Tangguh, Sejahtera, telah diresmikan oleh Presiden RI, Bapak Ir. Joko Widodo, Jumat (3/12/2021).

Sementara pencapaian Program Reforma Agraria, telah menjadi catatan sejarah pada kepemimpinan Gubernur Bali Wayan Koster bersama Cok Ace. Langkah besar yang sangat bersejarah sebagai pencapaian Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali dalam Bali Era Baru ditandai dengan terobosan berani dibidang Reforma Agraria, yakni berpihak nyata kepada rakyat kecil yang berpuluh-puluh, bahkan sampai ratusan tahun menghadapi masalah pertanahan yang tidak kunjung selesai.

“Astungkara, Titiang dapat menyelesaikan masalah tanah sampai saat ini, total keseluruhannya seluas 463,26 hektare,” ujarnya.

Dari luas tersebut Gubernur Koster menjelaskan 463,26 hektar itu terdiri dari 1.836 sertifikat secara gratis, yaitu: hak kepemilikan tanah warga Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerogak, Kabupaten Buleleng, dengan luas 458,76 hektare, terdiri dari 800 sertifikat untuk tempat tinggal warga dan 813 sertifikat untuk tanah garapan warga.

Baca Juga :   Harta karun ilmu di Pulau Emas

menyelesaikan sertifikat hak kepemilikan tanah tempat tinggal warga Kelurahan Tanjung Benoa, Kabupaten Badung, seluas 2,1 hektare terdiri dari 90 sertifikat. menyelesaikan sertifikat hak kepemilikan tanah tempat tinggal  warga Tukad Unda, Kelurahan Semarapura Kangin, Klungkung seluas 1,3 hektare, terdiri dari 69 sertifikat.

menyelesaikan sertifikat hak kepemilikan tanah tempat tinggal warga Tukad Unda, Kelurahan Semarapura Kelod Kangin, Klungkung seluas 1,1 hektare, terdiri dari 64 sertifikat.

“Kini, warga yang telah menerima sertifikat merasa hidupnya sangat bahagia, telah memiliki kepastian hak milik tanah yang ditempati dan tanah garapan, selama hidupnya secara turun-menurun, karena tidak boleh beralih kepemilikan,” sebut Koster.

Sementara dalam tata kelola pemerintahan, Bali Era Baru ditandai dengan terwujudnya Tata Kelola Pemerintahan Provinsi Bali yang efektif, efisien, transparan, akuntabel, serta bersih dari korupsi, dilakukan reformasi birokrasi, terdiri dari: membangun sistem Pelayanan Administrasi dan Kinerja Kepegawaian berbasis elektronik bagi ASN.

Mengisi jabatan Organisasi Perangkat Daerah secara transparan berbasis kompetensi, dengan sistem merit. Merampingkan Organisasi Perangkat Daerah dari 49 menjadi 38. Menuntaskan tranformasi jabatan struktural ke jabatan fungsional agar birokrasi menjadi semakin profesional, efektif, efisien, dan fleksibel dan memantapkan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik.

Sementara pada penanganan pandemi Covid-19 di Bali semakin membaik dan stabil, ditandai dengan: jumlah kasus baru terus menurun dengan konsisten; jumlah yang masuk ke Rumah Sakit semakin menurun, jumlah yang sembuh semakin meningkat; jumlah yang meninggal mendekati nol (hampir tidak ada yang meninggal). Pencapaian vaksinasi semakin meningkat, vaksinasi ke-1 mencapai 107%, vaksinasi ke-2 mencapai 98%, dan vaksinasi ke-3 (booster) sudah mencapai lebih dari 80%.

Penanganan Pandemi Covi-19 di Bali termasuk dalam kategori terbaik di Indonesia, demikian halnya pencapaian vaksinasi di Bali tercepat dan tertinggi di Indonesia. Pariwisata dan perekonomian Bali pulih dan bangkit kembali Semakin membaik kondisi Pandemi Covi-19 dan tingginya vaksinasi di Bali, telah mampu kembali menjadikan Bali sebagai destinasi wisata yang nyaman, aman, dan kondusif untuk dikunjungi oleh wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara.

Sejak diberlakukan kebijakan tanpa karantina bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali, mulai tanggal 7 Maret 2022, jumlah wisatawan ke Bali melalui pintu Bandara I Gusti Ngurah Rai terus mengalami peningkatan: saat ini, wisatawan domestik sudah mencapai lebih dari 12.000 orang kedatangan per hari, dan wisatawan mancanegara sudah mencapai lebih dari 10.000 orang kedatangan per hari. Demikian juga, jumlah penerbangan internasional yang langsung ke Bali terus bertambah, sampai saat ini telah mencapai 24 maskapai.

Baca Juga :   Ada Dialog Dini Hari sampai Devildice, Ini 5 Rekomendasi Lagu Indie dari Band Asal Bali!

Semakin meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan yang datang ke Bali, adalah keberhasilan berkat keberanian memperjuangkan kebijakan tanpa karantina dan pemberlakuan Visa on Arrival (VOA) untuk 72 negara dan bebas Visa untuk 9 negara ASEAN. Saat ini, jumlah kedatangan wisatawan mancanegara ke Bali telah mencapai lebih dari 50% dari jumlah kedatangan pada situasi normal sebelum Pandemi Covid-19, yang dicapai sejak akhir Juli 2022. Sedangkan jumlah kedatangan wisatawan domestik baru mencapai 40% dari situasi normal sebelum Pandemi Covid-19.

“Pencapaian ini jauh lebih tinggi dan lebih cepat dari target yang direncanakan sebesar 35% pada bulan Desember 2022,”ujarnya.

Gubernur Koster menambahkan, pencapaian yang sangat baik ini juga berkat kepercayaan masyarakat nasional dan internasional terhadap Bali semakin meningkat, sehingga event nasional dan internasional semakin banyak diselenggarakan di Bali, yaitu: pertemuan Konvensi Minamata, pertemuan Parlemen se-Dunia, pertemuan Pengurangan Risiko Bencana se-Dunia, dan berbagai pertemuan internasional sebagai rangkaian Pertemuan Presidensi G20. Meningkatnya kunjungan wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara ke Bali secara langsung telah berdampak pada pemulihan pariwisata dan pemulihan perekonomian Bali, Bali mulai bangkit kembali.

Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan perekonomian Bali yang terus meningkat sejak munculnyaPandemi Covid-19 tahun 2020: tahun 2020, perekonomian Bali mengalami keterpurukan ditandai dengan pertumbuhan negatif (kontraksi), sebesar -9,31%; tahun 2021 dengan pertumbuhan negatif (kontraksi), sebesar -2,47%; tahun 2022 pada Triwulan I dengan pertumbuhan mulai positif, sebesar 1,46%; dan pada Triwulan II dengan pertumbuhan positif sebesar 3,04%. Kita berharap pada Triwulan III akan meningkat mendekati 3,5% dan Triwulan IV sudah mencapai 4%. “Astungkara, badai Pasti akan berlalu,”pungkasnya. (arnn)


Artikel ini bersumber dari : wartabalionline.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *