Ikhtiar Mengembalikan Kejayaan Serabi Sya’ban

Diposting pada

REPUBLIKA.CO.ID, AMBARAWA — Para pengguna jalan yang melintas di Jalan Mgr Soegijapranoto, Ambarawa atau jalur utama Ambarawa-Magelang di lingkungan Kelurahan Ngampin, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, pasti akan mendapati puluhan lapak  penjual serabi di pinggir jalan.

Serabi dengan beragam pilihan varian rasa yang disajikan dengan kuah dari santan yang gurih dan manis dan ditawarkan kepada para pengguna jalan sebagai salah satu jajanan khas Ambarawa ini memang bukan sekadar kudapan biasa.

Lebih dari itu, serabi Ngampin merupakan bagian tradisi leluhur warga setempat yang memiliki sejarah panjang dan sarat dengan nilai religi, karena hanya ada di bulan Sya’ban atau bulan bershalawat kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Namun tradisi serabi Ngampin ini sudah lama hilang ditelan zaman. Popularitas sebagai jajanan khas kawasan setempat telah ‘mengubur’ cerita serabi sebagai bagian dari kearifan tradisi budaya yang sarat dengan nuansa religi bagi warga Ngampin.

Kini upaya untuk menggali dan  melestarikan kembali tradisi serabi Ngampin diinisiasi oleh warga RW 03, lingkungan Lonjong, Kelurahan Ngampin, melalui hajat Festival Serabi Klasik, yang dilaksanakan di lingkungan mereka, Ahad (14/8) kemarin.

“Dahulu, serabi ini merupakan penganan khas, yang hanya dibuat setahun sekali setiap bulan Sya’ban oleh para leluhur warga Nampin ini,” ungkap Paisah (64), salah seorang warga lingkungan Lonjong, Kelurahan Ngampin.

Namun sejak 2000 lalu, tradisi serabi Ngampin ini sudah tidak ada lagi di lingkungan kelurahannya dan warga juga jarang membuat serabi asli (klasik) yang sebelumnya menjadi ciri khas dan hanya ada setiap bulan Sya’ban.

Serabi Ngampin yang asli, jelasnya, tidak disajikan dengan kuah olahan santan seperti halnya serabi yang saat ini jamak dijual di pinggir jalan utama/jalan raya Ambarawa-Magelang, namun hanya serabi yang dibungkus dengan menggunakan daun pisang.

Baca Juga :   Pemkab OKU Luncurkan Pasar Emak Talang Jawa

Selain itu juga hanya ada dua rasa asli, yakni rasa manis gula aren yang berwarna merah serta rasa gurih dan hampir tidak tersa manis yang berwarna putih. “Belum seperti serabi yang ada sekarang yang memiliki banyak varian rasa dan dimodifikasi dengan toping beragam buah,” jelasnya.

Hal ini diamini oleh Ketua RW 03 Kelurahan Ngampin, Aldila Nur Afandi. Menurutnya, serabi Ngampin yang asli tidak seperti serabi yang saat ini jamak dijajakan warga Ngampin di pinggir Jalan Mgr Soegijapranoto Ambarawa.

Bahkan serabi Ngampin yang asli hanya memiliki dua cita rasa yang khas. “Maka hasil rembug warga di lingkungan kami telah menyepakati untuk menghidupkan kembali tradisi Serabi Ngampin,” ujar dia.

Dahulu, lanjut Afandi, serabi Ngampin menjadi ciri khas tradisi Sya’banan masyarakat yang ada di Ambarawa dan sekitarnya. Pada 14, 15, dan 16 Sya’ban memiliki tradisi mandi untuk membersihkan diri di Kali Condong, di wilayah Kecamatan Jambu.

Pada tiga hari itu banyak warga dari Ambarawa yang berjalan menuju Kali Condong di Jambu melalui Kelurahan Ngampin, untuk merayakan Sya’banan.

Pada momentum Sya’banan itu, warga/masyarakat yang pulang dari Kali Condong mampir di wilayah Ngampin ini untuk membeli serabi yang dijajakan warga. “Karena Ngampin memang berada di tengah, antara Ambarawa dengan Jambu,” ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, serabi pun mulai dijajakan saban hari walaupun bukan di bulan Sya’ban, sampai dengan saat ini. Di satu sisi, kebiasaan membuat serabi di bulan Sya’ban pun semakin lama juga semakin ‘luntur’.

Maka ikhtiar untuk mengembalikan tradisi tersebut dimulai dengan kegiatan festival serabi klasik bertepatan dengan momentum merti dusun Lonjong tahun 2022 kali ini. Kegiatan festival ini juga dirangkai dengan kegiatan sarasehan dengan tema spesifik menggali serabi klasik.

Baca Juga :   Bukit Sikepel, Wisata Purworejo Yang Hits, Dan Edukatif

Selain menghadirkan para tokoh sesepuh warga Ngampin, sarasehan ini juga mengundang pamong budaya maupun para pemerhati sejarah di Ambarawa. Tujuannya tak lain untuk mengangkat dan menghidupkan kembali tradisi serabi Ngampin yang lebih dari dua dekade terakhir telah ‘hilang’.

“Mungkin, hari ini baru lingkungan Lonjong yang mengawali, kami berharap festival serabi ini dapat digelar di tingkat Kelurahan Ngampin ini, sehingga tradisi yang lama meredup bisa hidup kembali,” tegas Afandi.

Artikel ini bersumber dari : republika.co.id.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari Travelling.Web.id di Google News

  • Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *