Keistikamahan Warga Kampung Ledre Bojonegoro, Menolak Lumpuh Pascapandemi

Diposting pada

jatimnow.com – Seorang ibu dengan tubuh membungkuk menatapi tungku api yang disiapkan untuk membuat jajanan Ledre. Bentuk tubuhnya jadi seperti nyiur melambai, tetap kokoh meski diterjang badai.

Puluhan tahun ia istikamah membuat jajanan tradisional khas Bojonegoro di sudut dapur sederhananya. Jatuh bangun ia lalui dengan tetap setia membuat Ledre.

Tungku tanah yang dipakai sengaja disejajarkan dengan dingklek, sebuah kursi kayu tua. Tangan kanannya sibuk dengan adonan tepung, air, dan gula.

Dengan telaten ia mengedre-edre adonan tepung dan pisang ke dalam wajan. Panas dari arang yang membara dalam tungku tanah liat seolah tak dirasa. Ia terus mengolah adonan itu menjadi Ledre.

Sesekali, daster tua yang dipakai, juga ia gunakan untuk mengusap bulir keringat. Ekspresi wajahnya tak bisa bohong, ia nampak lelah.

Matanya fokus pada satu titik menaruh harapan dan menunggu adonan yang ia masak segera matang dan menjadi kulitan Ledre dengan sempurna. Ia angkat dan digulung selagi panas.

Ya, dia adalah salah satu pembuat Ledre di Padangan bernama Isbakti. Demikian wisatawan memanggilnya. lsbakti ternyata singkatan dari Isnariati istri dari Bakti yang tinggal di RT 05 RW 02.

Padangan merupakan tempat Ledre dilahirkan. Kampung itu dijuluki sebagai Kampung Ledre. Ledre memiliki bentuk gulungan dengan tekstur kering, renyah, dan bercita rasa manis lengkap dengan aroma pisang raja.

Ledre masih tetap eksis hingga sekarang. Keaslian rasa khas pisang raja masih diminati para pelancong saat datang ke Bojonegoro, bahkan hingga menjadi buah tangan untuk dibawa pulang.

Di Padangan, produksi Ledre telah menyebar hingga ke rumah-rumah. Saat pandemi Covid-19, produksi Ledre sempat tersendat karena sepi pembeli. Faktornya jelas, aktivitas wisata lumpuh.

Selama 26 tahun sudah Isbakti menjaga gulungan Ledre khas Bojonegoro tetap bertahan dan eksis. Selain tak memiliki keahlian lain, dirinya mengaku Ledre merupakan jajanan sakral warisan leluhur Desa Padangan yang wajib ia jaga kelestariannya.

“Dulu belajar membuat ledre dari ibu. Nah, ceritanya ibu itu dulu belajarnya sama Mak Min Tjie,” ucap Isbakti saat ditemui jatimnow.com, Minggu (25/9/2022) lalu.

Isbakti bercerita tentang sulitnya memperjuangkan Ledre tetap bisa diproduksi tanpa mengurangi komposisi bahan, untuk menjaga kualitas rasanya. Cara membuatnya pun masih ia pertahankan dengan cara tradisional, seperti yang diajarkan sang ibu kepadanya.

Beruntung, jatimnow.com diberikan kesempatan untuk melihat langsung proses pembuatan Ledre dari dapur tradisionalnya. Berbekal lumpang berbahan tanah, Isbakti memulainya dengan membakar arang. Ya, Isbakti tak menggunakan kompor gas atau kompor minyak, ia masih setia dengan cita rasa khas Ledre yang dibakar menggunakan arang.

“Rasanya beda kalau pakai kompor, dari ujung ke ujung matangnya nggak bareng (sama),” ucap Isbakti.

Ibu dua anak itu mengaku, Ledre yang ia produksi tidak dipasarkan di toko oleh-oleh di Bojonegoro. Namun, pembeli setianya yang mendatanginya ke rumah.

Waktu memasak Ledre pun tiba. Setelah adonan ia siapkan dan arangnya mulai menyala, tiba saatnya wajan ia letakkan di atas tungku. Peletakan wajan pun nampak tak biasa, Isbakti meletakkannya dengan berdiri.

Menurut Isbakti, wajan yang dipakai untuk Ledre harus wajan khusus yang tebal dan terbuat dari besi, bukan alumunium seperti wajan pada umumnya.

“Namanya wajan wojo, di pasaran nggak ada, ini harus pesan di tempat khusus,” terangnya.

Sembari memasak adonan Ledre, Isbakti pun melanjutkan ceritanya tentang kesetiaannya menjaga tradisi menggulung Ledre sebagai jajanan khas Bojonegoro.

Sebelum pandemi Covid-19 menghantam seluruh dunia, khususnya Bojonegoro, omzet yang ia hasilkan dari Ledre cukup fantastis. Angkanya tak ingin ia bocorkann Namun berkat Ledre, ia sukses menyekolahkan kedua putranya hingga sekarang.

Dalam sekali sesi produksi, Isbakti mengaku bisa membuat 10 kantong Ledre, yang setiap kantongnya ia isi 10 biji Ledre. Saat dijual, satu kantong ia hargai Rp10 ribu. Sehingga, jika sekali produksi 20 kantong maka dikalikan 10 ribu, hasilnya Rp200 ribu sekali produksi.

“Ya kalau sore gini mentok 10 plastik. Pagi pengen buat ya buat, nggak ya nggak, pagi itu bisa membuat 10 bungkus. Buatnya sendiri saya,” sambung Isbakti.

Baca Juga :   6 Jenis Getuk Legendaris, dari Legitnya Getuk Lindri hingga Nikmatnya Getuk Goreng Halaman all

Saat pandemi, penjualan Ledre ia akui sangat sepi. Hampir enam bulan ia tidak produksi sama sekali pada awal pandemi tahun 2020. Namun, nasib berkata lain, perlahan pelanggan setianya yang dari luar daerah seperti Semarang, Rembang, hingga Kalimantan mulai menanyakan Ledre tradisional yang ia buat.

“Buat lagi, tapi ya nunggu pesanan, trus pelan-pelan dilebihi buatnya kalau ada yang nanya dijual nggak ada ya disimpan,” bebernya.

Meski sempat lesu, Isbakti mengaku yakin rezeki Ledre memiliki jalannya sendiri. Dan benar saja, diantara produsen lain, Isbakti mengakui jika Ledre yang ia buat selalu memiliki penggemarnya (langganan).

Ia mengaku, tak ingin pasrah dengan keadaan pandemi Covid-19. Ia menolak jika ekonominya harus dilumpuhkan. Ikhtiar selalu ia lakukan setiap hari demi menyambung hidup dan kelangsungan pendidikan kedua putranya.

Perjuangannya pun membuahkan hasil, setiap menjelang Lebaran Idul Fitri, Natal dan hari besar lainnya, ia selalu kebanjiran order hingga kuwalahan, jajanan Ledre sering kali nangkring di meja menjadi suguhan para tamu yang tengah merayakan hari besarnya.

“Pokok e nggawe ngunu ae, selagi gedang enek, areng enek wes ayem pokok bakul Ledre ( Pokoknya bikin aja, selagi pisang ada, arang ada tenang produsen ledre),” kata Isbakti.

Produsen Ledre yang lain, di kawasan Pecinan Desa yang sama di RT 03 RW 01, bernama Umi (46). Selama 25 tahun sudah Ledre menjadi penghasilan utama bagi dia. Sejak tahun 1997, awal ia menikah, hingga kini dikarunia seorang cucu, dari satu putranya, Umi berjualan Ledre.

Namun, berbeda dengan Isbakti, Umi tak hanya produksi jajanan Ledre saja. Ia juga memproduksi berragam jajanan khas Bojonegoro lainnya, hingga menjadi langganan Bupati Bojonegoro saat ini Anna Mu’awwanah.

Baca juga:
5 Kuliner Lamongan, Kelezatan Melegenda sejak 1898

Di rumahnya, dibantu sang ibu, Umi juga memproduksi unthuk yuyu, gapit kluntung, keripik pisang dan dolar sebutan warga lokal pada emping yang terbuat dari tepung terigu, wijen dan gula.

Cara pembuatan Ledre miliknya pun sama dengan Isbakti. Yang membuat berbeda, Umi lebih berani untuk mengkreasikan cita rasa Ledre, dan kemampuannya yang lebih bisa produksi dengan jumlah yang lebih besar.

Selain original rasa khas pisang raja, Umi memproduksi Ledre dengan cita rasa coklat, susu, mentega hingga durian.

“Untuk produksi setiap hari buat 20 bungkus. Kalau di setor ke pengepul dihargai Rp8 ribu, kalau di jual sendiri Rp12 ribu sampai Rp15 ribu. Kalau mau dijual lagi beli langsung ke saya Rp10 ribu,” ucap Umi.

Selama pandemi Covid-19 tahun 2020, Umi mengaku produksi jajanan khas Bojonegoro itu sempat ia hentikan selama satu tahun. Faktornya sama, karena tidak ada pembeli di toko oleh-oleh dan sepi pesanan. Padahal, sebelum Pandemi pengiriman Ledre miliknya bisa hingga Blora, Madiun hingga Jakarta.

“Kalau kirim ke sana (Jakarta) biasanya dikirimkan dengan kereta,” katanya.

Kemudian memasuki tahun 2021, ia memilih nekad produksi Ledre kembali. Dengan ikhtiar yang kuat Umi mencoba setor kepada toko-toko yang sering ia titipi, dengan harapan setiap pulang bisa mendapat rupiah untuk belanja bahan selanjutnya dan menyisakan sedikit untuk membeli beras.

“Nekat, kan kalau Ledre setiap setor itu langsung pulang bawa uang. Lalu belanja bahan, sisanya baru beli beras. Enaknya bikin Ledre bisa nerima uang secara langsung, tinggal keinginan produksi,” terang Umi.

Hingga akhirnya, beberapa bulan kemudian harapannya pupus lantaran toko memaksakan Umi untuk tidak menyuplai dagangannya sementara.

Menurut Umi, para toko oleh-oleh sengaja menolak karena sepinya pembeli. Hingga ratusan boks produk Ledre sempat dibuang karena mendekati batas kedaluarsa.

Hal itu membuat Umi sempat down beberapa pekan dan tak memproduksi Ledre kembali. Karena, saat membuat Ledre, perlu kondisi fisik dan batin yang sehat.

“Bikin ledre tergantung mood, kalau hati sedang susah ya nggak jadi,” katanya.

Hari-hari Umi pun beralih untuk berjualan lontong lodeh, kopi dan gorengan. Ia membuka lapaknya memakai meja seadanya beratapkan terpal (tirai) dihalaman tetangga. Hari-hari ia lalui dengan ratapan cemas, tentang kapan Pandemi Covid-19 berakhir.

Tak berselang lama, konsumen setianya dari Blora menghubunginya dan langsung memesan dalam jumlah yang besar. Bahkan, mau untuk memberikan modal awal untuk Umi belanja bahan baku ke pasar.

Baca Juga :   Makanan Khas Jombang yang Populer, Nagih dan Wajib Dicoba

“Sampai 5 juta, baik banget, orang itu,” kata Umi.

Semangat Umi perlahan mulai kembali, ia kembali meracik adonan Ledre, membakar arang, dan mulai menyepi di sudut dapur sederhananya untuk mengolah Ledre terbaik yang bisa ia produksi

Baca juga:
Cerita Pedagang Jajanan Jadul Arbanat, Kayuh Sepeda hingga 20 Km di Jombang

Semangat Umi pun kembali untuk melestarikan jajanan khas Bojonegoro itu. Produksi Ledre tetap ia lakukan ketika pesanan datang, ia lakoni hal itu terus menerus disela ia menjaga warung barunya. Hingga pada akhir akhir 2021, toko-toko yang biasa menerima Ledre buatannya kembali memberi kabar jika dirinya bisa kembali setor.

“Omzet sendiri selama Corona sampai tidak ada penghasilan, karena diliburkan gak ada yang beli. Kalau omzet sekarang tidak pernah menghitung pokoknya setiap hari produksi sebanyak 20 bungkus kalau disetor ke pengepul dapat Rp160 ribu per harinya,” jelasnya.

Kini, aktivitasnya produksi Ledre mulai kembali pulih. Toko-toko mulai menerima. 20 rumah produksi di Desa Padangan pun kembali bekerja seperti sedia kala. Mereka memulainya setiap pagi setelah subuh dan biasanya mereka ulang pada sore harinya.

“Kalau orang yang produksi ledre di Desa Padangan sendiri kurang lebih ada 20 orang,” tandas Umi.

Kisah Ledre jadi jajanan khas Bojonegoro

Ledre merupakan jajanan khas yang lahir dari Desa Padangan. Pada zaman dulu, Ledre merupakan makanan yang mahal dan hanya bisa dinikmati keturunan ningrat dan kaya raya. Masyarakat umum hanya bisa menikmatinya saat hari-hari besar saja, Idul Fitri, Natal, dan Hari-hari besar lainnya.

Ledre dipercayai warga Bojonegoro akan menjadi jajanan lintas zaman. Ledre lahir pada tahun 1960 dari tangan seorang warga Tiongho yang bernama Mak Min Tjie. Situs resmi milik Pemkab Bojonegoro juga menulis Ledre mulai dibuat sejak penjajahan beralih ke Jepang.

Dari dulu, Ledre dibuat dengan bahan baku tepung gaplek yang ditumbuk dan terigu. Bedanya sekarang masyarakat Padangan bisa membelinya secara instan dengan mengguanakan tepung tapioka yang banyak tersedia di toko-toko

Keturunan kedua Mak Min Tjie yang masih ada adalah Chi Eka Darmayanti (75). Ia istri dari Seger, yang merupakan putra tunggal Mak Min Tjie. Chi Eka Darmayanti biasa disapa warga dengan sebutan Mak Seger.

“Ledre dulu sama sekarang beda, kalau zaman dulu Ledre terbuat dari pati gaplek (singkong yang dikeringkan) soal e belum ada tepung tapioka, terus belum ada feneli (perisa fanila). Awalnya otodidak bagaimana caranya membuat olahan jadi penganan,” ujar Mak Seger.

Nama Ledre juga berasal dari cari pembuatannya, yakni diedre-edre, sebagian warga lokal juga menamai tekniknya dengan cara melotek. Sebelum menjadi Kampung Ledre seperti sekarang, Desa Padangan merupakan desa yang biasa, mayoritas warga bertani layaknya orang desa pada umumnya.

Seiring berjalannya waktu, Ledre makin diminati. Beberapa daerah tetangga seperti Blora dan Cepu mulai memesan kepada Mak Min Tjie. Hingga pada suatu saat warga mulai ingin belajar ikut untuk membuat. Lahirlah istilah Kampung Ledre di Padangan, karena mayoritas membuat jajanan tersebut.

Umur Mak Min Tjie semakin menua, ia pun mewariskan resep Ledre kepada putra tunggalnya Seger dan Bu Seger. Sedangkan Mak Min Tjie memilih untuk menjadi suplier Ledre warga.

“Zaman dulu waktu saya kecil jualan Ledre wadahnya masih menggunakan koran yang ditali damel gedebok pisang. Jadi tidak ada blek (toples), bar (setelah) koran niku baru damel blek, terus terakhir damel dus (kardus), enten seng nyablon (ada yang disablon), terus berubah damel dus (menggunakan kardus),” jelas Mak Seger.

Ledre resep asli Mak Min Tjie bisa ditemui di rumah lamanya yang kini ditinggali Mak Seger. Menuju rumahnya harus masuk pada salah satu gang di barat Jembatan Padangan-Kasiman. Di sana, banyak plang yang menunjukkan jualan Ledre. Namun, Ledre legendaris hanya bisa didapat dari rumah Mak Min Tjie atau yang sekarang terkenal Ledre Ny Seger.


Artikel ini bersumber dari : jatimnow.com.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari Travelling.Web.id di Google News

  • Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *