Ketika Mantan Walikota Tinggalkan ‘Luka’ di Pasar Boswesen – Suara Papua

Diposting pada

SORONG, SUARAPAPUA.com — Sikap tegas pemerintah kota Sorong, Papua Barat, menggusur pasar dan seluruh lapak jualan di pasar Boswesen dianggap tidak bijak. Para pedagang di pasar tradisional itu menyebutnya sebagai upaya menutupi luka yang ditinggalkan mantan walikota Sorong.

Hari itu, Rabu (28/9/2022), pasar Boswesen lenyap. Pasar bersejarah itu kini tinggal nama dan kisahnya saja.

Derai air mata mama-mama penjual hasil bumi mengiringi penggusuran pasar yang dikawal ketat aparat keamanan.

Mereka sangat marah menyaksikan tempat mengais rezeki dihancurkan sekejab.

“Kamu yang jamin kitong punya hidup kah? Kamu tra tau malu. Datang hancurkan tempat jualan. Ini tempat kami cari seribu dua ribu untuk biayai anak-anak kami. Kalian berdosa besar,” umpat mama-mama begitu lapaknya dihancurkan siang itu.

Penjabat Walikota Sorong bersama Kapolres dan Dandim saat melakukan koordinas dengan pedagang di pasar Boswesen agar segera pindah ke pasar modern Rufei sebelum proses penggusuran. (Reiner Brabar – SP)

“Siapa yang mau ke kamorang punya pasar modern sana? Orang-orang lebih suka belanja di sini. Kenapa kalian terlalu biadab? Harusnya datang bicara baik-baik, bukan langsung main gusur,” ujar mama Siska Bless, salah satu pedagang di pasar Boswesen, sembari menahan isak tangis.

Mama Siska bahkan dengan tegas bilang tidak akan pindah berjualan di tempat lain, termasuk pasar modern Rufei.

Upaya penggusuran hingga permintaan wajib relokasi ke pasar modern yang disampaikan selama ini terus saja ditentang.

Mama Lenny Wihyawari, salah satu pedagang di pasar Boswesen sejak tahun 1984, menceritakan, tindakan penggusuran pasar bukan baru kali ini saja.

Sudah beberapa kali digusur, para pedagang menurutnya cenderung bertahan. Mereka memilih melanjutkan aktivitasnya di pasar lama itu.

“Dulu pak walikota pernah turun dan gusur pasar ini, tetapi kami kembali bangun dan berjualan lagi,” kata Lenny kepada suarapapua.com di sela-sela penggusuran pasar Boswesen.

Aksi protes mama-mama pedagang usai pasar Boswesen digusur, Rabu (28/9/2022) pagi. (Reiner Brabar – SP)

Kehilangan Rezeki

Mama Lenny bersama mama Siska dan teman-temannya lebih memilih berjualan di pasar lama karena tidak sepakat dengan kebijakan pemerintah daerah. Kebijakannya dianggap sepihak tanpa ada koordinasi yang baik.

“Waktu itu karena bapak walikota mau turun, jadi kami dipaksa pindah ke pasar modern Rufei. Mobil saja belum diatur trayeknya sampe sekarang, belum lagi masalah keamanan di sana,” kata Lenny.

Tiada solusi terbaik. Ia sangat kecewa terutama kepada walikota Sorong bersama jajarannya yang tidak peduli sama suara hati mama-mama pedagang.

Aspirasi mereka didukung pihak lain yang menaruh simpati terhadap kondisi pedagang asli Papua.

Baca Juga :   Rekomendasi Toko Oleh-oleh di Jambi, Jual Snack, Souvenir hingga Batik Jambi

Mirisnya, kata Lenny, hingga masa jabatan berakhir, walikota tinggalkan ‘luka’ yang kemudian berlanjut dengan upaya paksa relokasi pedagang ke pasar modern Rufei.

Mama Lenny mau penjabat walikota datang berembuk dengan para pedagang di pasar Boswesen sebelum lakukan penggusuran paksa dengan menurunkan ratusan aparat keamanan.

“Walikota sudah paksa kami pindah, tetapi tidak berhasil. Pak penjabat ini harusnya datang dan tanya 30 atau 50 orang pedagang maunya seperti apa, bukan langsung main paksa begini. Kami ini pedagang, bukan penjahat, sampai harus datang dengan polisi dan tentara banyak-banyak untuk paksa kami pindah,” tuturnya dengan nada kesal.

Mama-mama sedang berjualan di pasar Boswesen, kota Sorong, provinsi Papua Barat. (Maria Baru – SP)

Dari sejak lalu mama-mama sempat berjualan dari pasar modern Rufei. Sepi pembeli hingga merugi, mereka terpaksa kembali ke pasar lama.

Mama Novi Rumbino mengaku kurang lebih tiga kali berjualan di pasar modern Rufei, tetapi sepi pembeli. Jualannya tidak laku hingga dibuang akibat sebagian membusuk. Mereka rugi modal.

“Di pasar modern trada pembeli. Kami rugi sekali. Sudah tiga kali kami pindah dan jual dari sana,” kata Novi.

Memilih kembali ke pasar Boswesen baginya solusi terbaik. Sebab, siapapun tidak mungkin mau menerima kerugian atas jerih payah. Apalagi satu-satunya sumber rezeki keluarga adalah berjualan di pasar.

“Kami butuh makan, belum lagi anak-anak kami punya kebutuhan sekolah. Modal dari pedagang ini kebanyakan pinjam di koperasi. Jualan tidak laku, terus bagaimana bisa tutup pinjaman? Kami mau dapat apa kalo seperti begitu. Pemerintah harus pahami ini,” tuturnya.

Novi juga ingatkan, pemerintah tidak boleh gegabah dalam pengambilan kebijakan.

Pasar sebagai sumber ekonomi keluarga harus diperhitungkan dengan matang.

Cinta Boswesen

Kendati lapaknya telah digusur, sejumlah pedagang enggan pindah tempat jualan. Apalagi ke pasar modern Rufei.

Mereka seperti sudah jatuh hati sama pasar Boswesen.

Maklum, sudah cukup lama mereka berjualan di pasar tradisional yang ada di jantung kota Sorong.

“Ah, kitong tetap di sini saja. Kami tra mau pindah biar dorang paksa juga,” ujar mama Bless.

Seorang bapak tetap berjualan walaupun pasar sudah dibongkar. Lokasi pasar ikan yang dibongkar beberapa waktu lalu. (Maria Baru – SP)

Mama Regina Asmuruf juga senada, tidak akan bergeser ke pasar modern Rufei.

Tetap berjualan di tempat lama. Alasannya, bila pindah ke pasar modern yang dipaksakan pemerintah, tidak ada keuntungan. Barang jualan tidak laku dibeli. Tiap hari pembeli minim. Tidak seramai di pasar Boswesen.

“Pemerintah jangan larang dan batasi. Jangan perlakukan kami seperti binatang. Kami ini manusia. Kami butuh hidup. Di sini kitong tetap lanjut jualan,” tegasnya.

Baca Juga :   Kunjungan Kerja Kapolda Papua Barat Di Makodim 1802/Sorong – Pelopor Wiratama

Mama Siska dan mama Regina seperti mama Lenny, sudah puluhan tahun berjualan di pasar Boswesen.

Sepanjang hidupnya ada di pasar ini. Aktivitas tiap hari berjualan di pasar ini.

Pasar Boswesen adalah rumah kedua bagi mereka. Tempat mencari nafkah hidup.

Hasil jualan untuk menyokong kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya. Tak terkecuali biaya buat pendidikan anak-anak mereka.

Pasar Khas Papua

Lantaran harus bersandarkan dari hasil jualan, para pedagang sempat berkali-kali minta agar pasar Boswesen sebagai pasar bersejarah di daerah ini tidak perlu ditiadakan.

Kepada pemerintah daerah mereka desak untuk ada solusi terbaik buat mama-mama Papua berjualan dengan nyaman. Bukan justru gusur dan paksa pindah ke pasar lain.

“Sudah banyak kali kami minta supaya pasar ini direnovasi. Kalau gusur itu bukan solusi,” ujar Siska.

Mama-mama Papua sedang berjualan di pasar Boswesen. (Maria Baru – SP)

Mama Regina, Lenny dan mama-mama lain juga masih satu sikap. Solusi yang kembali disuarakan saat prosesi penggusuran terakhir, Pemkot Sorong harus bangun pasar khusus bagi mereka.

“Daerah lain sudah bangun pasar mama-mama Papua, kenapa Sorong trada pasar khusus untuk kami? Mama-mama Papua butuh pasar,” teriak Regina.

Aspirasi tersebut mestinya tidak diabaikan. Mereka mau, pasar Boswesen dijadikan sebagai ikon pasar lokal Papua.

Seperti diusulkan mama Lepina Duwit, pedagang bahan lokal yang cukup lama berjualan di pasar Boswesen. Ia mau nama besar pasar bersejarah itu tidak hilang begitu saja.

“Pasar ini sebaiknya ditata bagus atau sekalian bangun gedung baru supaya nanti dijadikan pasar khusus mama-mama Papua jualan khas lokal saja,” usulnya.

Usulan ini seakan angin berlalu. Komitmen pemerintah tetap tak berubah. Seluruh pedagang wajib berjualan dari pasar modern Rufei.

Masalahnya, apakah semua sudah setuju pindah?

Pasar modern Rufei Sorong, Papua Barat. (Maria Baru – SP)

Pasar Boswesen terletak di jalan Yos Sudarso kampung Rufei. Tiap hari para pedagang dari beberapa daerah, termasuk juga yang dari pulau-pulau biasa ada di sana.

Mereka saban hari menjajakan hasil usahanya. Pembeli pun selalu ramai berkunjung.

Jikapun kini ada pasar modern, pembeli lebih suka mendatangi pasar tradisional itu.

Aktivitas jual beli dimulai sejak tahun 70-an. Sudah setengah abad lebih. Pasar Boswesen memang pasar bersejarah di kota Soarong.

Pewarta: Reiner Brabar
Editor: Markus You

Print Friendly, PDF & Email


Artikel ini bersumber dari : suarapapua.com.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari Travelling.Web.id di Google News

  • Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *