Komunitas Jalansutra, Pak Bondan, dan Makan yang Mencerdaskan Lidah

Diposting pada

Komunitas Jalansutra saat menggelar Writing-Travel-Food di Kuningan, Jakarta Selatan. (KOMUNITAS JALANSUTRA UNTUK JAWA POS)

Tempat Bercerita Pengalaman Bersantap, dari Bintang Lima sampai Kaki Lima

Bondan Winarno mengajak para anggota Komunitas Jalansutra menjadi pencerita makanan yang baik. Dengan mencermati, merasakan, dan merekam memori selama menyantap hidangan menggunakan seluruh pancaindra.

AGAS PUTRA HARTANTOJakarta

BAGI Lidia Tanod dan kawan-kawannya di Komunitas Jalansutra, Bondan Winarno adalah kepala suku.

Pria yang menyebut dirinya promotor kuliner dan identik dengan slogan ”pokok’e mak nyus” itu mengajarkan untuk tak sekadar makan enak. Tapi juga mencerdaskan lidah.

Bondan memang telah meninggal pada 29 November 2017, tapi para anggota Komunitas Jalansutra masih mengingat benar ajaran penulis kelahiran Surabaya pada 29 April 1950 tersebut untuk menjadi food storyteller (pencerita makanan) yang baik. Mencermati, merasakan, dan merekam memori selama menyantap hidangan dengan menggunakan seluruh pancaindra.

”Kami diminta Pak Bondan untuk menulis tentang pengalaman kuliner masing-masing. Ada juga yang menceritakan dari bangun tidur, menempuh perjalanan berapa lama untuk sampai ke lokasi, situasi tempat makan,” beber Lidia yang merupakan moderator Komunitas Jalansutra kepada Jawa Pos.

Komunitas tersebut berdiri pada 2003. Bermula dari 20 orang. Mereka merupakan pembaca setia kolom kuliner Jalansutra Bondan Winarno di sebuah surat kabar nasional.

Kemudian, mereka membentuk grup diskusi daring untuk saling bercerita. Tentang pengalaman bersantap dan belajar mengenal kuliner Nusantara. Mulai bintang lima sampai kaki lima.

Seiring berjalannya waktu, anggota Jalansutra terus bertambah. Dari tulisan yang ringan, lambat laun anggota komunitas semakin mahir. Mengaitkan sebuah hidangan dengan pengaruh budaya setempat. Seperti yang pernah dilakukan Lidia saat berkunjung ke Sumatera Barat.

Rendang menjadi tujuan wisata kulinernya. Nyatanya, dia menemukan bahwa masakan rendang di setiap wilayah kota/kabupaten memiliki cara mengolah masing-masing. ”Rendang di Kota Padang, Bukittinggi, dan Agam, misalnya, itu berbeda cara mengolah dan komposisi bumbunya,” ungkapnya.

Baca Juga :   Resmi Dilantik, Seknas Puan DKI Siap Sosialisasikan Puan Maharani ke Masyarakat

Dia juga berkesempatan mengunjungi Restoran Nasi Kapau Uni Cah di Banuhampu, Kabupaten Agam. Ketika banyak pemilik usaha yang menutup-nutupi dapur dan resepnya, di rumah makan itu Lidia justru diajak masuk ke dapur restoran.

”Ternyata mereka masih mempertahankan masak menggunakan kayu, kemudian di atasnya digantung daging sapi untuk dibuat dendeng. Memang butuh waktu lama. Tapi, hasil masakannya luar biasa,” jelasnya.

Lidia bersama Bondan dan Harry Nazarudin menyusun seri buku 100 Mak Nyus. Terbit pada 2013, buku tersebut berisi catatan kuliner khas 23 provinsi di Indonesia.

Isinya penjelasan umum ciri khas sajian di sebuah wilayah, deskripsi hidangan, resep, dan rekomendasi tempat makan. Pengumpulan data, riset, dan liputan dimulai sejak 2011. Edisi 100 Mak Nyus juga terbit dengan versi lain. Yakni, 100 Mak Nyus Jakarta, Bali, dan Joglosemar (Jogja, Solo, Semarang).

Bukan hanya buku, Jalansutra turut melahirkan sejumlah pakar atau ahli kuliner. Misalnya, pakar wine Yohan Handoyo dan pakar teh Ratna Somantri.

”Bulan lalu kami mengadakan kegiatan pairing wine dengan sejumlah makanan di Hotel Artotel, Thamrin, Jakarta. Dari situ kita diskusi dan sharing. Mana makanan yang cocok, mana yang kurang, mana yang tidak pas sama sekali,” terang Lidia.

Pada 2019, saat merayakan ulang tahun ke-16, Jalansutra menggelar acara WTF, yakni Writing-Travel-Food. Tema yang diangkat adalah Disrupsi Kuliner Indonesia.

Dibahas di ajang tersebut penggunaan teknologi aplikasi oleh kalangan milenial dan eksistensi warung-warung jika tanpa fitur pesan antar makanan dalam aplikasi ojek online (ojol). Sejumlah pelaku kuliner turut diundang untuk memberikan pandangan.

Kegiatan yang digelar di Accelerice, Kuningan, Jakarta Selatan, itu menyiapkan berbagai kelas kuliner yang diikuti 16–20 peserta. Meliputi traditional food storytelling, chocolate and tea pairing, wine making, dan tradisi bajamba dinner.

Baca Juga :   Wisata Jambi Night Market, Destinasi Kuliner yang Sedang Viral di Kota Jambi

Saat ditemui Jawa Pos, Lidia mengajak ke Levant Boulangerie. Sebuah kafe pastri ala Prancis. Kroisan dan kopi adalah menu yang kami pesan. Kroisan merupakan salah satu pastri yang sulit dibuat. Memiliki lapisan-lapisan tipis dan berongga yang dihasilkan dari proses melipat adonan.

”Rongga adonan yang bagus membentuk seperti honeycomb crumb atau seperti sarang lebah. Itu berarti kroisan yang bagus,” timpal Frelon Drijono, anggota Jalansutra lainnya.

Dia juga bercerita, masih teringat saat dirinya kali pertama masuk komunitas. Bondan Winarno menantangnya untuk menulis dan bercerita. Semampunya.

Dia menceritakan perbedaan sup dan soto. Menurut dia, sup lebih sederhana dari cara masak, bahan, dan cita rasa ketimbang soto. ”Sup masuk-masukin bahan apa aja masuk. Sedangkan soto, tidak semua bahan masakan masuk. Dan masaknya gak dicemplungin jadi satu,” jelasnya.

Menurut Frelon, menjadi anggota Jalansutra tak hanya diajak untuk sekadar makan enak. Tapi mencermati cita rasa yang ada. Melatih palet lidah. ”Makanya, istilah Pak Bondan itu mencerdaskan lidah. Sehingga bisa menjelaskan apa yang dirasakan,” imbuhnya. (*)

Artikel ini bersumber dari : news.batampos.co.id.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari Travelling.Web.id di Google News

  • Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *