Kuliner Tradisional Unggulan Bisa Belajar dari Negara Lain – Zonanusantara.com

Diposting pada

Susan

Catatan Setiawan Liu 

Perwakilan Indonesia untuk International Treaty On Plant Genetic Resources For Food And Agriculture (ITPGRFA), Mastur melihat prospek kuliner tradisional unggulan daerah go international, sambil belajar dari negara lain yang sudah lebih dulu berhasil.

“Kita bisa belajar dari masakan China, Jepang, Korea dan lain sebagainya yang sudah lebih dulu go international,” Mastur, Minggu (4/9).

Bisnis makanan tradisional Jepang dibarengi dengan keragaman sajiannya misalkan susi, onigiri, ramen, odeng, rumput laut, bumbu-bumbunya. Restoran Japanese style juga menjadi bagian dari gaya hidup orang Indonesia. Kuliner dan racikan bumbu-bumbu bila dikelola dengan sajian yang baik, akan menjadi sumber devisa negara. Kuliner tradisional bisa terus tumbuh menjadi industri besar franchise domestik dan internasional.

“Saya berharap restoran seperti Doea Tjangkir (Jl. Sawojajar, Bogor Jawa Barat) bisa berkembang dan buka cabang di berbagai kota. Seperti franchise Bebek Slamet, sup ayam Pak Min sudah berhasil bisnis franchise. Cita rasa global Indomie (PT. Indofood) juga berhasil. Resep lokal, market global ala Indofood,” kata ketua Konsorsium Bioteknologi Indonesia.

Sementara itu, pemilik brand Doea Tjangkir di Bogor akan terus melestarikan kuliner tradisional terutama jajanan pasar atau kue basah khas Indonesia. Beberapa kuliner tradisional, antara lain bika ambon, kue mangkok gula merah (gula jawa), talam pandan, bugis, cente manis, klepon, nagasari, kue pisang hun kwee, talam hijau dan lain sebagainya. “Cara membuatnya (kue basah) perlu seni, dan harus latihan. Keterampilan untuk kemasan, bungkusannya tidak mudah. Kami harus desain (bungkusan) dengan tangan. Bungkusan kue klepon, dengan tangan seperti menari sampai bentuknya seperti kerucut,” Susan Purbojo, pemilik brand Doea Tjangkir mengatakan kepada Redaksi.

Baca Juga :   Oleh-oleh Khas Nusantara di Jakarta Fair 2022, Ada Batu Permata Halaman all

Daun pembungkus kue-kue basah harus dibersihkan, setelah itu disobek-sobek untuk menyesuaikan ukuran. Keseluruhan ada tujuh type ukuran, termasuk bentuk kerucut. Kue-kue yang sudah masak, bahan baku untuk bungkusan terutama daun harus digunting.

“Kalau sekarang, orang lalu menggunakan plastic, dan tidak ada seninya. Kami juga tidak boleh menggunakan hekter atau stapler, tapi double tape, (hekter) bahaya,” kata Susan.

Kue bika ambon penuh serat dan bentuk (serat) seperti jaringan, timbul dari gelembungan. Ibaratnya kalau air mendidih, ada gelembungan. Proses (gelembungan) dari bawah, ada penekanan sampai ke atas hingga tembus. Gelembung udara yang timbul seperti soda.

“Dengan (penglihatan secara kasat mata) telaten, naik ke atas dan tembus sampai 6 cm. ibu Merry (customer Doea Tjangkir) yang tinggal di Amerika mengaku, dia bikin bika ambon di Amerika, tapi tidak jadi. Memang, perlu tepung tapioka, dan harus menggunakan tepung sagu ubi, tepung beras, tepung Hun Kwee,” kata Susan.

Artikel ini bersumber dari : zonanusantara.com.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari Travelling.Web.id di Google News

  • Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *