Lagu “Hujan Rintik” di Sekolah Alam Binaan PT SAL untuk Orang Rimba

Diposting pada

Jambi (ANTARA) – Lagu “Hujan Rintik” dinyanyikan  bersahutan dan tidak rancak dari dalam bangunan bercat hijau dengan atap seng. Suara  khas bocah riang  yang penuh keceriaan.

Sesekali ada suara paling dominan dari  wanita dewasa, suara berwibawa seorang wanita pengajar yang mengarahkan aktivitas anak-anak saat menyanyi di sana.

Sementara itu beberapa orang wanita dan pria dewasa dari Orang Rimba atau Suku Anak Dalam berdiri di luar ruangan yang dibatasi oleh ram atau kawat anyaman pengganti kaca.

Sebagian dari mereka berkumpul di sebuah bangunan di samping sekolah alam itu. Namun beberapa wanita SAD yang menggendong anak kecilnya memilih bertahan sambil melihat aktifitas pembelajaran di sana.

Mereka menyaksikan bocah-bocah mereka beraktifitas di sekolah alam atau “Sekolah Halom Putri Tijah” itu. Sekolah khusus untuk Orang Rimba itu dibangunkan melalui program tanggung jawab sosial dari PT Sari Aditya Loka (SAL), perusahaan perkebunan kelapa sawit Astra Group di kawasan itu.

Sekolah alam yang berlokasi di Jalan Kutai Desa Pematang Kabau Kecamatan Air Hitam Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi itu, merupakan salah satu dari sekian lokasi pusat pemberdayaan dan pendidikan Orang Rimba.

Di lokasi itu terdapat Pos Yandu Astera, Taman Bacaan dan Pusat Layanan Kesehatan. Untuk menempuh lokasi itu, membutuhkan waktu perjalanan sekitar 2,5 jam dari Bangko, Ibukota Kabupaten Merangin.

Lokasi itu termasuk paling mudah dijangkau bila dibandingkan dengan titik lainnya dari kawasan SAD yang ada di daerah lainnya, salah satunya di kawasan Sungai Kuning yang harus ditempuh dengan menggunakan sepeda motor.

Kembali ke aktifitas di Sekolah Halom itu, ada sekitar 15-an anak dari usia 3-10 tahun mengikuti kegiatan pada siang itu. Meski mereka batal melakukan aktifitas olah raga senam karena ‘wellress’ atau tape pemutar musik senamnya mengalami gangguan, namun tidak menyurutkan keceriaan bocah-bocah itu untuk menyanyi sambil beraktifitas atraksi.

Itu tidak lepas dari kesigapan empat guru pendamping mereka yang langsung mengalihkan materi ke menyanyi. Dan suasanapun menjadi lebih ‘heboh’ dengan nyanyian “Hujan Rintik-Rintik” itu.

Baca Juga :   Serunya Berburu Takjil Jajanan Khas Pesisir di Batang

Namun para wanita SAD juga tidak tinggal diam. Sambil menyaksikan dari balik anyaman kawat, ia mengingatkan putra dan putri mereka.

Seperti saat dua orang siswa yang tiduran dan malas-malasan saat yang lainnya sibuk bernyanyi bersama gurunya, sang ibu dari balik tembok langsung menegur dengan menggunakan bahasa asli mereka yang artinya “Bangun kamu, jangan berbaring seperti itu, ayo ikut,”.

Sang anak laki-laki dengan berpakaian seragam Pramuka itupun langsung bangkit dan ikut bernyanyi di posisi deretan paling depan. Merekapun bernyanyi lebih ‘heboh’ dengan suara keras, sambil berlenggak-lenggok dan berpegangan bahu.

Dengan bahasa yang sederhana, sang guru menyapa dan mengarahkan, tanpa ada suara keras namun bisa diterima dan  menjadi bagian dari keseruan anak-anak di sekolah alam itu.

Tidak sampai di sana, saat diberi kesempatan untuk istirahat ke luar gedung sekolah alam itu, mereka juga beraktifitas dan hangat berbincang dengan tamu yang hadir pada kesempatan itu.

“Foto kami,” teriak seorang bocah SAD berambut ikal dan berseragam Pramuka. Dengan gayanya yang khas, ia memperkenalkan namanya yang khas Orang Rimba.

Siswa SAD di sekolah alam Putri Tijah binaan PT SAL sedang bernyanyi didampingi tenaga pendamping di sana. (ANTARA/Syarif Abdullah)

Bu Arum

Dari kesibukan di sekolah alam itu, terdapat seorang tenaga  pendamping di Sekolah Halom Putri Tijah itu. Sosoknya kecil dan berjilbab.

Namanya Arum, 26 tahun. Lulusan SMK di Kabupaten Sarolangun. Ia memilih ikut bergabung dengan guru yang ada di sekolah alam itu.

Siang itu Arum bertugas mendampingi anak-anak SAD bersama tiga orang pendidik wanita lainnya di sana. Ia tampak sibuk membantu mengarahkan bocah-bocah itu untuk menyanyi mengikuti guru lainnya di sana.

“Saya sudah empat tahun ikut mengajar di sini, rumah saya berjarak sekitar 15 menit perjalanan dari sini (sekolah alam),” kata  Arum.

Ia menempuh perjalanan di jalan yang sudah beraspal namun kondisinya sudah rusak itu dengan menggunakan sepeda motor . Ia mengaku senang bisa menjadi bagian dari pendidikan SAD.

Terkadang ia juga ikut ke lokasi pemukiman Orang Rimba di daerah Sungai Kuning dengan dibonceng menggunakan sepeda motor untuk menjangkau lokasi itu.

Baca Juga :   Untar Gelar Wayang Kulit Semalam Suntuk dan Tampilkan Dalang Perempuan

“Kadang mereka (orang rimba) datang ke sekolah ini, mereka harus berjuang menempuh perjalanan melalui jalan setapak yang terkadang sulit bila musim penghujan. Tapi mereka antusias untuk belajar,” kata gadis berkulit gelap itu.

Di lokasi itu juga hadir Rismawan (23), pemuda di Pematang Kabau yang juga ikut menjadi pendamping untuk pendidikan warga SAD. Sepertihalnya Arum, ia juga komitmen untuk ikut bahu membahu untuk pendidikan warga SAD di daerah itu.

Tak hanya pendidikan, ia juga kerap memperkenalkan teknologi tepat guna kepada warga SAD agar mereka bisa meningkatkan kesejahteraan dan ekonominya. Ia juga mengapresiasi kepada berbagai pihak baik pemerintah, akademisi, perusahaan dan LSM , Forum Sinergi Pembangunan Sosial Suku Anak Dalam (FSPSAD), termasuk  salah satunya PT SAL yang ikut memfasilitasi kegiatan mereka.

Menurut Rismawan, Orang Rimba bisa berubah dan bisa dinamis setelah menyatu dengan masyarakat. Namun perlu dilakukan secara bertahap dan menerus, tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.

Sementara itu Slamet, PIC program tanggung jawab sosial  atau CSR dari PT SAL menyebutkan banyak program yang digulirkan untuk pemberdayaan warga SAD. Mereka sudah beraktifitas dan bahkan sudah ada yang menjadi pelaku usaha seperti menjadi pengepul sawit.

Berbagai pihak sudah hadir untuk memfasilitasi dan meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup SAD, salah satunya meningkatkan kemandirian mereka untuk memiliki sumber pangan yang mencukupi keluarga atau kelompok mereka.

Salah satunya Balai Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD)  yang sudah memfasiltasi dengan pemetaan  zona bagi orang rimba, salah satunya optimalisasi tapak keluarga atau zona hunian SAD, untuk bisa dimanfaatkan untuk pengembangan komoditas pangan untuk pemenuhan pangan mereka secara berkelanjutan.

Mereka dilatih dan diberi pengetahuan Hb untuk bercocok tanam, mengolah tanah yang baik dan benar serta memfasilitasi aktifitas pasar komoditas yang mereka hasilkan.


Artikel ini bersumber dari : jambi.antaranews.com.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari Travelling.Web.id di Google News

  • Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *