Mahluk Gaib dan Gong Jawa Kraton

Diposting pada

Suku Jerieng di Pulau Bangka punya ritual khusus untuk menjaga alam yang jadi gantungan hidup mereka. Ritual yang dinamakan “mandi gong” dan “taber gunung” merupakan salah satu upaya mereka untuk bisa berdialog dengan alam.

***

Cuaca beberapa hari belakangan terasa sangat menyengat kulit, sebabnya serau suhu mencapai 40°C di altimeter. Saya yang terbiasa hidup di kampung halaman dengan suhu yang cukup dingin harus berusaha menahan dan adaptasi dengan kondisi cuaca panas yang menerjang Pulau Bangka. 

Hari itu, 12 Agustus 2022, kami berencana berangkat ke Desa Pelangas, Kecamatan Simpang Teritip, Kabupaten Bangka Barat. Jarakanya 105 kilometer dari pusat Kota Pangkalpinang, untuk mengikuti ritual “Mandi Gong” dan “Taber Gunung” yang diadakan oleh masyarakat adat Suku Jerieng.

Suku Jerieng, punya ikatan kuat dengan alam

Suku Jerieng merupakan salah satu masyarakat adat beretnis Melayu tertua di Pulau Bangka yang masih menjaga eksistensinya sampai sekarang. Mereka juga mempunyai ikatan kuat dengan alam sebagai salah satu pijakan dalam hidup. 

Tersebar di tiga belas wilayah Kecamatan Simpang Teritip, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung. Beberapa diantaranya tersebar di Desa Pelangas, Kundi, Mayang, Brang, Paradong, Air Nyatoh, Rambat, Simpang Gong, Simpang Tiga, Ibul, Pangek, Air Menduyung, dan Bukit Terak.

Pada masa lalu, mereka menerapkan pola hidup berkebun atau dikenal dengan istilah lain “behume” yakni membuka lahan di hutan dengan cara ditebang atau dibakar yang luasannya tidak sampai satu hektar. Dengan menanam berbagai jenis tanaman yang cukup variatif, mulai dari lada, durian, kunyit, lengkuas, umbi-umbian, juga tanaman hutan seperti petai dan jerieng (jengkol) yang menjadi asal muasal nama suku mereka. 

Perjalanan menuju Bukit Penyabung diringgi oleh alunan gendang panjang khas Suku Jerieng. (Rofi Jaelani/Mojok.co)

 

Untuk urusan kebutuhan primer pun, Suku Jerieng bisa dikatakan suku yang memiliki tradisi mandiri pangan. Mereka menanam padi, kelapa, pisang, campedak, manggis, dan berbagai sayuran, bahkan tanaman obat yang menjadikan mereka sebagai masyarakat dengan kemandirian pangan yang baik dan otonom.

Salah satunya Miya (58), sebagai dukun obat yang sering mengumpulkan obat-obatan dari sejumlah tanaman di bukit berupa daun, kulit, maupun akar pohon.

“Beberapa jenis tanaman yang diambil sebagai obat diantaranya ada medang sang (obat sakit perut), akar cepenak (obat malaria), akar candek (obat disentri), daun kendu atau keramunting (obat diare), buah jenetri (obat keram dan memperlancar peredaran darah), bunga pelepang putih (obat terhindar dari gigitan lintah), dan keladi kerak beserta akar bakeng (obat untuk anak-anak agar tumbuh sehat atau tidak kerdil),” paparnya.

Dengan semakin sempit dan mulai tergerusnya lahan kelola membuat mayoritas masyarakat adat yang dulunya bertani dan berkebun, kini terpaksa menjadi buruh. Saat ini tidak sedikit masyarakat disana sudah banyak yang beralih menjadi buruh harian.  Atau ada yang lebih memilih tambang inkonvensional (TI) sebagai penghasilan utama mereka.

Namun, beberapa diantaranya masih banyak yang bersiteguh untuk menjaga tradisi dengan cara behume sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan data BPS Bangka Barat 2018, Kabupaten Bangka Barat merupakan wilayah yang memiliki lahan perkebunan kelapa sawit seluas 37.351,82 hektar. Lahan seluas itu dikelola oleh enam perusahaan besar. 

“Semoga saja luasan kebun sawit di sini tidak bertambah lagi, sekarang saja kami sudah terjepit,” ujar Jemaun, salah satu petani di Dusun Rajik, Desa Berang, Kecamatan Simpang Teritip.

“Kami menanam padi untuk membantu perekonomian keluarga, karena tidak perlu lagi membeli beras, apalagi saat musim virus sekarang, semua serba susah. Meski hanya panen sekali dalam setahun, alhamdulillah sudah cukup untuk makan sekeluarga.” Ujar Rotini (42), salah satu warga keturunan Suku Jerieng yang tinggal di Desa Berang.

“Selain nantinya bisa diwariskan ke anak cucu, hasil dari berkebun sesungguhnya bisa lebih menjanjikan dibanding menjadi buruh sawit. Saya pernah dapat 4 hingga 5 juta rupiah per-bulan, karena saat berkebun banyak alternatif penghasilan yang didapat,” imbuhnya.

Baca Juga :   6 Jajanan Jadul yang Udah Mulai Langka, Anak Milenial dan Gen Z Gak Akan Tahu

Ritual mandi gong

Sore sebelum maghrib kami tiba di rumah salah satu penduduk Desa Pelangas untuk sekedar rehat sebelum lanjut mengikuti acara ritual mandi gong yang akan dimulai pukul 21.00 di rumah ketua adat Suku Jerieng. Kami berjalan kaki menuju rumah ketua adat diantar Masliadi (38). 

suku jerieng
Janum bin Lamat [58], keturunan ketujuh batin gunung yang dianggap sebagai pemimpin dalam sistem adat Suku Jerieng. (Foto Nopri Ismi MongaybayIndonesia)

“Ikak beruntung, ritual ne sempet berenti tige taun. Baru taun ne la dilaksanakan agik,” (Kalian beruntung, ritual ini sempat berhenti tiga tahun. Baru tahun ini dilaksanakan lagi), tukasnya.

Sudah banyak orang yang berkumpul di sekitar pekarangan rumah, kami dipersilahkan untuk masuk sekaligus memenuhi ajakan makan malam yang telah disediakan. Nasi merah, ikan asin (kepitek), tempe goreng, tumis rebung, sambal belacan (terasi), dan jengkol (jerieng) adalah menu utama. Aktivitas lain di dapur, mereka memasak berbagai jenis makanan, membuat dodol, dan menyiapkan secara berbarengan.

Bahan-bahan yang didapatkan untuk kebutuhan selama acara ritual merupakan hasil dari swadaya kolektif masyarakat Suku Jerieng, mereka menyumbang hasil kebun, beras, gula, bahkan berupa uang. “Setiap orang datang ke rumah ketua adat, ada yang membawa beras, hasil kebun, bumbu dapur, atau juga uang. Dak wajib sebetul e (Gak wajib sebetulnya), tapi sudah jadi tradisi di sini,” ujar Masliadi.

Orang-orang silih berganti masuk rumah ketua adat. Ada yang datang dari berbagai daerah seperti Tempilang, Simpang Tige, dan Kundi untuk menunggu ritual mandi gong pukul 00.00 tengah malam nanti. 

Disamping itu, sebuah pertunjukan orkes dambus yang diisi oleh para orang tua berumur 50-an turut meramaikan acara adat tersebut. Menariknya mereka membawakan lagu ciptaan sendiri dengan memakai bahasa Jerieng yang mempunyai sedikit perbedaan dengan bahasa Melayu biasanya.

Berbagai tema dibawakan mulai dari kisah kehidupan, asmara, sampai tentang leluhur mereka, lagu “yul taayul” adalah salah satu nomor paling favorit malam itu, memasuki pukul 22.00 para perempuan turut naik ke panggung dan ikut joget mengikuti alunan dambus dan nyanyian yang dibawakan oleh biduan. Tak hanya perempuan, beberapa diantaranya laki-laki pun turut ikut joget sambil menunggu puncak acara dari ritual mandi gong.

Malam semakin larut, air kembang tujuh rupa dan sebuah gong tua yang mirip dengan alat musik tradisional dari Jawa Tengah telah disiapkan. Pemain dambus, biduan, dan para penari telah menyudahi alunan musiknya. Sebagian dari mereka masuk untuk memulai ritual yang sebentar lagi dilaksanakan. 

Atuk Janum (58) sebagai pemuka adat Suku Jerieng memimpin doa dan membacakan sebuah nasihat dari leluhur. Salah satu pesan di dalamnya menceritakan tentang kepercayaan para leluhur terhadap alam yang mana harus mendapat perlakuan sebagaimana mestinya.

“Gong tua ini punya kakek moyang kami, berasal dari Jawa Keraton yang diwariskan oleh bapak angkat saya untuk dijaga dan dipelihara sampai generasi selanjutnya. Caranya dengan dimandikan dengan air kembang tujuh rupa dan minyak parfum, dilaksanakan di 14 purnama bulan Muharram,” tandasnya.

Jam menunjukan tepat pukul 12 malam, puncak pertama dari ritual mandi gong sudah dimulai. Tercium wangi parfum dan bunga yang khas. Sebuah gong cukup keramat dimandikan dengan air kembang tujuh rupa dari dua buah tempat berdiameter sekitar 90cm, gong diangkat lalu dipukul cukup keras selama beberapa kali sebagai penanda, memanggil, sekaligus memberi tahu masyarakat keturunan Suku Jerieng dan semua makhluk hidup lainnya [gaib] bahwa upacara adat tengah dilaksanakan.

Air yang telah dimandikan dari gong tersebut dibagikan kepada masyarakat sekitar. Air itu dipercayai Suku Jerieng bisa sebagai obat untuk keluarga yang sakit, bentuk tolak bala, bahkan untuk memikat pasangan. Setelah proses memandikan selesai, harapan dari masyarakat semoga dikabulkannya hajat hidup mereka sehingga dijauhkan dari berbagai bala seperti gagal panen atau hal-hal yang tidak diinginkan lainnya.

Baca Juga :   Akses Jalan Menuju Kawasan Wisata Danau Pading Desa Perlang Terancam Putus

“Ritual ini hanya sebagai perantara untuk berkomunikasi terhadap seluruh makhluk hidup [gaib], dan alam semesta. Kita tetap meminta kepada Gusti Allah. Bukan semata-mata memohon kepada suatu benda,” tutur Atuk Janum sebagai tetua adat Suku Jerieng.

Ritual taber gunung

suku jerieng
Janum membacakan sejumlah doa dalam puncak ritual taber gunung di bukit pelangas. (Foto Nopri Ismi)

Keesokan harinya, dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Bukit Penyabung. Jaraknya kurang lebih 2 kilometer dari rumah tetua adat untuk melaksanakan ritual Taber Gunung. Seiringnya waktu, mereka sepakat bahwa apapun itu penyebutannya, baik “taber” atau “sedekah” dua-duanya memiliki makna yang sama. Yaitu sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan, para leluhur, dan semesta alam yang telah memberi hasil bumi selama setahun penuh.

Pada hari itu, masyarakat keturunan Suku Jerieng dianjurkan untuk tidak berangkat bekerja atau pergi ke kebun. Menurut kepercayaan adat, apabila hal itu dilanggar maka akan terjadi bala berupa penyakit, gagal panen, bahkan sampai kematian.

“Selama ritual sedang berjalan, rakyat Suku Jerieng dilarang mengeluarkan darah binatang, berarti tidak boleh berburu bahkan sampai membunuh binatang dan dianjurkan juga untuk tidak melakukan aktivitas berkebun (behume) atau pergi kerja (begawe),” terangnya.

Ada pantangan dalam Suku Jerieng untuk tidak menyembelih hewan yang mengeluarkan darah selama ritual sedang dilaksanakan. Dahulu, pantangan tersebut berlaku selama tujuh hari, lalu berubah menjadi tiga hari. Sampai pada akhirnya, saat ini pantangan tersebut hanya berlaku sehari penuh berkat kebijakan yang ditentukan oleh ketua adat. “

Beberapa tahun lalu ada orang melanggar pantangan di Simpang Teritip saat musim kulat (jamur) yang mengakibatkan orang itu meninggal di tempat,” ujar Atuk Janum kembali.

Tabuhan gendang panjang dan gong mengiringi masyarakat bertolak menuju Bukit Penyabung. Di tengah perjalanan, ketua adat menyenggangkan untuk minta izin sekaligus mendoa’kan [ziarah] ke kuburan “Kek Adung, dan Kek Weng” sebagai leluhur Suku Jerieng pertama. Perjalanan dilanjutkan kembali. Iring-iringan mulai memasuki belantara hutan. Tepat sekitar dua puluh meter sebelum lokasi ritual, masyarakat diminta untuk melepas alas kaki.

Sesaji berupa ayam dan berbagai olahan dari ketan dalam ritual taber gunung. (Foto: Nopri Ismi)

Setiba di atas bukit, waktu rehat sebelum dimulainya ritual pukul 12 siang digunakan oleh mereka untuk melakukan tradisi permainan imajinatif yang dillustrasikan dalam bentuk harapan utopis. Ada yang membuat miniatur kebun, rumah, dan bagan. 

“Semua ini bisa diibaratkan juga sebagai doa atau cita-cita dari kami yang harapannya semoga dikabulkan oleh Gusti Allah. Melalui ritual taber gunung lah jalannya,” ujar Rahman, salah satu pegiat kesenian di Desa Pelangas.

Memasuki puncak ritual, sebuah sesajen disiapkan dalam satu tempat bersamaan dengan dinyalakannya api. Seluruh orang di atas bukit mulai berkumpul mengelilingi bagian belakang kerumunan, jarum jam menunjukan tepat pukul 12.00 siang. Atuk Janum selaku pemuka adat meminta Abok Jauhari dan satu orang lagi maju ke depan.

Doa dipanjatkan, suasana hening mengikuti jalannya ritual. Madu, kembang melati, serta beras ditabur ke seluruh sudut di atas bukit. Setelah selesainya rangkaian seremoni adat, ada satu tradisi sebelum turun bukit dan kembali ke Desa Pelangas. Seremon itu yakni pertunjukan pencak silat yang diiringi musik gong dan gendang panjang bertaut nyanyian bahasa Jerieng. Pencak silat itu menjadi penutup dari seluruh ritual.

suku jerieng
Pertunjukan silat menjadi penutup rangkaian ritual taber gunung di Bukit Penyabung. (Foto oleh Nopri Ismi)

“Maksud dari semua rangkaian ritual mandi gong dan taber gunung ini, intinya sebagai cara kami meminta ke Yang Maha Kuasa.  Supaya orang kite ne [Suku Jerieng] dilindungi dari segala macam penyakit, dan hasil usaha kita supaya terlaksana dengan baik,” tutur Atuk Janum menutup obrolan setelah selesainya ritual.

Suku Jerieng telah mengajarkan banyak hal tentang bagaimana cara mereka memperlakukan alam dengan baik. Agar dijauhkan dari keserakahan dan ambisi yang bisa membuat kerugian atas segala tindakan yang kerap kita lakukan.

Reporter: Rofi Jaelani
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Pangeran Joyokusumo, Kisah Kelam September 1829 di Pegunungan Menoreh

 

Terakhir diperbarui pada 1 Oktober 2022 oleh


Artikel ini bersumber dari : mojok.co.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari Travelling.Web.id di Google News

  • Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *