Mata Lembu hingga Kelapa Ijo, Ragam Kuliner Khas dari Jabar Selatan

Diposting pada

Mata lembu disajikan di sebuah rumah makan di Pantai Sayang Heulang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (6/8/2022). Keong laut yang hidup di sekitar terumbu karang tersebut banyak ditemui di pantai selatan Sukabumi dan Cianjur. Mata lembu dijual dengan harga Rp 50.000 hingga Rp 70.000 per kilogram.
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Mata lembu disajikan di sebuah rumah makan di Pantai Sayang Heulang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (6/8/2022). Keong laut yang hidup di sekitar terumbu karang tersebut banyak ditemui di pantai selatan Sukabumi dan Cianjur. Mata lembu dijual dengan harga Rp 50.000 hingga Rp 70.000 per kilogram.

Pesisir selatan Jawa Barat tidak hanya kaya dengan destinasi wisata yang memanjakan mata. Ragam cita rasa kulinernya, baik dari hasil laut maupun perkebunan, juga tak kalah istimewa menyenangkan lidah.

Deretan rumah makan di Pantai Sayang Heulang, Garut, Jabar, menawarkan beragam kuliner untuk wisatawan. Namun, ada satu yang tidak biasa, mata lembu.

Mata lembu (Turbo setosus Gmelin) adalah sejenis keong laut yang hidup di sekitar terumbu karang. Selain di Garut, keberadaan hewan bercangkang ini banyak ditemui di kawasan Jabar selatan lainnya, seperti Sukabumi dan Cianjur.

Permukaan cangkang dalam berwarna putih. Sementara pelindung dagingnya berbentuk bulat berwarna hitam, mirip mata lembu (sapi).

”Dijuluki mata lembu karena bentuknya seperti mata sapi,” ujar Ai Siti (44), pedagang di Pantai Sayang Heulang, Sabtu (6/8/2022).

Pagi itu, Ai memasak 1 kilogram mata lembu pesanan pelanggan. Sebelum direbus, keong-keong itu terlebih dahulu dicuci menggunakan air mengalir untuk menghilangkan pasir dan kotoran lainnya.

Mata lembu kemudian direbus selama 25 menit. Garam dan daun salam dimasukkan ke dalam wadah untuk menghilangkan amis dan menetralkan racun.

Teksturnya kenyal seperti kuliner siput pada umumnya. Rasanya gurih. Tidak tercium bau amis saat melahapnya. Sebelum disimpan dalam lemari berpendingin, mata lembu dicuci dan direbus selama 30-60 menit.

Pengunjung dapat menikmati mata lembu dengan rebusan orisinal atau menggunakan saus padang, saus tiram, dan jenis saus lainnya dengan harga Rp 50.000-Rp 70.000 per kg.

Menurut Ai, mata lembu merupakan menu makanan yang paling dicari wisatawan di pantai itu. ”Bisa dibilang kuliner ikonik di Garut selatan. Namun, tidak semua pengunjung beruntung bisa merasakannya,” ujarnya.

Ai menuturkan, dalam beberapa tahun terakhir, nelayan di sekitar Pantai Sayang Heulang semakin kesulitan mendapatkan mata lembu. Dalam sepekan, rumah makannya hanya mendapatkan pasokan 10-15 kilogram.

Baca Juga :   Pencinta Kuliner Wajib Merapat! Shopee 9.9 Super Shopping Day Hadirkan Cita Rasa khas Nusantara

”Kalau musim liburan atau akhir pekan, 1-2 hari langsung habis karena banyak diburu pelanggan. Jadi, tak sedikit pengunjung gigit jari karena enggak kebagian,” katanya.

Ai mengatakan, mata lembu telah menjadi kuliner lokal Garut selatan sejak lama. Ia menceritakan pengalamannya saat remaja di awal 1990-an, mata lembu dapat dengan mudah ditemukan di pinggir pantai.

”Dulu, anak-anak suka menangkapnya di karang dekat pantai. Sekarang, nelayan harus mencarinya sampai puluhan hingga ratusan meter dari pantai,” ujarnya.

Menurut Ai, banyak penikmat mata lembu yang percaya kuliner itu dapat meningkatkan stamina. Keong laut itu juga berpotensi menjadi sumber protein dan mineral yang berfungsi sebagai afrodisiak atau pembangkit gairah.

Baca juga : Kisah dari Jabar Sarat Pesan yang Terus Menghidupi

Layur Sukabumi

Sejumlah nelayan menarik perahu mereka di Pantai Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada pagi awal Mei 2019 lalu, setelah melaut di perairan Samudra Indonesia.
KOMPAS/MADINA NUSRAT

Sejumlah nelayan menarik perahu mereka di Pantai Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada pagi awal Mei 2019 lalu, setelah melaut di perairan Samudra Indonesia.

Jika Garut punya mata lembu, Sukabumi bisa membanggakan layur (Trichiurus lepturus). Bentuknya panjang, ramping, dengan warna perak. Habitatnya ada di dasar laut.

Tidak mudah ditangkap nelayan, ikan ini menjadi salah satu favorit penikmat kuliner dalam dan luar negeri. Biasanya dijadikan sup ikan, daging layur tidak mudah hancur.

Dagingnya tidak mengeluarkan amis saat dimasak. Tidak heran, layur jadi produk ekspor yang menggiurkan. Belakangan, layur Palabuhanratu menjadi rebutan konsumen di China, Korea Selatan, dan Jepang.

Akan tetapi, jauh sebelum menjadi rebutan bangsa lain, layur sudah lama menjadi simbol warga lokal. Setidaknya, ketika akses transportasi menuju Pangandaran masih belum ideal hingga zaman tanpa media sosial.

”Zaman dulu, sekadar wisata ke Palabuhanratu saja sudah terbilang mewah,” kata Tarcicius Bakin (70), warga Kota Sukabumi. Dulu, Kota Sukabumi-Palabuhanratu ditempuh dalam waktu 6-7 jam atau dua kali lipat dibandingkan saat ini.

Keistimewaan itu lantas digunakan sejumlah kalangan untuk eksis. Namun, terbatasnya buah tangan dari Palabuhanratu kala itu membuat ikan laut jadi pilihan utama. Bukan sembarangan ikan, jenisnya diambil yang paling mahal hingga unik bentuknya.

Baca Juga :   40 Rekomendasi Wisata di Bogor yang Instagramable – DEPOK POS

”Layur salah satu yang unik. Karena jarang ditangkap nelayan, harga satu kilogramnya bisa 2-3 kali lipat ketimbang ikan biasa. Bentuknya yang seperti pedang juga menarik mata,” katanya.

Akan tetapi, semua tidak hanya selesai dengan membeli layur. Agar orang lain tahu, layur mendapat tempat istimewa. Bukan di dalam mobil, tetapi diletakkan di luar, tepatnya di moncong kendaraan. Dengan begitu, ikan yang diyakini bisa meningkatkan vitalitas itu bisa dilihat banyak orang.

Adi Zamzani (25), warga Sukabumi lainnya, pernah mendengar kabar layur di moncong mobil. Namun, ia enggan melakukan hal yang sama. Dia memilih membeli layur yang sudah dimasak di Palabuhanratu.

Salah satu yang terkenal adalah layur crispy. Bahannya diambil dari tulang layur yang digoreng hingga garing. ”Kalau mau pamer, sekarang tinggal foto dan unggah ke media sosial. Dengan begitu, banyak orang tahu saya berwisata ke Pantai Palabuhanratu,” katanya.

Kelapa ijo

Kelapa hijau di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Rabu (10/8/2022).
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Kelapa hijau di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Rabu (10/8/2022).

Akan tetapi, bicara tentang pantai selatan tidak hanya tentang kuliner bahari. Jika bosan dengan hasil laut, Pangandaran punya kelapa yang wajib dicoba. Khasiatnya bagus jika merasa mual atau mengantuk setelah menyantap banyak mata lembu.

”Sebutannya kelapa ijo. Namun, orang yang tidak paham sering kali tertipu dengan istilah kelapa ijo,” kata Helmi (60), petani kelapa Batuhiu, Pangandaran.

Sepintas kelapa ini mirip dengan kelapa lainnya. Kulit buahnya berwarna hijau. Pohon hingga ukuran buah kelapa tidak berbeda. Namun, ada ciri khas yang bisa dilihat bahkan sebelum kelapa dikupas.

Pertama, lihat di ujung atas buah. Jika ada warna merah muda, itulah buah yang dicari. Warna serupa akan terlihat pada serabut segar yang lebih empuk saat dikupas.

”Rasa air kelapa tidak seenak kelapa bisanya, tidak manis, tanpa sensasi soda. Daging buahnya tidak banyak. Namun, kelapa ini punya khasiat menyehatkan dan mengeluarkan racun dalam tubuh,” katanya.

Akan tetapi, bukan perkara mudah mendapatkannya, bahkan di sentra kelapa nasional, seperti Pangandaran. Kalaupun ada, harganya 2-3 kali lipat lebih mahal ketimbang kelapa biasa.

Helmi, misalnya, hanya punya satu pohon kelapa hijau dari ratusan pohon kelapa miliknya. Ia tidak tahu, dari mana mendapat bibit kelapa hijau. Sengaja ditanam pun bukan perkara mudah.

”Biasanya tidak sadar ada di kebun. Itu rezeki pemilik lahan,” ujarnya.

Jadi, jika datang ke Jabar selatan, jangan lupa untuk menikmati setidaknya tiga sajian itu. Ketiganya menjadi alternatif saat Anda bosan lagi-lagi makan ikan bakar, oseng kangkung, dan segelas teh tawar.

Baca juga : Fermentasi, Memperpanjang Napas Kuliner Tradisi Jawa Barat

Artikel ini bersumber dari : www.kompas.id.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari Travelling.Web.id di Google News

  • Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *