Mengenal para jawara UMKM Papua pada Gernas BBI 2022 Jayapura

Diposting pada

Jayapura (ANTARA) – Pemerintah melaksanakan acara puncak Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) 2022 di Gelanggang Olah Raga (GOR) Cenderawasih, Jayapura, Papua, secara luring dan daring pada Rabu (24/8).

Acara tersebut diikuti sekitar 69 kelompok usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang mengangkat kearifan lokal dan budaya di tanah Papua.

Namun panitia Gernas BBI mesti menerapkan kurasi terhadap produk-produk UMKM tersebut, untuk mengisi 25 stan yang ditempatkan di dalam gedung.

UMKM 25 besar tersebut juga mendapat keistimewaan, yaitu bisa mengisi stan pameran eksibisi UMKM virtual yang disediakan Telkom dalam situs dan bisa mempromosikan produk mereka kepada pembeli yang datang ke Gernas BBI secara daring.

Selanjutnya, dari 25 produk UMKM unggulan di Papua tersebut, panitia Gernas BBI hanya memilih lima yang mendapat hadiah plakat jawara UMKM Papua.

Kelima jawara UMKM Papua tersebut merupakan penyedia produk olahan ikan asar dalam kemasan, penyedia kue olahan sagu dalam kemasan, penyedia kriya khas Papua, dan penyedia olahan kopi dalam kemasan.

Sambal Baba

Sambal Baba adalah jenama produk makanan olahan ikan Asar dalam kemasan milik Muhammad Yamin Rachman (36).

Ikan Asar merupakan ikan tuna yang mengalami proses pengasapan selama 2-4 jam. Tekstur ikannya tebal, kemudian rasanya enak, dagingnya empuk dan tentunya rasanya gurih.

Sambal Baba memiliki 35 produk olahan ikan Asar, dimana dua produk unggulannya, yaitu abon Asar, Sambal Asar dan rendang Asar (DTuna) memiliki kisah menarik.

Yamin mengatakan ide produk abon Tuna Asar muncul dari anak sulungnya yang waktu itu masih berumur dua tahun, tidak suka memakan ikan.

Padahal nutrisi di dalam ikan, baik Omega 3 dan sebagainya, sangat dibutuhkan bagi tumbuh-kembang anak. Kebetulan di dalam kulkas Yamin saat itu yang ada hanya ikan.

Yamin pun terpikir untuk menciptakan produk yang membuat sang anak mau memakan ikan tersebut. Selain tidak suka ikan, anak Yamin yang masih dua tahun itu juga tidak begitu suka makanan berminyak.

“Akhirnya imajinasi saya berjalan, saya buat satu produk dimana (Abon Tuna) ini tidak digoreng pakai minyak, jadi saya sangrai pada posisi dimana anak ini bisa makan,” kata Yamin.

Selain Abon Tuna, Rendang Asar dan Sambal Asar juga lahir karena dulu ada banyak rekan-rekan satu tempat bekerja Yamin di salah satu bank yang kebingungan mengolah oleh-oleh khas Papua, yaitu ikan Tuna Asar.

Yamin yang sejak kecil suka memasak kemudian menghadiahi rekan-rekannya dengan Tuna Asar yang direndang dan disambal.

Produk tersebut malah direkomendasikan oleh rekan-rekan seprofesi Yamin, bahkan mereka menyarankan produk itu dibuat dalam bentuk kemasan.

“Akhirnya tercetuslah satu produk inovasi kami yang berbahan baku ikan Asar, yaitu sambal Asar, kemudian Rendang Tuna Asar, dan Abon Tuna Asar Istimewa. Dan tiga produk ini menjadi produk unggulan dimanapun kami melakukan pameran,” kata Yamin.

Pada usia 28 tahun, Yamin berhenti bekerja di bank dan pada usia 31 tahun, dia memulai usaha berjualan sambal, sambil berjualan asuransi. Dia lalu mendirikan usaha dagang bersama sang istri di bawah naungan CV Warline Katahati Papua sejak 2017, hingga saat ini memiliki karyawan enam orang.

Usaha Sambal Baba berkembang sejak ikut acara pameran dari pemerintah pada 2018. Saat itu Yamin mendaftarkan produknya untuk ikut salah satu acara pameran yang dilaksanakan atau dibuat oleh Bekraf, Badan Ekonomi Kreatif yang sekarang menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Nama pameran Bekraf waktu itu Creative Food and Food Startup Indonesia. Dimana dari 93 produk dari Sabang sampai Merauke yang mendaftar di ajang ini, Sambal Baba menjadi pemenang pertama produk terbaik.

“Dan setelah Event Food Startup dan Creative Food tersebut, itu kayak pintu gerbang kami,” kata Yamin.

Baca Juga :   Dari Tong Tong Fair hingga Home of Komodo Dragon, Wajah Indonesia di Benua Biru... Halaman all

Dari pameran satu ke pameran lain, Sambal Baba semakin memiliki jam terbang, hingga akhirnya bisa membuktikan bahwa produk Papua, ikan Asar itu dapat diterima secara nasional.

Pemilik Sambal Baba Muhammad Yamin Rachman menjadi jawara UMKM Papua pada acara Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia di Gelanggang Olah Raga (GOR) Cenderawasih, Jayapura, Papua, Rabu (24/8/2022). ANTARA/Abdu Faisal




Sambal Baba kemudian masuk 25 Finalis UMKM Gernas BBI dan pada pameran tersebut, UMKM yang terpilih mesti cakap memanfaatkan digitalisasi.

Untungnya, Sambal Baba sudah berpengalaman memasarkan produknya lewat ekosistem digital selama dua tahun. Karena sejak pandemi COVID-19 melanda Indonesia, mereka terpaksa melakukan itu.

Sambal Baba aktif memasarkan produk secara daring lewat sejumlah marketplace, di antaranya Tokopedia, Shopee dan Blibli.

Yamin juga memiliki situs resmi yang mencantumkan akun Facebook, Instagram dan WhatsApp, selain informasi soal lini produk Sambal Baba dan oleh-oleh khas Papua. Penjualan yang paling banyak justru dari ketiga platform media sosial tersebut. Berkat digitalisasi, produk Sambal Baba kini menjadi lebih dikenal banyak orang.

Supermarket tidak ragu saat diajak bekerja sama pemasaran. Saat ini total ada 60 supermarket yang tersebar di Papua dan Papua Barat, termasuk di Freeport Mimika yang sudah dimasuki lini produk Sambal Baba.

Pada beberapa waktu yang lalu, Sambal Baba juga menaruh produk di Frestive Kemang di Jakarta dan Bali. Sambal Baba mudah masuk karena produknya mudah dikenal sejak terjun ke ekosistem digital.

Sambal Baba mempunyai 35 produk secara keseluruhan. Para pekerja bisa memproduksi 3.000-4.000 produk dalam sebulan dengan kans terjual mencapai 80-90 persen setiap bulan.

Akusa

Sagu adalah bahan baku makanan sehari-hari masyarakat di pesisir Papua, seperti bubur yang dinamakan Papeda. Pohon sagu dapat ditemukan berjejer di pinggiran Danau Sentani.

Tapi orang tua Bernadeth Yenny, pemilik jenama Aneka Kue Sagu (Akusa) di Sentani sejak 1996, sudah bisa mengolah sagu menjadi jenis kuliner yang lain, yaitu aneka kue kering yang lebih tahan lama disimpan, meski tanpa pengawet.

Pada 2019, Yenny meneruskan usaha keluarganya itu. Dia meneruskan karena melihat usaha yang dirintis sang mama tidak hanya mengambil untung sendiri, tapi juga merupakan sebuah gerakan pemberdayaan mama-mama Papua, untuk berwirausaha secara mandiri.

Kalau dulu mama-mama Papua hanya jago memasak Papeda, yang tidak dapat disimpan lama untuk dinikmati kembali. Ternyata setelah muncul ide aneka kue sagu (Akusa) pada 1996 itu, sagu bisa lebih tahan lama dan juga diminati masyarakat dari luar Papua sebagai oleh-oleh, sehingga meningkatkan perekonomian.

“Setelah dia (mama-mama Papua dan masyarakat lokal) belajar ke mama saya, dia membuka usaha sendiri. Dan orang tua saya tidak merasa kalau ilmunya dibagi, nanti merugikan. Karena kami sambil mengedukasi mereka supaya mereka pun bisa menghasilkan sesuatu dari apa yang mereka punya di tanah Papua,” kata Yenny.

Bahan baku membuat kue sagu itu didatangkan langsung dari Kampung Genyem, Kabupaten Jayapura, yang memang terkenal sebagai daerah penghasil sagu terbaik di Papua. Jarak Kampung Genyem dari Sentani saja sekitar dua sampai tiga jam.

Namun Akusa sudah bekerja sama dengan kelompok petani di Kampung Genyem, sehingga setiap musim panen, petani mengantarkan sagu ke toko secara langsung dengan harga satu sak Rp250 ribu.

Menurut Yenny, harga sagu di Papua berlaku musiman. Artinya harga bahan baku yang dijual petani sagu bisa meningkat hingga Rp400 ribu-Rp450 ribu per satu sak, kalau saat itu bukan musim panen.

Setelah bahan baku sampai ke toko, Yenny biasa mengolah sagu satu sak itu menjadi 15-20 kilogram tepung kue dalam satu hari. Namun Yenny tidak hanya membeli satu sak, dia biasa membeli antara 8-15 sak dari petani.

Dia membuat 16 varian rasa kue kering dari tepung-tepung sagu yang dihasilkan dari 8-15 sak sagu tersebut.

Baca Juga :   2 Ciri Khas Makanan Vietnam, Dominan Isian Sayur Halaman all

Ke-16 varian rasa tersebut ada rasa keju, jahe, coklat, selai kacang, kacang kenari, coklat kacang, nanas, dan sebagainya. Ada juga kue yang mirip sagon, tapi dari tepung sagu yang dinamakan Asgu.

Harga kue bervariasi, ada yang kemasan satu varian rasa Rp27.000, kemasan kotak Rp30.000 dan juga campuran tiga varian rasa seharga Rp60 ribu.

Akusa aktif memasarkan produk secara daring melalui Facebook dan WhatsApp. Dia juga membuat toko daring di sejumlah marketplace, seperti Tokopedia dan Shopee.

Dukungan internet 4G di Papua yang lancar sejak masa pemerintahan Presiden Joko Widodo membuat Akusa menjadi jenama yang dikenal seperti sekarang.

Harapan Yenny, pemerintah bisa lebih berperan lagi dalam mengurangi tarif ongkos kirim (ongkir) ke wilayah luar Papua. Karena tidak jarang, konsumen yang sudah memesan secara daring membatalkan pesanan karena ongkir yang lebih mahal dari produknya itu sendiri.

Yenny pernah mengecek ongkir ke Surabaya saja bisa mencapai Rp112 ribu. Padahal harga kue hanya Rp27 ribu sampai Rp60 ribu.

Dia tidak memungkiri kalau ekosistem digital menjadi tumpuan pemasaran ketika pandemi COVID-19 mendera pada Januari 2020.

Sehingga, omzet Akusa dapat bangkit kembali sekitar 20-30 persen. Apalagi sejak 2021, sejumlah rute penerbangan ke Papua kembali dibuka dan memungkinkan orang kembali bepergian.

Omzet per bulan Akusa, kata Yenny, antara Rp12 juta sampai Rp20 juta. Omzet maksimal bisa dicapai apabila saat itu sedang ramai-ramainya orang bepergian, misalnya Lebaran atau hari raya keagamaan lainnya.

IN Papua

Kopi memiliki dua perwakilan jawara UMKM pada Gernas BBI 2022 di Jayapura, Starmount Coffee dan IN Papua.

Menurut Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (Dirjen IKP) Kementerian Komunikasi dan Informasi Usman Kansong, kopi merupakan hasil bumi Papua yang siap bersaing di kancah global.

IN Papua membuktikan pernyataan Dirjen IKP itu. Jenama kopi asal Jayapura milik dua orang, salah satunya Elia Musa Rawar, bahkan sudah memiliki pasar sampai ke Boston, Amerika Serikat. Itu sebabnya Musa dan rekan menamakan jenama kopi mereka dalam bahasa Inggris.

“IN Papua, kalau dalam bahasa Inggris artinya kopi-kopi ini cuma ditemukan di Papua, begitu kira-kira. Soalnya kami sudah ekspor sampai ke Boston, jadi sudah sampai di Amerika,” kata Musa.

IN Papua melakukan proses penyangraian biji kopi secara mandiri di Kamkey, Abepura. Penghasil biji kopinya merupakan para petani dari kelompok tani dan koperasi tani di daerah pegunungan, seperti Wamena dan Nabire.

Dalam sehari, biji kopi yang disangrai di rumah produksi IN Papua bisa mencapai 200 sampai 300 kilogram. Biasanya, Musa dan rekannya bekerja selama delapan jam tanpa berhenti dalam penyangraian ini.

Suplai biji kopi panggang IN Papua itu tadinya hanya dipakai oleh Musa dan rekannya untuk merintis usaha kafe masing-masing.

Belakangan, biji kopi IN Papua menarik minat warga sekitar yang memiliki warung kopi. Bahkan warga luar Papua juga berminat membawa kemasan kopi mereka sebagai oleh-oleh.

Produk kopi Musa kini sudah sampai di Sumatera, Jakarta, dan Bali.

Tahun 2022 ini, IN Papua akan menyasar Jepang dan Turki sebagai pemasaran kopi-kopi asal Papua berikutnya, setelah Amerika Serikat.

Harga kopi IN Papua dalam kemasan 200 gram Rp100 ribu, sedangkan kemasan 10 gram Rp15 ribu. Kopi spesial IN Papua 100 persen Arabika kemasan 200 gram dihargai antara Rp285.000-Rp300.000. Harga itu semakin mahal karena biji kopinya semakin sulit didapat dan berkualitas premium.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Jawara UMKM Papua pada Gernas BBI 2022 di Jayapura

Artikel ini bersumber dari : papuabarat.antaranews.com.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari Travelling.Web.id di Google News

  • Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *