Morotai Negeri Kaya di Bibir Samudra Pasifik, Sektor Pariwisata Lesu

Diposting pada

TIMESINDONESIA, MOROTAI – Morotai sebagai pulau terdepan Indonesia, terletak di ujung paling utara Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara, memiliki kekayaan alam dan bahari yang mumpuni serta wisata sejarah Perang Dunia dua (PD II) yang tersohor.

Hal tersebut menjadi alasan pemerintah pusat masukkan Morotai dalam 10 destinasi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), sehingga dibangun berbagai infrastruktur pendukung untuk memajukan sektor pariwisata guna menarik para wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia (Morotai).

Infrastruktur pendukung yang telah dibangun pemerintah mulai dari jalan, jembatan, rehabilitasi lapangan terbang, RSUD Ir Soekarno, Kawasan Central Bisnis Distrik (CBD), Kawasan Religi, Water Front City (WFC), Museum PD II, Pusat Jajanan Cendramata dan Kuliner (PJKC), Sarana Hunian Pariwisata (Sarhunta), sejumlah objek wisata baru, hingga Taman, Cottage serta Wahana di objek wisata pulau Dodola.

RSUD-Ir-Soekarno-Morotai.jpgRSUD Ir Soekarno Morotai bertaraf nasional dibangun pemerintah pusat sebagai penunjang pariwisata Morotai. (FOTO: Abdul H Husain/TIMES Indonesia).

Sejumlah sarana dan sarana penunjang pariwisata yang dibangun pemerintah guna dapat menunjang Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemkab Morotai di sektor pariwisata. Namun sangat disayangkan semua itu belum dapat dimaksimalkan.

“Untuk tahun 2022, dari sejumlah OPD penggenjot PAD yang ada, Dinas Pariwisata yang paling rendah pendapatannya, padahal itu sektor yang diandalkan Pemkab Pulau Morotai,” ungkap Kepala BPKAD, Suriani Antarani, Senin (3/10/2022).

Sementara, Bandara Udara (Bandara) Leo Watimena atau Pitu Morotai yang saat ini digunakan selain untuk kepentingan komersial juga digunakan untuk pertahanan negara. Bandara tersebut adalah peninggalan pasukan tentara Amerika Serikat bersama sekutunya, memiliki 7 landasan pacu dan merupakan salah satu bandara terbesar di Indonesia.

Museum-Perang-Dunia-II.jpgMuseum Perang Dunia II dibangun pemerintah pusat sebagai destinasi wisata sejarah di Morotai. (FOTO: Abdul H Husain/TIMES Indonesia).

Bandara yang dikenal sebagai situs sejarah perang dunia II itu, pengelolaannya di bawah kekuasaan pemerintah atau TNI AU semenjak diserahkan Tentara Sekutu ke Indonesia. Kini, dikomersilkan menjadi pintu gerbang utama pariwisata dan ekonomi Kabupaten Pulau Morotai.

Baca Juga :   6 Spot Wisata Alam di Indonesia yang Terkenal Memanjakan Mata

Bukan hanya itu, Morotai yang berada di bibir samudra pasifik memiliki pelabuhan laut Hi Muhammad Saleh Lastori (HMS Lastori) Daruba yang sangat strategis dan menjadi pusat distribusi logistik dari berbagai pelabuhan di Indonesia ke Ibukota Kabupaten Pulau Morotai.

Sebagai pulau terluar di Indonesia Timur, perairan Morotai juga menjadi jalur migrasi ikan tuna di dunia. Mata rantai ikan tuna ini menjadikan cuan bagi nelayan setempat dalam mengais rupiah dan sukses menjadikan Morotai sebagai daerah pengekspor ratusan ton tuna loin setiap tahun ke luar negeri (Vietnam).

Sebagai wilayah bekas medan tempur perang dunia II antara Sekutu lawan Jepang, Morotai memang memiliki kekayaan alam dan bahari yang melimpah. Hal ini menjadi salah satu alasan pemerintah pusat menetapkan Morotai sebagi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Strategi Pariwisata Nasional (KSPN), tapi sayang belum dikelola secara maksimal.

Tidak sampai disitu, dinilai memiliki simpul transportasi dan infrastruktur yang cukup memadai, membuat Morotai bakal dijadikan emberkasi haji Indonesia Timur. Bahkan pengusulan ke Kementrian Agama RI di Jakarta, proposalnya telah disampaikan oleh pemerintahan Benny-Asrun menjelang masa jabatan mereka berakhir pada awal tahun 2022.

“Berbagai infrastruktur pendukung sektor pariwisata telah dibangun pemerintah, saya berharap pemerintah daerah serta masyarakat dapat menjaga dan merawatnya,” harap Benny Laos, saat di penghujung masa jabatannya sebagai Bupati Pulau Morotai pada Mei 2022.

Selain itu, Benny mengatakan, tim telah merumuskan untuk diusulkan ke Kementrian Agama RI agar Morotai dijadikan embarkasi haji di Indonesia Timur telah mendapat lampu hijau.

“Mohon doa dan dukungan seluruh masyarakat pulau Morotai,” tandasnya.

Sebagai informasi, Morotai ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada tahun 2014 melalui Peraturan Pemerintah Nomor: 50 Tahun 2014 dengan luas area 1.101.76 Ha dan pada tahun 2016 Morotai ditetapkan sebagi 10 Bali baru Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yang dikembangkan pemerintah pusat.

Baca Juga :   Melangit Bali Adventure: Wisata Air Anyar di Klungkung Bali, Pas untuk Weekend

Pulau Morotai sendiri resmi menjadi kabupaten definitif pada 29 Oktober 2008 dengan memiliki luas wilayah 2.330.60 kilometer persegi (km2), panjang garis pantai 311.217 km.

Saat ini Morotai memiliki 6 kecamatan dan 88 desa, juga memiliki puluhan pulau kecil yang mengelilingi, terdapat 6 pulau berpenghuni, antaranya pulau Kolorai, pulau Galo-galo, pulau Ngele-ngele Kecil, pulau Ngele-ngele Besar, pulau Saminyamau dan pulau Rao yang mana seluruhnya kaya akan objek wisata alam dan bahari. (*)

**) Dapatkan update informasi pilihan setiap hari dari TIMES Indonesia dengan bergabung di Grup Telegram TI Update. Caranya, klik link ini dan join. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi Telegram di HP.


Artikel ini bersumber dari : www.timesindonesia.co.id.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari Travelling.Web.id di Google News

  • Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *