Nasib Penemuan Mahasiswa, Agar Tak Sekadar Jadi Publikasi di Jurnal Ilmiah

Diposting pada

Nasib Penemuan Mahasiswa, Agar Tak Sekadar Jadi Publikasi di Jurnal Ilmiah
Ilustrasi penelitian. ©2012 Shutterstock/Levent Konuk

Merdeka.com – Jumlah publikasi hasil penelitian Indonesia di jurnal internasional mengalami kenaikan tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Sayangnya, masih banyak hasil penelitian yang tidak memiliki relevansi dengan kehidupan masyarakat. Di sisi lain, banyak hasil riset berpotensi yang tidak ditindaklanjuti.

Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi mencatat, sepanjang tahun 2021 lalu, ada 50 ribu publikasi jurnal internasional dalam negeri. Jumlah itu naik drastis dari sebelumnya 8.000 publikasi per tahun.

Saat membuka Pekan Pemuda Riset dan Inovasi Nasional (PIRN) XX yang dilaksanakan di Mataram, NTB, bulan Juli lalu, Mendikbud Ristek Nadiem Makarim mengingatkan, penelitian yang dilakukan bukan sekadar mengejar jumlah publikasi ilmiah, tetapi juga harus mempertimbangkan kualitas. Nadiem menyinggung soal metodologi yang digunakan, cara menganalisis data, sampai dengan mempresentasikan hasil temuan penelitian.

Pentingnya sebuah penelitian, lanjut Nadiem, diukur berdasarkan dampak yang dihasilkan. Apakah dapat mendukung perkembangan ilmu pengetahuan atau melahirkan inovasi bermanfaat bagi orang banyak.

“Diharapkan para peserta mampu menawarkan cara-cara cerdas dan inovatif dalam mengembangkan potensi alam dan budaya indonesia,” ucap Nadiem.

2 dari 4 halaman

Bermanfaat Tapi Tak Dilirik

tak dilirik rev4

Yusva Dwi Saputra, Ihya’ Ulumuddin Ar-Rayya dan Ardelia Bertha Prastika harus bolak-balik ke beberapa puskesmas di kawasan Surabaya. Ketiga mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) itu diminta menjelaskan hasil penelitian mereka.

Yusva, mahasiswa jurusan Kesehatan Masyarakat angkatan 2019 yang menjadi ketua penelitian menuturkan, tim mereka menguji pengaruh mendengarkan ‘Binaural Beats’ untuk mengurangi kecemasan ibu hamil primigravida (hamil pertama kali) menjelang persalinan.

Saat mengajukan proposal, penelitian Yusva dkk mendapat pendanaan dari Kemendikbud Ristek dalam Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diadakan tahun 2021 lalu.

Binaural Beats adalah audio relaksasi yang ditemukan pertama kali oleh Heinrich Wilhelm Dove pada tahun 1841 dan muncul pertama kali dalam literatur ilmiah pada tahun 1973. Dikutip dari The Conversation, ilusi pendengaran yang diciptakan oleh Binaural Beats terjadi ketika dua nada murni dengan frekuensi yang sedikit berbeda disajikan ke masing-masing telinga.

Kedua nada ini kemudian diproses di dalam otak hingga terdengar seperti frekuensi ketiga. Frekuensi ketiga ini dianggap menghasilkan berbagai efek, termasuk dalam proses relaksasi dan mengasah fokus.

Ada dua kegunaan utama binaural beats yakni sebagai pengobatan atau terapi medis; dan sebagai pengganti atau pelengkap penggunaan narkoba psikoaktif (obat-obatan yang mempengaruhi sistem saraf dan mengubah persepsi, suasana hati, kognisi atau perilaku).

Yusva mengungkapkan mengapa memilih penelitian ini karena selama ini Binaural Beats sangat jarang dimanfaatkan untuk mengurangi kecemasan pada ibu hamil yang terfokus dalam memperlancar proses persalinan, termasuk lama persalinan dan tingkat nyeri persalinan.

“Kami menguji pengaruh mendengarkan Binaural Beats untuk mengurangi kecemasan ibu hamil primigravida menjelang persalinan. Kecemasan ibu hamil akan berpengaruh pada rasa nyeri saat proses persalinan,” kata Yusva dalam perbincangan dengan merdeka.com, 20 Agustus lalu.

Dalam penelitian ini, Yusva dkk juga ingin mencari gelombang Binaural Beats jenis apa yang paling efektif. “Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi intervensi untuk mengurangi rasa nyeri saat persalinan,” ujarnya.

Penelitian dilakukan pada Juni-September 2021. Saat ini, hasil penelitian ketiganya sedang dalam proses publikasi di jurnal ilmiah.

Baca Juga :   Para Pemacu Motor Trail Bakal Disuguhi Jajanan Khas Sumbawa

“Kami diminta sosialisasi oleh beberapa pihak puskesmas dan layanan bidan mandiri mengenai relaksasi kehamilan menggunakan binaural beats,” kata Ihya, rekan Yusva dari jurusan Kesehatan Masyarakat angkatan 2019.

Sementara Ardelia, mengakui hasil penelitian mereka belum dilirik baik dari pemerintah maupun swasta. “Untuk saat ini belum ada pihak yang ingin bekerja sama untuk mengembangkan penelitian tersebut dari instansi baik swasta maupun pemerintah,” tukasnya.

Yusva, Ihya’ dan Ardelia mengakui, salah satu yang menjadi hambatan besar hasil penelitian mereka dimanfaatkan masyarakat secara luas adalah belum dimilikinya lisensi dari produsen Binaural Beats. Meski begitu, hasil penelitian mereka sudah mendapatkan paten untuk prosedur pemanfaatan Binaural Beats sebagai musik relaksasi kehamilan.

“Kami hanya berfokus pada intervensi pada gelombang terbaik bagi relaksasi ibu hamil dan persalinan,” kata Yusva.

Direktur Kemahasiswaan Unair M Hadi Subhan mengakui, proses hilirisasi temuan para mahasiswa selama ini belum maksimal. Bahkan, sejauh ini, belum ada hasil riset mahasiswa yang sampai dilirik kalangan industri.

“Kalau untuk mahasiswa kelihatannya belum ada hasil penemuan itu kemudian dihilirisasi, dijadikan produk atau dijadikan satu barang atau yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Jadi hanya berhenti pada penemuan saja, tapi kemudian tindak lanjutnya belum ada,” kata Hadi.

Hadi menjelaskan, menjadikan temuan mahasiswa sampai pada sebuah produk membutuhkan proses yang sangat panjang. Misalkan, dalam penemuan suatu obat, pihak Unair harus bekerja sama dengan industri farmasi. Kemudian, proses uji klinis, persetujuan BPOM dan tahapan-tahapan lainnya dengan waktu yang lama, padahal para mahasiswa harus menyelesaikan masa studinya.

“Habis skripsi, lulus, sudah setelah itu hilang,” tukas Hadi.

3 dari 4 halaman

Dari Penelitian Menjadi Bisnis

menjadi bisnis rev4

Berawal dari keprihatinan terhadap tingginya penularan penyakit TBC, empat mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia menciptakan sebuah masker khusus yang efektif mencegah penyebaran penyakit menular melalui udara. Masker ini diciptakan sebelum pandemi Covid-19 melanda Indonesia.

Penemuan itu diberi nama MASKIT atau Mask in Tech. MASKIT meraih penghargaan medali Emas dalam ajang Indonesian International Invention Festival 2019 yang berlangsung pada 22-25 April di Malang, Jawa Timur.

Yang membedakan MASKIT dengan masker lainnya adalah filter berteknologi karbon aktif dan nano silver yang dapat diganti selama maksimum 2 minggu sekali. Masker ini telah teruji di laboratorium UI dengan hasil efektif membunuh bakteri dan polusi lebih dari 90%.

MASKIT dirancang seperti bentuk masker pada umumnya namun memiliki kantung di bagian belakang masker yang ukurannya mengikuti ukuran filter. MASKIT sudah memiliki izin edar penjualan dan telah disertifikasi oleh Kementerian Kesehatan.

Tak hanya menghasilkan masker, keempat inventor ini juga membuat sebuah aplikasi di handphone bernama MASKIT yang dapat memantau tingkat polusi dan tingkat penyakit menular di lingkungan sekitarnya.

Keempat inventor MASKIT adalah Yolla Miranda S.T (Lulusan Teknik Kimia FTUI); Eliza Habna S.T (Lulusan Teknik Kimia FTUI); Wahidin (Teknik Kimia); dan Wulan Silvia (Teknik Kimia).

Yolla menuturkan, ide dasar produk kami ini adalah Indonesia menjadi salah satu negara dengan penderita TBC terbanyak di dunia. Rata-rata tiap 100 ribu penduduk Indonesia terdapat 400 orang yang didiagnosis kasus TBC oleh tenaga kesehatan. TBC menyerang usia produktif dengan lama pengobatan selama 1 tahun. Banyak kasus pemecatan kerja terjadi akibat seseorang menderita TBC.

Baca Juga :   Honda NTB Berbagi 200 Porsi Sate Bulayak di CFD Udayana

“Berangkat dari permasalahan tersebut, kami menciptakan sebuah masker yang diharapkan menjadi solusi untuk mencegah penularan TBC dan diharapkan dapat menurunkan angka penyebaran TBC di Indonesia,” ujarnya.

Produk MASKIT ini kemudian dipasarkan secara komersial melalui market place oleh PT Sainsgo Karya Indonesia. Penelusuran merdeka.com di salah satu situs penjualan online, masker MASKIT mendapatkan rating 4,9 dengan penjualan mencapai 9.000 lebih.

Seiring pandemi Covid-19, produsen MASKIT tidak hanya memproduksi masker, tapi juga hand sanitizer, desinfektan, cairan penghilang bau sepatu dan bau kandang, toilet sanitizer hingga refil isian masker.

Direktur Riset dan Pengembangan UI, Munawar Khalil mengatakan, sebagian besar invensi atau penemuan di kampus UI dilakukan oleh tim yang dipimpin oleh dosen dan mahasiswa sebagai anggota.

“Tindak lanjut hasil penelitian yang memiliki potensi nilai ekonomis difasilitasi oleh unit inkubasi dan inovasi UI yaitu Direktorat Inovasi dan Science Techno Park (DISTP),” ujarnya.

4 dari 4 halaman

Mentok di Jurnal Internasional

jurnal internasional rev1

Membuat penemuan mahasiswa menjadi sebuah produk komersial membutuhkan sebuah proses yang sangat panjang. Banyak dari temuan-temuan itu yang berakhir di publikasi jurnal internasional.

Direktur Kemahasiswaan Unair M Hadi Subhan menyebut, perhatian pemerintah sangat minim untuk menindaklanjuti temuan-temuan mahasiswa tingkat S1 ataupun vokasi.

“Penelitian mereka itu mentok di publikasi internasional, misalnya terindeks scopus itu saja. Setelah itu ya sudah,” ujarnya.

Scopus adalah database jurnal terbesar yang meliputi abstrak dan kutipan dari literatur peer-review, yakni jurnal ilmiah, buku, dan prosiding seminar. Pusat data atau database tersebut berguna untuk melihat apa yang sudah diteliti. Scopus merupakan database untuk jurnal internasional bereputasi.

Dalam beberapa penelitian, lanjut Hadi, mahasiswa yang excellent akan direkrut oleh dosen untuk membantu penelitian dosennya. Meski begitu, sang dosen tidak bisa mengambil alih penelitian yang dilakukan oleh sang mahasiswa.

“Nanti kalau diaku oleh dosen, terjadi pembajakan karya ciptanya. Ya sudah berarti di penelitian mahasiswa atau kampus paling banter yang dipublikasi di jurnal internasional. Itu bisa mentok, ya sudah mentok,” ucap Hadi.

Sedangkan Direktur Riset dan Pengembangan UI, Munawar Khalil menyatakan, iklim penelitian di perguruan tinggi sudah terbangun dengan baik. Banyak penelitian yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa mendapat dukungan melalui berbagai pendanaan hibah baik dari sumber internal universitas maupun dari pihak luar.

Di UI, kata Munawar, pendanaan penelitian dibagi menjadi dua. Untuk jenis penelitian dasar (TKT 1-3) dikelola oleh Direktorat Riset dan Pengembangan), sedangkan penelitian terapan dan pengembangan (TKT 4-9) dikelola oleh DISTP.

“Invensi yang ditemukan oleh civitas akademika UI (dosen dan mahasiswa) sudah banyak yang komersial, salah satunya ventilator COVENT-20. Pembagian royalti berdasarkan kesepakatan antara inventor dan para stakeholder,” pungkasnya.

[bal]

Baca juga:
Mahasiswa UGM Buat Tongkat Pintar untuk Lansia dan Tunanetra, Begini Cara Kerjanya
Luar Biasa! Calista Raih Sarjana Kedokteran Universitas Brawijaya di Usia 18 Tahun
Perkenalkan Gadis Cantik Wisudawan UI Terbaik 2022, Prestasinya Segudang
Jadi Presenter Terbaik di Forum Korea Selatan, Mahasiswi UI Ini Bagikan Kisahnya
Dua Mahasiswa Ubaya Berhasil Buat Mi Berbahan Tempe, Ini Kandungan Gizinya
Mahasiswa Universitas Brawijaya Ciptakan Alat Deteksi Kanker Rongga Mulut


Artikel ini bersumber dari : www.merdeka.com.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari Travelling.Web.id di Google News

  • Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *