Pemprov Sumsel Gandeng Kajati Tuntaskan Semua Aset Milik Daerah yang Bermasalah

Diposting pada

Herman Deru dan Kajati Sarjono Turin Teken MoU Penanganan Hukum Perdata dan TUN

PALEMBANG- Penandatanganan Kesepakatan Bersama antara Pemprov Sumsel dengan Kejaksaan Tinggi Sumsel tentang Permasalahan Hukum Perdata dan Tata Usaha Negara (TUN), di Griya Agung, Selasa (11/10) resmi dilakukan oleh Gubernur Sumsel, H Herman Deru dan Kajati Sumsel, Sarjono Turin SH MH. 

Adanya penandatanganan ini diakui Gubernur Sumsel Herman Deru menjadi angin segar bagi Pemprov Sumsel terutama dalam penyelesaian persoalan aset-aset Sumsel yang saat ini masih banyak dikuasai oleh orang-orang yang tidak berhak.

Melalui momen penandatanganan Kesepakatan Bersama ini, Ia juga meminta kepada Kepala Perangkat Daerah dan Direksi BUMD untuk menginventarisasi permasalahan hukum di instansinya masing-masing dan apabila dipandang perlu untuk meminta pendampingan dan pendapat hukum kepada Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan selaku Jaksa Pengacara Negara.

“Terima kasih Kajati karena kita sudah bersepakat untuk menandatangani apa yang dibutuhkan Pemprov selama ini. Hari ini kita sudah MoU dengan Kejati untuk menjadi pengacara negara dalam hal perdata dan juga Tata Usaha Negara,” jelasnya.

Selain segera melakukan penyelesaian persoalan aset Pemprov yang kuasai orang-orang tidak berhak, adanya kesepakatan ini juga diharapkan menjadi benteng bagi lahirnya berbagai produk Perkada.

“Kita harap sebelum (Perkada) lahir juga diasistensi, dan jika nanti produknya diimplementasikan dan bermasalah dengan pihak lain kita ada punya pengacaranya yakni jaksa sebagai pengacara negara,” jelas Herman Deru.

Salah satu yang cukup menjadi konsen penyelesaian pemerintah saat ini adalah mengenai Pasar Cinde. Menurutnya, Pemprov tentu ingin membangun ini dengan anggaran sendiri dengan APBD, namun untuk melakukan pembangunan diperlukan pemantapan kepemilikan lahan terlebih dahulu.

“Tapi saat ini kepemilikan lahan itu sudah dinamakan pihak ketiga. Itu yang harus dicabut dulu. Kita ingin selesaikan ini dan kita putus kontrak dengan pihak ketiga itu karena sudah tidak ada progres sejak 3 tahun lalu,” jelasnya.

Baca Juga :   "Bintan Berbudaye", Zapin Pesisir dan Makyong Kreasi Jadi Welcome Party Popda Ke VIII Kepri

Lebih jauh Herman Deru mengatakan, terkait permasalahan aset di Sumsel merupakan permasalahan turun-temurun. Karena itu di era kepemimpinannya ini Ia menggandeng Kejati untuk bersepakat melakukan kerjasama dalam bentuk pendampingan permintaan Legal Opinion.

Sehingga Ia berharap MoU ini dapat segera ditindaklanjuti dengan SKK atau atau memorandum of action di Pemprov dan OPD bahkan ke kab/kota.

“Tidak semua harus selesai tahun ini tapi kita pertajam dan ini menjadi angin segar buat kami karena terlalu banyak aset Pemprov yang bermasalah. Makanya kami secara teknis bersama Sekda  ingin agar SKK ini segera dikeluarkan untuk objek apa-apa saja yang harus ditangani,” tambahnya.

Senada diungkapkan Kepala Kejaksaan Tinggi Sumsel Sarjono Turin SH MH. Menurutnya, adanya nota kesepahaman ini akan menjadi lembaran baik bagi kedua belah pihak.

Kesepakatan ini diharapnya dapat memberikan kontribusi dalam rangka pemberian wewenang atau mandat untuk penyelesaian permasalahan hukum baik perdata maupun penyelamatan aset-aset milik Pemprov yang tercecer dan dikuasai pihak ketiga atau masyarakat.

“Ini berpotensi loss kalau tidak dilakukan penegakan hukum. Namun dalam pemberian bantuan hukum ini kita tidak harus selalu sampai ke pengadilan karena bisa berkoordinasi, mediasi, dijembatani dengan pendekatan persuasif,” jelasnya.

“Selain koordinasi dan mediasi bisa juga dilakukan negosiasi untuk mencari win-win solusion yang menjadi jalan keluar terbaik.

Contohnya ada mobil dibawa pensiunan, kita mediasi dan negosiasi. Karena fasilitas diberikan atas dasar jabatannya sehingga jika pensiun harus dikembalikan,” ujarnya, memberikan contoh.

Penandatanganan kesepakatan ini lanjut Sarjono, merupakan moment sangat baik agar OPD-OPD dapat melakukan pemberian kuasa atau Surat Kuasa Khusus (SKK) sebagai tindak lanjut MoU.

“Kita tetap ke depankan persuasif kalau ini tidak menemui jalan dan Pemda dalam hal ini dirugikan, baru kita refresif melalui pidana,” tegasnya.

Baca Juga :   Percepatan Digitalisasi, Keniscayaan Pertumbuhan Kepariwisataan

Sarjono juga berharap MoU ini tidak hanya menjadi seremoni saja, untuk itu Ia mengimbau hal serupa diikuti OPD-OPD di lingkungan Pemprov Sumsel.

“Pelayanan hukum ini bisa kita berikan ke BUMD atau BUMN yang ada cabang di Sumsel. Termasuk TNI dan Polri juga bisa kita dampingi,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu dilakukan juga pemberian cinderamata dari Gubernur Sumsel kepada Kajati Sumsel dan sebaliknya.

Hadir.dalam kesempatan tersebut, Ketua DPRD Provinsi Sumsel Hj. RA..Anita Noeringhati SH MH, Kapolda Sumsel Irjen Pol Toni Harmanto MH,. Ketua Pengadilan Tinggi Palembang Eka Kartika EM SH M.Hum, Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sumsel Nanang Ibrahim Soleh SH MH, Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Palembang H. Ade Komarudin SH M.Hum, Pangdam II Sriwijaya diwakiki Kakumdam Letkol CHK Donny Setyo Dwi Atmojo, Danlanal Palembang Kolonel Laut Widyo Sasongko, Sekda Sumsel Ir. S.A..Supriono,. Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara Palembang, Hujja Tulhaq SH MH. (**)

Editor: Donni

Artikel ini bersumber dari : sumateranews.co.id.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari Travelling.Web.id di Google News

  • Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *