Penjual Putar-putar: Katarak Sembuh, Jualan Lagilah…!

Dua bulan terakhir, Adek Miliani Sari Nasution tidak lagi berjualan kue putar-putar ke seantero Kota Padang Sidempuan. Katarak membuat matanya pedih saat menggoreng jajanan jadul khas Sumatera Utara Utara itu. Ia juga takut tertabrak mobil saat keliling menawarkan dagangan. Absen jualan membuatnya cemas kehilangan pelanggan. “Jangan sampai pelanggan kabur,” harapnya.

—————————

Dame Ambarita, Batangtoru

—————————

Ditemui saat antri menunggu giliran operasi di RS Bhayangkara Batangtoru, Tapsel, Adek Miliani terlihat relative cukup muda dibandingkan puluhan pasien lainnya. Maklum, para pasien operasi katarak gratis yang digelar PT Agincourt Resources itu didominasi lansia (lanjut usia).

“47tahun,” katanya pelan, saat ditanya berapa usianya di sela-sela operasi katarak gratis, Rabu (14/9/2022).

Ibu satu anak yang tinggal di Kampung Teleng, Kota Padang Sidempuan ini, sehari-hari membuat kue putar-putar. Jajanan ini termasuk khas Sumatera Utara, terbuat dari tepung terigu, gula, dan telur. Kue ini termasuk jajanan jadul, dan dikenal dengan beberapa nama. Ada yang menyebutnya untir-untir, ada juga yang menyebutnya kue tambang.

“Tiap hari saya mengolah 4-6 kg tepung membuat kue putar-putar. Enam hari seminggu, mulai Senin-Sabtu. Adon sendiri, goreng sendiri, kemas dan jual juga sendiri,” katanya.

Putar-putar yang dibuatnya sebagian dijual ke warung-warung, pasar, dan konsumen dengan berkeliling jalan kaki ke berbagai lokasi.

“Untung bersih mulai Rp25 ribu-Rp100 ribu per hari. Tergantung cuaca, kerajinan, dan rezeki,” katanya.

Hasil penjualan ini lumayan buat menambah-nambah penghasilan untuk dapur keluarga. Untuk membiayai keluarga kecilnya, yakni anak satu duduk di kelas 4 SD. Sementara suaminya, Joni Hendra (50), yang berprofesi sebagai sopir ekspedisi, kadang baru pulang setelah beberapa hari ke luar kota.

Kapan kena katarak?

Kata Adek, sebenarnya sudah mulai kena sejak dua tahun lalu. Tapi saat itu belum terlalu mengganggu. Sehingga dirinya tetap beraktivitas membuat kue putar-putar dan menjualnya ke konsumen. “Kalaupun mata pedih saat menggoreng, ya ditahankanlah,” ungkapnya tanpa ekpresi.

Namun dua bulan terakhir, katarak di matanya sudah semakin tidak tertahankan. Matanya pedih dan basah menahan panas saat menggoreng kue putar-putar. Belum lagi saat berkeliling menjual makanan itu, pemandangannya sering berkabut. “Pas nyebrang jalan, takut saya tertabrak kendaraan karena tidak lihat,” sebutnya.

Alhasil, ia jadi sering absen bikin kue dan berjualan. “Kadang jualan, kadang nggak,” katanya. Otomatis, penghasilannya berkurang drastis.

Namunkalau tak ada duit lagi, sementara suami belum pulang, terpaksa ia berjualan lagi. “Tapi kurangi produksilah… semampunya,” kata dia.

Foto: Dame/Metro Daily
OPERASI KATARAK: Adek Miliani Sari Nasution, menunggu giliran perban di matanya dibuka pascaoperasi katarak gratis yang digelar PT Agincourt Resources, di RS Bhayangkara Batangtoru, Tapsel, Kamis (15/9/2022).

Selama dua tahun kena katarak, ia mengaku sama sekali belum pernah mendapat pengobatan. Kondisi ekonomi membuatnya hanya mampu bertahan.

“Sebulan terakhir, saya sama sekali nggak bikin kue dan tidak berjualan, karena mata saya benar-benar kabur. Mata kiri sama sekali tak bisa lagi melihat,” cetusnya lagi.

Karena itu, ia merasa sangat beruntung saat mendapat informasi ada operasi katarak gratis, dari familinya. “Hanya disuruh mendaftar ke Palopat, di belakang masjid. Katanya, gratis. Cukup bawa fotokopi KTP saja,” katanya mulai sedikit tersenyum simpul.

Para pasien katarak dari Padang Sidempuan diangkut menggunakan bus yang disewa PTAR, ke RS Bhayangkara Batangtoru, Tapanuli Selatan. “Saya siap operasi. Baju untuk bermalam pun sudah dibawa. Soal hasil operasi nanti, Tuhan yang menentukan. Sama sekali tidak takut,” katanya.

Tentang perintah dokter agar seminggu usai operasi, pasien diminta istirahat di rumah, mata tidak boleh kena air, kena asap, atau sinar matahari, Adek Miliani mengatakan sudah siap. “Nanti suami yang masak,” katanya lugas.

Apa harapan setelah sembuh dari katarak?

“Kembali jualan putar-putar pastinya. Jangan sampai pelanggan kabur,” katanya kembali tersenyum dikulum. Ia mengucapkan terimakasih kepada PTAR yang menggelar bakti sosial operasi katarak gratis itu.

Senior Manager Corporate Communications PTAR, Katarina Siburian Hardono, mengajak masyarakat untuk memanfaatkan dan menyebarkan informasi operasi katarak gratis yang digelar PTAR, kepada kerabat atau keluarga. Karena masih ada operasi putaran kedua dan ketiga.

“Katarak bisa disembuhkan hanya dengan operasi. Mari kita gunakan kesempatan baik ini untuk memulihkan penglihatan keluarga dan kerabat kita, agar mereka berdaya dan produktif kembali,” kata dia.

Sejak 2011, program ini telah membuka 8.118 mata dari 7.131 orang yang menjalani operasi katarak dengan tingkat keberhasilan 100%. Pada perhelatan operasi katarak kali ke-8 ini, PTAR memusatkan operasi di dua titik, yakni RS Bhayangkara di Batangtoru, Tapanuli Selatan, dan RS Mata Mencirim Tujuh Tujuh di Medan. Di RS Bhayangkara jadwal operasi yakni 14 & 24 September, dan 15 Oktober. Sementara jadwal operasi di RS Khusus Mata Mencirim Tujuh Tujuh Medan yaitu 22 Oktober serta 12 & 23 November. (mea)

Artikel ini bersumber dari : metrodaily.jawapos.com.

Tinggalkan komentar