Peranan Tionghoa Nusantara; Cermin Toleransi dalam Beragama

Peranan Tionghoa Nusantara; Cermin Toleransi dalam Beragama

BincangSyariah.Com– Artikel ini akan membahas terkait peranan Tionghoa Nusantara, yang merupakan cermin dalam toleransi beragama. Sara terhadap suku, ras, golongan ataupun agama merupakan persoalan yang mudah sekali menjadi ‘bensin’ untuk kemudian dibakar guna mencapai tujuan secara instan.

Dalam hal ini dimaksudkan pada etnis Tionghoa yang sering kali menjadi sasaran amukan bagi sebagian golongan yang dengan sengaja mengkambinghitamkan etnis Tionghoa. (Baca: Alasan Gus Dur Mengakui Agama Konghucu di Indonesia).

Padahal, jika dirunutkan sejak masa penjajahan, Tionghoa memiliki sumbangsihnya bagi bangsa Indonesia. Dalam hal perekonomian, Tionghoa memberikan andil besarnya dalam pembangunan di Indonesia.

Oleh karenanya, pada acara perdana temubual daring ilmiah yang diadakan oleh Kayfa.id, 14 Agustus 2022 bekerjasama dengan UNU Yogyakarta dan UNUSIA, Ayang Utriza Yakin selaku muasis Kayfa.id, pada pembukaannya menyampaikan dalam rangka menyambut pesta demokrasi yakni pemilu pada 2024 mendatang, isu-isu mengenai sara, politik identitas, maupun politisasi agama tidak dijadikan senjata untuk meraup suara rakyat serta dapat memecah belah bangsa ini.

Dalam kesempatan kali ini, pembicara Azmi Abubakar sebagai pendiri museum pustaka peranakan Tionghoa memaparkan beberapa kasus yang terjadi di Indonesia sering kali menyebutkan ‘embel-embel’  Cina, ini ini menunjukkan betapa diskriminasi terhadap suatu etnis masih menjadi santapan empuk di masyarakat kita.

Selama ini Tionghoa melekat dengan hal-hal negatif, padahal Tionghoa merupakan bagian penting dalam sejarah indonesia. Namun dampak regulasi pada zaman orde baru yang tertuang pada impres no. 14 tahun 1967, yang pada saat itu menghapuskan nama-nama Tionghoa, berbagai nama rumah sakit dan nama tempat diganti, bahkan hingga menghilangkan tempat-tempat ibadah orang Tionghoa, yakni klenteng.

Sensitivitas setiap kali mendengar nama Tionghoa ini belum hilang  hingga saat ini meskipun impres tersebut sudah dicabut oleh Presiden Gusdur pada masanya dan diganti dengan Keppres tahun 2000 no.6.

Indonesia dan Tionghoa merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Semisal dalam hal makanan di Aceh. Mie Aceh merupakan makanan yang dibawa oleh orang-orang Tionghoa ke Aceh. Mie berasal dari bahasa Hokian, yang kemudian diolah sedemikian rupa sehingga rasanya menjadi khas di Aceh dan terkenal dengan Mie Aceh.

Sebegitu hebatnya pengaruh budaya kuliner di Aceh yang teralkulturasi dari budaya Tionghoa. Hal ini tentu menunjukkan betapa Allah menciptakan kita dari berbagai ras, etnis, suku, budaya, bahasa, bangsa untuk dapat saling mengenal, bukan untuk saling menghakimi bahkan membedakan-bedakan.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat 49:13)

Di antara Perjuangan Tionghoa untuk Indonesia

Ketika Belanda menyerang Aceh, Orang-orang Tionghoa di semenanjung Malaysia ikut terlibat secara fisik serta mengumpulkan persenjataan untuk membantu dan dikirimkan ke Aceh. Hal ini ditulis oleh seorang guru besar di Aceh, yakni Prof. Ibrahim Alfian dan tulisan Prof. Alfian disimpan di Museum Pustaka Peranakan Tionghoa. Sehingga sejarah ini layak kita ketahui bahwa Tionghoa memiliki peranan untuk bangsa Indonesia.

Berpindah ke Sumatra Utara, nama Tjong A Fie sebagai pimpinan di Sumatra Utara di Deli Tua yang sekarang kita sebut Medan, disebut-sebut memiliki peranan penting dalam sejarah Indonesia dan merupakan salah satu nama besar yang dihormati bukan hanya oleh etnis Tionghoa namun juga oleh etnis-etnis lain seperti Melayu, Arab, bahkan India.

Meskipun beliau beragama Konghucu namun Tjong A Fie juga memberikan sumbangsihnya dalam pembangunan Masjid Raya Al-Ma’shum dan Masjid Gang Bengkok. (Baca juga; Antara Kalender Tionghoa, Kalender Arab, dan Kalender Jawa)

Namun, disayangkan fakta peranan Tjong A Fie untuk masjid-masjid ini dilupakan oleh sejarah kita bahkan tidak ada sedikitpun nama Tjong A Fie tertera disana. Gambaran implementasi toleransi Tjong A Fie dalam beragama yang begitu tinggi seperti yang kita tahu dalam agama kita, agama Islam.

Dalam suatu buku mengisahkan kontribusi Tjong A Fie hingga ke Sumatra Barat pada saat itu. Turut serta dalam pembangunan beberapa rumah ibadah bagi agama lain. Di antara koleksi museum pustaka peranakan Tionghoa menyebutkan, seorang ulama besar dari Sumatra Barat bernama Syaikh Jamil Jambe dari Bukittinggi yang banyak dibantu oleh Tjong A Fie dalam pembangunan surau-surau miliknya.

Fakta sejarah ini seringkali membuat kita tercengang dan seolah ingin mengelak dikarenakan stigma dan stereotip negatif yang sudah tertanam sejak ratusan tahun lalu jika mengenai etnis Tionghoa.

Menyeberang ke Pulau Jawa, terjadi geger pecinan akibat demontrasi etnis Tionghoa terhadap kebijakan kolonial Belanda soal gula yang mengakibatkan perang Jawa tahun 1740-1743. Pada perang ini diawali terjadinya pembantaian terhadap etnis Tionghoa di Batavia, lalu merembet menjadi perang lebih besar dan menyusuri sepanjang pesisir utara Pulau Jawa sampai ke Banyuwangi hingga Bali.

Perang yang melibatkan orang Jawa dan Tionghoa diakui oleh seorang sejarawan Belanda merupakan salah satu perang terbesar yang dilakukan Belanda dalam menaklukan Nusantara. Namun, sangat disayangkan sekali lagi, nama-nama orang Tionghoa yang berperan dalam perang itu seperti Kapiten Sepanjang dan Tan Sin Ko tidak disebutkan, bahkan dilupakan. Hanya nama-nama seperti Pangeran Mangkubumi dan Hamangkurat, 5 yang tercatat dalam sejarah.

Kisah ini juga disampaikan oleh Panglima TNI, Hadi Tjahjanto yang kini menjabat sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang Publik Indonesia, dalam sambutannya pada ulang tahun Museum Pustaka Peranakan Tionghoa yang ke 10, dan pernah dimuat dalam pelajaran sejarah tahun 1950-1951, namun karena peraturan rezim orde baru, perang ini dihapus dalam pelajaran sejarah dan belum dikembalikan hingga kini.

Museum Pustaka Peranakan Tionghoa

Museum ini didirikan tahun 2011 di Serpong, yang isinya berupa kepustakaan, buku-buku, literatur seperti yang tertulis tulisan tangan, bentuk koran, foto-foto, baju, plang-plang nama jalan. Pendiri museum ini, yakni Bung Azmi sendiri merupakan orang Aceh mengkhususkan museum ini untuk penyimpanan literatur Tionghoa karena dari sana sumber sejarah dapat dibaca, tanpa mengada-ngada dan valid kebenarannya.

Bung Azmi mengatakan, jika museum ini didirikan oleh orang Tionghoa, maka sudah tentu akan mendapat pandangan miring dari masyarakat, karena tentunya suatu etnis akan membanggakan etnisnya sendiri, lain halnya jika didirikan oleh etnis lain selain Tionghoa. Museum ini sebagai langkah awal untuk mengetuk pintu hati etnis lain, sebagai bentuk persaudaraan, sebagaimana ukhuwah wathaniyyah ini harus selalu kita tanamkan demi kebaikan bangsa ini.

Betapa seringnya masyarakat mendapat informasi yang salah sehingga salah pula persepsinya, maka tugas kita untuk meluruskan seperti dalam hal Tionghoa ini yang acap kali mendapat pandangan negatif jika menyebut nama Tionghoa.

Jika kita telaah lebih jauh, dalam mata ajar sejarah terasa begitu membosankan, bukan menjadi salah satu mata pelajaran yang menarik hingga membuat kita mempelajari sejarah hanya sekedar demi nilai semata. Mata ajar sejarah bukan juga ditulis oleh orang yang memang berkompeten dalam bidangnya, namun hanya sekedar mengisi kurikulum dan bahan ajar.

Bung Azmi menyampaikan sejarah akan terasa lebih mengena jika diceritakan oleh selain orang lain, orang Aceh yang menceritakan tentang Tionghoa tentu lebih mengena jika dibandingkan dengan orang Tionghoa yang menceritakan dirinya sendiri, begitu pula dengan orang Papua yang diceritakan oleh orang Jawa misalnya.

Lalu sejarah tentang Geger Pecinan yang disajikan dalam bentuk komik, agar lebih mudah dimengerti dan lebih menarik untuk dibaca. Sehingga sejarah menjadi suatu landasan ilmu yang membuat kita tidak mudah menilai negatif mengenai suatu ras, suku, atau etnis tanpa mengetahui sejarahnya.

Al-Qur’ran berbicara mengenai sejarah pada ayat ini dapat kita artikan secara global untuk melihat masa lalu yakni sejarah sebagai pelajaran untuk dapat mengambil hikmahnya, karena banyak sekali kisah-kisah para Nabi terdahulu seperti kisah Kaum Nabi Luth, Kaum Nabi Nuh, Kaum Nabi Musa untuk kita pelajari dan ambil hikmahnya.

وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ

“dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah.” (QS. Al-Hasyr 59:18)

Di antara regulasi yang dilakukan untuk memulihkan pandangan kita terhadap Tionghoa agar berbeda dengan saat masa order baru sudah dimulai sejak zaman Pak Habibie. Pada masa Gus Dur, yang membolehkan perayaan Imlek, pertunjukkan barongsai, mempermudah urusan administrasi orang Tionghoa agar sama dengan etnis lainnya, sehingga Gus Dur disebut juga Bapak Tionghoa.

Masa Megawati, hari Imlek dijadikan sebagai hari libur nasional. Kemudian, pada masa Pak SBY mengembalikan istilah Tionghoa dan Tiongkok serta menjadikan rekomendasi pahlawan nasional untuk pemerintahan selanjutnya, yakni Laksamana John Lie, yang kemudian diterapkan oleh Presiden saat ini, Pak Jokowi.

Semakin banyak informasi atau sejarah yang kita ketahui, maka semakin luas dan lebar pula jarak pandang kita. Sehingga tidak mudah menghakimi, menilai sebelah mata sebuah etnis, suku maupun budaya. Tionghoa juga merupakan bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki peranan dan sumbangsih bagi Indonesia sejak masa dahulu hingga sekarang. Maka sebagai bangsa dan sesama muslim, tidak memandang sebelah mata akan keberadaan saudara kita etnis Tionghoa.

Demikian penjelasan terkait peranan Tionghoa Nusantara, yang merupakan cermin toleransi dalam beragama. Semoga bermanfaat. (Baca juga: Antara Kalender Tionghoa, Kalender Arab, dan Kalender Jawa)

Artikel ini bersumber dari : bincangsyariah.com.

Tinggalkan komentar