Sabha Yowana Desa Adat Sesetan Promosikan Nilai Tri Hita Karana dalam Acara Festival

DENPASAR, NusaBali.com – Sabha Yowana Desa Adat Sesetan memadukan nilai-nilai Tri Hita Karana dalam menggelar acara festival tahunan yang bertajuk Sabha Yowana Sesetan Festival.

Pada bulan September tahun 2021 lalu, Sabha Yowana Sesetan Festival dinamakan Festival Seni dan Budaya yang digelar untuk pertama kali dengan tujuan membangkitkan kebudayaan Bali yang ditidurkan oleh semesta akibat pandemi Covid-19.

Tahun 2022 ini, roh dari festival yang pertama masih tetap dipertahankan dan diperkuat dengan melibatkan nilai pakraman di Desa Adat Sesetan. Komponen keadatan tersebut pun dilibatkan baik dalam perlombaan maupun kegiatan lainnya di dalam festival.

“Ini sejalan dengan visi Bapak Gubernur (Wayan Koster) yang ingin memperkuat adat kita di Bali. Kami juga ingin menunjukkan bahwa ranah adat pun, dalam hal ini yowana, dapat bersaing membuat event yang wah seperti ranah kedinasan,” jelas Ketua Sabha Yowana Desa Adat Sesetan, Ketut Swastika Guna Darma, 26, ketika ditemui di sela-sela acara festival, Minggu (18/9/2022) siang.

Mengambil tempat di Palemahan Suci Genah Pemelisan, Banjar Suwung Batan Kendal, Desa Adat Sesetan, festival ini memelopori pengenalan daerah selatan Sesetan yang kental dengan nilai Tri Hita Karana lantaran memiliki ekosistem bakau, dermaga, dan Pura Pemelisan yang selama ini masih sering dipunggungi masyarakat.

“Menurut kami daerah ini sesuai dengan konsep Tri Hita Karana. Ada Parahyangan di Pura Pemelisan, ada Pawongan yang ditandai dengan kehidupan nelayan di dermaga, dan Palemahannya kami punya pohon bakau,” tutur pemuda yang sudah menjabat ketua sejak tahun 2020 ini.

Ketiga nilai itu pun tercermin dalam kegiatan festival utamanya dalam acara perlombaan membuat jajanan bali, ngelawar, dan gebogan bunga yang diikuti oleh ibu-ibu PKK dan para pemuda-pemudi. Dapat dilihat bahwa materi dari lomba tersebut biasanya digunakan untuk kelengkapan yadnya. Kemudian, terdapat pula lomba Bapang Barong dan makendang tunggal yang juga memiliki nilai keparahyangan dalam filosofi Tari Barong.

Selain itu terdapat pula lomba Tari Condong untuk anak-anak tingkat SD yang dibuka untuk warga Desa Adat Sesetan maupun dari luar desa. Terdapat pula lomba ceki yang melibatkan perwakilan dari 9 banjar di Desa Adat Sesetan yang pesertanya didominasi bapak-bapak.

Berkenaan dengan filosofi maceki, kata Swastika, bukan judi melainkan murni berupa turnamen. Maceki dalam format turnamen ini mengandung nilai kebersamaan dan ‘makedekan’ atau senda-gurau antara peserta sehingga mengeratkan hubungan antarwarga.

“Untuk turnamen ceki ini, kami sempat terbentur izin sebelumnya karena kepolisian sedang gencar-gencarnya menindak perjudian. Namun kami sudah jelaskan bahwa ini murni turnamen maka berikanlah ruang untuk mereka menghibur diri,” ujar Swastika.

Karena keberadaan turnamen ceki tersebut, lanjut Swastika, dapat menjadi hiburan atau sekadar pelarian bagi para peserta di saat kegiatan ceki dalam format taruhan dilarang aparat kepolisian.

Acara yang sudah berlangsung selama dua hari sejak Sabtu (17/9/2022) hingga Minggu (18/9/2022) malam ini direncanakan untuk ditutup langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster dan penampilan dari Nanoe Biroe dan Bagus Wirata.

Dalam sebuah postingan video singkat audiensi Pengurus Sabha Yowana Desa Adat Sesetan dengan Gubernur Bali pada Kamis (25/8/2022) lalu di Instagram kumpulan yowana tersebut, Koster mendukung penuh kegiatan festival ini dan mengajak seluruh masyarakat untuk menyempatkan mampir.

“Saya mengajak para generasi muda se-Denpasar dan siapa pun juga dari Bali, dari kabupaten mana pun, kalau tahu, ada waktu, silakan berkunjung ke acara festival tersebut. Sukses untuk Sabha Yowana Sesetan, Denpasar,” kata orang nomor satu di Provinsi Bali ini. *rat


Artikel ini bersumber dari : www.nusabali.com.

Tinggalkan komentar