Sejarah Rejang dalam Perspektif Tokoh: Buya Endar (7/Akhir)

Diposting pada

_Oleh: DMS. Harby_

Artikel terdahulu membahas bagian kesembilan dan kesepuluh dari catatan serial sejarah Rejang Buya Endar yang diposting pada tanggal 22 dan 25 Oktober 2016 di akun Facebooknya.

Pada bagian akhir dari sepuluh serial catatan sejarah Rejang yang ditulisnya dengan judul R-E-J-A-N-G itu Buya Endar mengulas tentang ihwal kedaulatan Rejang yang tetap lestari meskipun telah beberapa kali mengalami peralihan pemerintahan serta peran aktif Rejang dalam menjaga keamanan wilayah kerajaan tetangganya.

Pada artikel ini, sebagai bentuk tanggung jawab generasi muda, penulis merasa pembahasan Buya Endar terkait dua poin utama alasannya menulis serial catatan sejarah Rejang di Facebook masih belum tuntas terutama tentang sosok Maha Patih Majapahit yang bernama Gajah Mada.

Jika bantahannya terhadap narasi sejarah bahwa Rejang bukan berasal dari Majapahit, penulis rasa telah cukup memadai bahkan lugas dan jelas. Akan tetapi terkait Gajah Mada yang berasal dari Rejang, hanya sedikit sekali pembahasannya dalam sepuluh serial catatan sejarah berjudul Rejang itu.

Maka penulis pun mencoba menelusuri ulang akun Facebook Buya Endar dengan fokus terkait Gajah Mada. Ternyata, Buya Endar menulis khusus tema Gajah Mada di akunnya itu sebanyak 5 kali. Mulai dari tanggal 16 Desember 2018 hingga tanggal 23 Desember 2021. Status Buya Endar tertanggal 16 Desember 2021 adalah catatan yang menurut hemat penulis paling tegas narasi sejarahnya. Dengan judul “Rejang Bukan dari Majapahit, Justru Putra Rejanglah Patih Gajah Mada”.

Dalam kesempatan ini, penulis akan menjadikan tulisan itu sebagai kerangka dasar. Guna merangkum semua tulisan Buya Endar di akun Facebooknya itu tentang sejarah dan hubungan Gajah Mada dengan Tanah Rejang. Hal itu sebagai penutup bagi serial “Sejarah Rejang dalam Perspektif Tokoh: Buya Endar” yang penulis susun ini.

Penulisan serial ini ditujukan sebagai wahana pembelajaran sejarah bagi pribadi penulis sendiri. Tentu, sebagai bagian inti dari proses belajar membenahi diri, tulisan ini akan banyak ditemui kekurangan atau kesalahan. Baik yang tersengaja atau tidak disengaja. Karena itu atas semua bagian artikel berseri ini penulis mohon koreksi untuk perbaikan dan maaf atas segala kekhilafan.

Sebelum masuk ke pembahasan, Buya Endar terlebih dahulu menegaskan kembali dengan menyatakan bahwa cerita tutur yang menyebutkan bahwa Rejang berasal dari Majapahit masih berkembang di tanah Rejang. Bahkan, berganti generasi tetap saja bergulir cerita ini. Menurut Buya Endar, kita seharusnya bukan sekedar menjadi konsumen sejarah tetapi juga analis sejarah.

Beliau juga menyinggung ihwal keamanan tanah Rejang yang menurutnya terjaga dari dua pintu masuk, Lembak Linggau dan Lintang Empat Lawang. Ini berdasarkah hasil musyawarah besar di tanah Rejang (Lebong) pada saat peralihan Abad XVI Masehi. Dua daerah ini menjadi hulu balang tanah Rejang dimana mereka bertanggung jawab mengusir apabila ada musuh masuk. Jadi, masyarakat dua daerah ini terkenal berani dan ganas karena mereka memang dilatih untuk mengusir musuh.

Masuk ke pembahasan, Buya Endar kembali mengungkap hasil riset “Teater Kita Curup” pada tahun 1986. Bahwa riset tidak menemukan ciri-ciri kejawaan, baik bahasa, adat atau pakaian di tanah Rejang. Kata “bikeu” atau biku jelas dari agama Budha, sedangkan Majapahit adalah penganut Hindu. Dan ketika salah satu dari pimpinan Rejang Pat Petulai yaitu Raden Sepanjang Jiwo pulang kampung, pulangnya bukan ke Majapahit tapi ke Pagaruyung yang kala itu telah ditaklukkan 0leh Majapahit. Pagaruyung kemudian mengirim Rajo Megat sebagai pengganti Raden Sepanjang Jiwo.

Selanjutnya terkait Maha Patih Majapahit, Buya Endar mengulasnya kembali dari silsilah Biku Bermano yang menjadi menantu Rajo Megat karena mengawini anaknya, Puteri Senggang. Dari perkawinan itu Biku Bermano mendapatkan anak Putri Jenggai, Rantai Sembilan dan Tahta Tunggal Terguling Sakti yang kemudian menggantikan kepemimpinan ayahnya.

Pemimpin baru Petulai Bermani ini mempunyai sembilan anak. Mereka adalah Gajah Meram, Gajah Gemeram, Gajah Beniting, Gajah Biring, Gajah Rimbun, Gajah Rayo, Gajah Ripak, Gajah Pekik, Gajah Merik. Awal nama mereka terlihat unik dan menarik. Kesemuanya menggunakan kata Gajah. Dari kesembilan bersaudara bangsawan Petulai Bermani yang bernama awal Gajah ini, Gajah Merik adalah anak yang paling unik dan menarik.

Gajah Merik mempunyai karakter sendiri. Agak nakal dan sering berkelahi hingga sering kena marah sang ayah, Tahta Tunggal Terguling Sakti. Bahkan, sudah saking seringnya kena marah sang ayah. Bungsu sembilan bersaudara putera bangsawan Petulai Bermani ini pun terusir dari keluarganya. Sejak saat itu, cucu Biku Bermano satu ini tak pernah pulang ke rumahnya lagi. Gajah Merik terpaksa merantau jauh dari kampung halamannya. Menjadi bangsawan Petulai Bermani yang harus belajar menelusuri jalan kehidupan guna menyongsong masa depan dengan berkelana menjadi musafir.

Baca Juga :   Geliat UMKM Pamer Produk di Roadshow Industrialisasi, Peserta Senang Gubernur NTB Tinjau Stand

Sementara itu, di luar kerajaan Majapahit kemudian tersiar kabar tentang seorang musafir yang dirampok di tengah perjalanannya. Dalam perkelahian itu sang musafir dapat mengatasi perampoknya dan menang. Berita ini pun sampai ke istana kerajaan Majapahit. Maka, si musafir pun datang ke istana atas undangan kerajaan karena dianggap telah mampu mengalahkan para pengacau kerajaan. Musafir itu tak lain adalah Gajah Mada. Dari pengalamannya sebagai musafir itu, Gajah Mada kemudian diterima menjadi anggota Bhayangkara Kerajaan hingga mengembangkan kemampuannya sampai menjadi Maha Patih Majapahit.

Terkait riwayat tentang asal-usul identitas Gajah Mada yang musafir itu, Buya Endar mengungkapkan bahwa baik Majapahit maupun para ahli sejarah tak ada yang mampu menunjukkan fakta rilnya. Artinya, belum ada riwayat tentang asal-usul Gajah Mada selain sebatas identitasnya sebagai seorang musafir itu. Jaringan kekuasaan Majapahit sendiri setelah masuknya Gajah Mada terlihat jelas semakin luas berkembang. Hingga pada puncak semangat Gajah Mada, Majapahit juga bergerak mencapai titik keemasannya menyatukan Nusantara. Sampai pada semangatnya menyatukan Nusantara itulah, Gajah Mada kemudian bersumpah.

Dalam Sumpah yang terkenal itu, Gajah Mada berkata bahwa “Saya tidak akan makan palapa sampai Nusantara ini bersatu!”. Ya, demi persatuan Nusantara, Gajah Mada rela bersumpah untuk tidak makan palapa. Tapi, apakah palapa itu? Sampai sekarang satu kata Gajah Mada dalam kalimat sumpahnya itu belum diketahui arti sebenarnya. Sementara menurut Buya Endar, palapa itu adalah rebung (“lemea”). Kenapa lemea? Karena lemea adalah makanan kesukaan suku bangsa Rejang. Kenapa Rejang? Karena Gajah Mada adalah bangsawan suku Rejang.

Ya, mengikuti riwayat Buya Endar, maka, saat mengutarakan kesungguhan niatnya dalam menyatukan Nusantara hingga terkenal sebagai sumpah keramat itu Gajah Mada sebenarnya mengucapkan “Saya tidak akan makan lemea sampai Nusantara ini bersatu!”. Lalu, apa sesungguhnya makhluk bernama lemea itu? Lemea adalah rebung atau tunas bambu atau bambu muda sekali yang difermentasi sedemikian rupa sehingga menjadi hidangan khas suku Rejang. Ya, di dunia ini, hanya dua tempat yang kenal hidangan ini. Selain di Rejang, Provinsi Bengkulu, di China, Negeri Tirai Bambu.

Lalu, apa kaitannya Sumpah Palapa, Gajah Mada dan tradisi luhur suku bangsa Rejang? Buya Endar mengungkap pada bagian lain di lima tulisannya mengenai Gajah Mada. Bahwa semangat luhur yang ada pada Gajah Mada terhadap Nusantara yang tercitra dari Sumpah Palapanya itu berangkat dari kesadaran bahwa Rejang termasuk suku tertua di Nusantara dengan aksara dan bahasanya sendiri.

Demi sebuah pementasan drama tari kolosal mengenai sejarah Empat Petulai dan Rejang, Buya Endar dan teman-temannya di Teater Kito Curup, salah satunya Agus Geteg, pernah melakukan riset. Selama tiga tahun dari 1986 sampai 1988, riset itu menghasilkan Naskah Drama Tari Teater Kito Curup yang berjudul Benuang Sakti. Berdasarkan riset di Desa Topos, desa asal suku Rejang, diketahui bahwa Rejang tak lain nama bagi sebuah alat berbentuk segi tiga.

Alat dengan mata di tengahnya itu berbentuk sedikit agak panjang dan melengkung ke atas berguna untuk membongkar. Menurut tetua pada waktu itu, berdasarkan cerita para leluhur, kata rejang itu berarti menguit atau membongkar. Dan, tampaknya, tradisi Rejang ini pula yang menjadi semangat Buya Endar dalam membongkar sejarah Gajah Mada dan Rejang tanah kelahirannya.

Catatan yang diposting pada tanggal 23 Desember 2021 berjudul “Ketika Sang Raja Berebut Cinta dengan Sang Patih Gajah Mada”. Dalam catatan itu Buya Endar membongkar fakta bahwa perang Babad adalah perang asmara yang terjadi antara Raja Majapahit dan sang patihnya Gajah Mada. Berakibat Raja Sunda berikut para petingginya mati terbunuh di dalamnya.

Padahal, keberangkatan Raja Sunda dan rombongan ke Majapahit bukanlah untuk perang. Tetapi justru untuk merayakan pesta atas lamaran Raja Hayam Wuruk dengan Putri Dyah Pitaloka, anak Raja Sunda. Karena kesalahan informasi dan komunikasi, rombongan raja Sunda dibantai habis oleh pasukan Majapahit yang dipimpin langsung oleh Gajah Mada. Mengetahui kejadian itu, Putri Dyah Pitaloka akhirnya memilih bunuh diri.

Dalam babad yang lain, diriwayatkan bahwa sebenarnya Gajah Mada sudah menjalin hubungan asmara dengan Putri Dyah Pitaloka itu. Namun, hubungan itu akan direbut oleh Raja Majapahit. Itulah sebab dari peristiwa perang Babad ini, sang Raja mulai mengatur siasat untuk menyingkirkan sang Patih. Gajah Mada yang dapat mencium aroma siasat Hayam Wuruk itu lalu menghilang.

Baca Juga :   Sejarah Kota Tua, Ada Lukisan Raksasa Tersembunyi

Umumnya riwayat Majapahit menyebutkan bahwa Gajah Mada sang Maha Patih melakukan tapabrata hingga mencapai moksa sebagaimana legenda agama Hindu. Namun, dalam riwayat lain, Gajah Mada sesungguhnya pulang ke kampung halamannya di Sumatera. Dilepas oleh pasukannya di Merak, Gajah Mada mudik ke Rejang. Namun, karena mengalami sakit di perjalanan, Gajah Mada menghembuskan nafas terakhirnya dan disebutkan bermakam di Lampung.

Menutup catatan, Buya Endar menyinggung tentang dosa sejarah Majapahit terhadap Gajah Mada. Sebab, berdasarkan narasi penyatuan Nusantara bahkan dengan keberadaan Sumpah Palapa, Gajah Mada telah berjasa besar bagi Majapahit. Namun, semua jasa kepahlawanan, kebangsawanan dan kenegarawanan itu sirna oleh sebuah kekuatan yang bernama asmara. Terbukti, sepeninggal Gajah Mada, perlahan tapi pasti, Majapahit pun runtuh. Sebagai sebuah kerajaan, Majapahit telah menaklukkan berbagai kerajaan lain termasuk Sriwijaya.

Tapi, dengan situs sejarahnya yang sangat sedikit, termasuk makam Gajah Mada yang justru penuh rekayasa, membuat wilayah kekuasaan Majapahit menjadi tidak begitu luas. Menjadi sesuatu yang lucu jika Majapahit mampu menaklukkan berbagai kerajaan di bawah komando Maha Patihnya namun setelah itu terkesan tidak mampu mengendalikannya. Sehingga wilayah-wilayah taklukan Majapahit itu tidak membekas jejak-jejak kekuasaannya. Atau memang hal demikian di atas sengaja disenyapkan kala itu?

Disenyapkan atau dilenyapkan agar generasi berikutnya cukup hidup dengan menikmati tipuan demi tipuan yang dikatakan sebagai peristiwa bersejarah? Sehingga, sejarah sebenarnya menjadi tersingkir dan terkubur dan generasi pendahulu tidak tersambung dengan generasi penerusnya. Kalau benar hal ini terjadi, ungkap Buya Endar, sungguh menjadi dosa besar Jawa terhadap Sumatera.

Bayangkan, hingga saat ini, tegas Buya Endar, tak ada satupun ahli sejarah yang mampu membuktikan bahwa Gajah Mada itu adalah betul-betul putra Jawa. Gajah Mada itu, tegas Buya Endar lagi, adalah putra Sumatera, putra Bengkulu, putra Rejang. Lebih jalasnya lagi Gajah Mada itu adalah putera dari Tahta Tunggal Terguling Sakti. Cucu dari Biku Bermano sekaligus cicit dari Rajo Megat.

Keduanya merupakan bangsawan Pagaruyung yang memimpin Rejang dan menikahi bangsawannya. Jadi, pada Gajah Mada mengalir darah kebangsawanan Pagaruyung dan Rejang. Sebagai bangsawan Pagaruyung dan Rejang, Gajah Mada bernama kecil Gajah Merik. Sosok yang unik dan menarik putera Tahta Tunggal Terguling Sakti, cucu Biku Bermano dan cicit Rajo Megat. Ketiganya merupakan bangsawan Pagaruyung dan pemimpin Kerajaan Rejang Pat Petulai.

Demikian ulasan sejarah dan hubungan Gajah Mada dengan Rejang menurut perspektif Buya Endar ini. Sebagai penutup enam seri sebelumnya mengenai sejarah Rejang yang ditulis oleh Buya Endar di akun Facebooknya. Penulisan ini merupakan bagian dari proses pembelajaran diri penulis sekaligus bagian dari tanggung jawab sosial keluarga besar Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Tarbiyah – PERTI) terhadap pelestarian sejarah dan peradaban lokal Nusantara. Apalagi dari sudut pandang riwayat tokoh Tarbiyah-PERTI sendiri dan ditujukan untuk penjaminan dan peningkatan mutu pembelajaran sejarah di lingkungan madrasah dan sekolah Tarbiyah – PERTI.

Buya Endar sendiri tak lain adalah aktifis Tarbiyah-PERTI pada masanya. Sebelum beraktifitas di Kota Bengkulu dan di Taman Budaya Bengkulu, Buya Endar sempat mengabdikan dirinya sebagai tenaga pendidik di Madrasah Tsanawiyah Tarbiyah Islamiyah Curup. Lulusan Pesantren Sribandung, Gontor dan Jombang ini juga aktif sebagai pengurus Tarbiyah kala itu. Selain juga aktif di komunitas Teater Kito Curup. Ayahnya, KH. Ali Manaf juga salah satu tokoh PERTI Curup. Bahkan lulusan dari Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Canduang. Selain aktif di madrasah, sekolah, organisasi PERTI dan Masjid Jamik Curup, Kiai Ali Manaf juga aktif berdakwah keliling wilayah Rejang Lebong bahkan sampai jauh. Keluar masuk desa guna memberikan suluh bagi masyarakat mengenai Islam secara Ahlissunnah wal Jama’ah dan madzhab Imam Syafi’I.


Penulis alumni Madrasah Tarbiyah Islamiyah Curup, Pesantren Arrahmah Curup dan Pesantren Nurul Huda Sukaraja OKU Timur. Selain sebagai Ketua PC Tarbiyah-PERTI Rejang Lebong dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Tarbiyah Rejang Lebong, penulis juga Wakil Ketua Yayasan PPNH Sukaraja. Bersama sesama rekan senior aktivis dunia gerakan mahasiswa di Kota Bengkulu, terutama PMII, PMKRI dan IMM, pernah mendirikan BINUKA Institute dan Khairani Study Centre. Dibantu para sahabatnya yang alumni pesantren dan aktivis PMII serta Dra. Eni Khairani, M.Si., pernah pula merintis Madrasah Nurul Huda Sungai Kotong di Desa Sunda Kelapa, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah.

Artikel ini bersumber dari : bengkulu.sahabatrakyat.com.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari Travelling.Web.id di Google News

  • Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *