Tradisi Mandi Safar Ritual Tolak Bala Masyarakat Adat Tanjung Jabung Timur

Jambi: Bulan Safar dalam penanggalan kalender Islam masih dikultuskan sebagian umat Muslim beberapa daerah di Tanah Air. Salah satunya tradisi Mandi Safar yang masih rutin digelar oleh masyarakat Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi.
 
Masyarakat sepanjang kawasan delta Sungai Batanghari, dekat Taman Nasional Berbak, ada sebuah desa pesisir bernama Air Hitam Laut. Desa di tepi pantai ini spesial karena dijadikan tempat bagi warga Jambi untuk melakukan ritual budaya Mandi Safar.
 
Masyarakat di sana percaya, bulan Safar Tuhan menurunkan ratusan ribu macam bencana ke dunia. Terutama pada Rabu terakhir bulan ini. Hal ini juga dipercaya oleh masyarakat Jambi dan menjadi dasar dari pelaksanaan ritual Mandi Safar. Meskipun mereka menegaskan, bahwa ritual ini hanyalah sebuah budaya turun-temurun dan bukan termasuk dari ritual keagamaan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Awalnya, Mandi Safar adalah ritual warga setempat yang dilakukan masing-masing individu secara turun temurun,” kata Sekda Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Sapril di Jambi, Kamis, 22 September 2022.
 
Untuk mencapai Desa Air Hitam Laut, Kecamatan Sadu, Tim Ekspedisi Sungai Batanghari dari Kenduri Swarnabhumi Kemendikbudristek melakukan perjalanan dengan kapal laut selama hampir 4 Jam dari Dermaga Muara Sabak, Kampung Singkep, Muara Sabak Barat.
 

Jalur tercepat menuju ke Desa Air Hitam Laut harus menelusuri Sungai Batanghari hingga keluar muara. Lalu melewati laut lepas selama tiga jam sebelum akhirnya berlabuh di Desa Air Hitam Laut. Perjalanan darat bisa dilakukan, tapi membutuhkan waktu hingga minimal 12 jam setelah melewati jalan aspal berlubang.
 
Tim Ekspedisi tiba sehari sebelumnya yakni pada Selasa, 20 September di Dermaga Air Hitam Laut saat matahari berada tepat di atas kepala. Tim Ekspedisi disambut warga setempat yang menarikan Tari Sekapur Sirih, khas tari Melayu. 
 
Tim dan seluruh rombongan Kenduri Swarnabhumi menginap di rumah warga dan komunitas Air Hitam. Tim Ekspedisi kebetulan menempati sebuah rumah yang dekat dengan pantai.
 
Para Rabu 21 September kemarin, tepat pada Rabu terakhir di Safar 1444 Hijriah, bertepatan dengan masyarakat Desa Air Hitam Laut merayakan ritual budaya Mandi Safar. Ritual budaya tersebut sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Namun, kini menjadi festival budaya dan dihelat setiap tahun oleh Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
 

Warga saling siram saat pelaksanaan Tradisi Mandi Safar 2022 di Pantai Babussalam, Tanjungjabung Timur, Jambi, Rabu, 21 September 2022. Antara/Wahdi Septiawan
 
Namun, ritual tersebut, mulai dikemas secara serius oleh Pemerintah Provinsi Jambi pada 1970. Dengan kegiatan budaya yang bersifat masif, setiap tahunnya, acara Mandi Safar didatangi ribuan wisatawan. Lokasi kegiatan budaya tersebut pun mulai dihelat di pinggir pantai. Bukan lagi di rumah masing-masing warga.
 
“Itu murni ritual budaya saja, bukan ritual agama. Selalu dilaksanakan pada bulan Safar tahun Hijriah. Tujuannya untuk menolak bala. Agar warga desa Air Hitam laut itu bisa sejahtera,” ucap Sapril.
 
Pantai tempat Ritual Budaya Air Hitam Laut juga dikenal dengan nama Pantai Babussalam. Keesokan harinya, ribuan orang tumpah ruah membanjiri Pantai Babussalam, Desa Air Hitam Laut. Bukan hanya diramaikan warga desa tersebut, pendatang juga ada yang berasal dari luar Jambi.
 
Ritual ini dipimpin para tetua adat dan dibantu oleh Komunitas Budaya Air Hitam yang terdiri dari pemuda dan pemudi Desa Air Hitam Laut. 
 
“Mandi Safar ini ritual budaya, bukan syariat Islam. Selalu digelar setiap Rabu bulan Hijriah,” kata Ketua Adat Desa Air Hitam Laut sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Wali Petu, Tanjung Jabung Timur, As’ad Arsyad.
 
Mandi Safar dimulai sejak matahari terbit. Ritual dimulai dengan pembacaan doa dan lantunan selawat bersama-sama. Dilanjutkan dengan prosesi melarungkan menara tunggal tiga tingkat setinggi hampir lima meter. 
 
Setiap tingkatan mewakili pemahaman Iman, Ihsan dan Islam. Menara tersebut berbentuk segi empat, yang melambangkan unsur penciptaan air, api, angin dan tanah. Kemudian, kalimat-kalimat doa dituliskan di atas 1.111 lembar daun. Untaian doa tersebut diharapkan bisa menjadi penangkal musibah. 
 
“Jumlah daunnya harus ganjil karena angka yang baik,” ucap As’ad.
 
Kemudian secara perlahan, ribuan orang mulai menceburkan diri ke air laut Pantai Babussalam.
Wanita dan pria tidak boleh mandi bersama. Panitia membentangkan tali sebagai pembatas. Prosesi tersebut baru selesai menjelang tengah hari. 
 
Ritual Mandi Safar merupakan acara puncak festival kebudayaan Desa Air Hitam Laut. Sebelumnya, para santri Ponpes Wali Petu Desa Air Hitam juga melakukan khataman Al-Qur’an.
 
Menurut As’ad, warga Desa Air Hitam Laut meyakini, setiap Rabu di pekan terakhir bulan Hijriah akan datang 120.000 bala. “Makanya dilakukan proses Mandi Safar, untuk menolak bala tersebut,” ucapnya.
 
Ritual ini konon sudah dilakukan sejak ratusan tahun lalu. Mulanya hanya dilakukan oleh warga Desa Air Hitam Laut di rumah masing-masing. Namun, sejak 1965, mulai dilakukan secara masif dan terkonsentrasi di Pantai Babussalam. Tujuannya, agar ritual Mandi Safar bisa lebih bermakna dan menjadi satu tradisi adat istiadat yang bisa menarik perhatian dunia. 
 
“Insyaallah, tradisi budaya ini akan terus dijaga. Terus dipertahankan karena menjadi perekat silaturahmi masyarakat Air Hitam Laut,” ujar As’ad
 

(WHS)

Artikel ini bersumber dari : www.medcom.id.

Tinggalkan komentar