Untar Gelar Wayang Kulit Semalam Suntuk dan Tampilkan Dalang Perempuan

Diposting pada

Jakarta:  Universitas Tarumanagara (Untar) menggelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk sebagai salah satu rangkaian kegiatan di Hari Ulang Tahunnya yang ke-63.  Ada yang unik dalam pementasan wayang kulit kali ini, Untar menampilkan sosok dalang perempuan Elisha Orcarus Allasso.
 
Rektor Untar, Agustinus Purna Irawan mengatakan, pegelaran wayang kulit ini melengkapi rangkaian kegiatan HUT ke-63 Untar.  “Wayang ini dalam rangka HUR Untar ke 63. Rangkaian panjang, ada gerak jalan, baksos, seminar budaya,” kata Agustinus, di kampus Untar, Sabtu malam, 7 Oktober 2022.
 
Untar memilih wayang sebagai salah satu kegiatannya, salah satunya adalah sebagai bentuk pelestarian budaya Indonesia.  Tidak hanya itu, wayang kulit juga memiliki nilai-nilai pendidikan yang mendalam.





Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Dalam pementasan kali ini, membawakan cerita ‘Semar Mbangun Kayangan’ yang memiliki makna kebaikan dan kejahatan, di mana kejahatan pasti akan kalah dengan kebaikan,” terang Agustinus.
 
Agustinus mengatakan, Semar digambarkan sebagai salah satu dari tiga dewa prajurit terkuat yang lahir dari satu telur dewa.  Menurut Agustinus, Semar adalah dewa yang hebat, tapi kemudian dia melihat situasi di kayangan dan dunia, kemudian ditugaskan untuk mendampingi dunia, agar dunia seperti kayangan.
 
Namun ketika Semar pergi ke dunia, ia juga melihat situasi kayangan menjadi berantakan. “Akhirnya dia kembali membangun kayangan, membangun kehidupan masyarakat yang harmoni, tidak ada kekerasan, pertentangan, saling menghormati, menghargai, sesuai dengan nilai kita, integritas, dan Untar ingin kontribusi di mana kita punya tekad Untar untuk indonesia. Kehadiran untar seperti semar membangun kayangan, menjadi harmoni, semangat, saling menghargai untuk kebersamaan, kemakmuran,” papar Agustinus.
 
Untar Gelar Wayang Kulit Semalam Suntuk dan Tampilkan Dalang Perempuan
Pagelaran wayang kulit merayakan HUT ke-63 Untar. Foto: Medcom.id/Citra Larasati

Baca Juga :   Touring Merdeka, Bikers dari Berbagai Daerah di Indonesia ‘Sentuh’ Titik Nol Bitung Sulawesi Utara

Dalang Perempuan

Dalam pentas kali ini juga menampilkan Elisha Orcarus Allass sebagai dalang wanita.  Elisha merupakan lulusan pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
 
Pemilihan Elisha sebagai dalang sekaligus menyampaikan pesan bahwa sebuah profesi itu tidak hanya dimiliki oleh laki-laki atau perempuan saja.  Semua gender bisa sama-sama maju selama memiliki kompetensi.
 
“Tidak ada diskriminasi profesi, lalu ini juga karena khas, Elisha memiliki talenta,” ujarnya.
 
Agustinus mengatakan, pihak kampus selalu berusaha menanamkan budaya Indonesia kepada mahasiswanya.  Hal itu terlihat dari sejumlah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bergerak di bidang budaya.
 
Tidak berhenti sampai di situ, Untar juga selalu menampilkan pertunjukan budaya di setiap momentum wisuda.  “Wisuda Untar selalu menggilir budaya provinsi di indonesia. Wisuda nanti budaya Bali, sebelumnya Manggarai, Pontianak dan lainnya. Itu juga pendidikan kebudayaan untuk mahasiswa. Di Untar selalu kita tampilkan ada budayanya. Pas seminar ada tari2annya, ada sambutannya dalam bentuk budaya. Kegiatan Natal, Lebaran, Imlek semua dikemas dalam bentuk acara budaya. Budaya di Untar kita kembangkan melalui berbagai aktivitas,” jelasnya.
 
Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan Untar, Ariawan Gunardi mengatakan, pagelaran wayang kulit ini merupakan bagian dari konsep Untar untuk Indonesia.  “Konep Untar untuk Indonesia dan salah satunya adalah melalui pagelaran wayang kulit semalam suntuk,” kata Ariawan.
 
Menurut Ariawan, wayang kulit juga merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui UNESCO, sehingga bangsa Indonesia harus pula bangga dengan keberadaannya.  “Wayang ini juga unik, karena tidak hanya sepakbola yang bisa mengumpulkan orang banyak, tapi wayang juga menjadi alat atau media pembelajaran.  Terpenting adalah untuk media berkumpul tanpa membedakan SARA, sebab kita semua yang hadir ini dari pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi hadir untuk menonton wayang ini,” tutup Ariawan.

Baca Juga :   Festival Phinisi Bulukumba masuk agenda nasional Kemenparekraf

 

(CEU)

Artikel ini bersumber dari : www.medcom.id.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari Travelling.Web.id di Google News

  • Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *