Wakil Ketua Dewan Pers Agung Dharmajaya : Media Harus Miliki Ciri Khas Agar Bertahan

Diposting pada

Narasumber yang tampil pada “BRI Media Engagement Jurnalisme Perbankan di Era Transformasi”, yang diadakan oleh Bank BRI Regional Sumatera Utara, di Hotel Mercure Medan, Jumat (7/10/2022) foto bersama usai kegiatan. Salah satu pembicara adalah Wakil Ketua Dewan Pers Agung Dharmjaya.

tobasatu.com, Medan | Media mainstream di Indonesia diharapkan mampu menyuguhkan informasi yang akurat dan terpercaya, di tengah gempuran disruptif digitalisasi. Selain itu untuk bertahan media juga harus memiliki ciri khas dalam pemberitaan.

Demikian diungkapkan Wakil Ketua Dewan Pers Agung Dharmajaya saat menjadi pembicara pada kegiatan “BRI Media Engagement Jurnalisme Perbankan di Era Transformasi”, yang diadakan oleh Bank BRI Regional Sumatera Utara, di Hotel Mercure Medan, Jumat (7/10/2022).

Kegiatan yang dibuka langsung oleh Regional CEO BRI Medan Budhi Novianto dan menghadirkan pembicara Komisi Hubungan Antar Lembaga Dewan Pers Totok Suprapto, Regional Operation Head BRI Medan Barkah Mulyatno dan Titis Nurdiana, serta Wapemred Kontan yang fokus membicarakan tentang Industri Perbankan.

Menurut Agung, saat ini pertumbuhan media sangat pesat khususnya media online. Setiap hari, kata Agung, Dewan Pers harus memeriksa setidaknya 100 berkas media online yang ingin diverifikasi aktual. Karena itu, jika berita media biasa-biasa saja, maka media tidak akan mampu mendapatkan pasar pembaca.

“Pertumbuhan media online itu yang cukup pesat ada di Sumatera Utara dan Kepri. Setiap hari ada 100 berkas yang harus kami periksa untuk diverifikasi,” sebutnya.

Namun tumbuh suburnya media online itu kata Agung, hendaknya diiringi dengan profesionalisme sehingga media tersebut mampu menyuguhkan informasi yang dibutuhkan masyarakat.

“Media harus mampu menyajikan berita yang lain dari yang lain. Kalau beritanya biasa-biasa saja dan sama dengan media lain, maka tidak akan bertahan lama. Pada akhirnya seleksi alam lah yang akan menentukan media akan bertahan lama atau tidak,” sebut Agung.

Dia juga menyayangkan banyak informasi yang didapat media dari humas suatu instansi hanya dimuat secara utuh tanpa diedit ulang atau dikonfirmasi lebih lanjut.

Baca Juga :   DERETAN Tempat Wisata di Medan yang Instagramable dengan Spot Foto Menarik

Senada dengan Agung, anggota Dewan Pers Totok Suprapto menambahkan bahwa wartawan harus membangun jaringan. Dia mencontohkan kasus kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang. Media lokal tidak bisa hanya mengutip bulat-bulat informasi yang beredar luas di media sosial, tapi harus mengonfirmasi ulang informasi tersebut dengan pihak yang berkompeten.

Harus Tau KeinginanMasyarakat

Sedangkan Titis Nurdiana, Wapemred Kontan mengatakan dalam membuat berita, kita harus tau dahulu apa saat ini yang diinginkan masyarakat. Dia mencontohkan adanya informasi soal ancaman resesi pada tahun 2023. Maka media menurutnya seharusnya mencari informasi yang sebanyak-banyaknya tentang resesi.

“Apa yang harus dilakukan masyarakat,bagaimana masyarakat mempersiapkan diri. Informasi itu akan dicari pembaca,” sebutnya.

Dia juga menjelaskan bahwa dalam membuat berita perbankan harus dengan data yang akurat. Soalnya, berita tanpa data bisa berakibat bank tersebut menjadi rush atau nasabah menarik dananya ramai -ramai dari bank tersebut yang gilirannya ekonomi menjadi terganggu.

“Meskipun dengan data tapi tetap menggunakan hati nurani, kalau berita ini dibuat efek ke publik seperti apa,” ucapnya.

Regional CEO BRI Medan Budhi Novianto memaparkan pers mendukung kinerja perbankan. Di tengah gempuran dunia digital yang mengubah gaya hidup, bank juga perlu melakukan inovasi termasuk BRI yang meluncurkan aplikasi digital.

Regional BRI Medan yang mencakup Sumatera Utara, kata Budhi, terus mendukung kemudahan akses perbankan seperti realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) posisi Agustus 2022 mencapai Rp8 triliun dari target tahun 2022 sebanyak Rp13 triliun. Pinjaman KUR dari Rp25 juta sampai Rp250 juta. Semua KUR itu untuk pinjaman UMKM.

Artinya, pinjaman Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) cukup baik pengembaliannya dimana Non Performing Loan (NPL) cukup rendah di bawah 2 persen. (ts-02)


Artikel ini bersumber dari : www.tobasatu.com.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari Travelling.Web.id di Google News

  • Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *