Warna-Warni Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia

Diposting pada

SEORANG lelaki berpakaian serba putih berdiri di tepi rel. Sepotong kain tersampir di pundaknya. Tangannya memegang mikrofon. Kereta barang lewat di hadapannya. Ceramahnya terpotong beberapa jenak. Arkian kereta berlalu, dia tersenyum dan memulai ceramahnya lagi. Para pendengarnya berada di seberang tepi rel lainnya.

Itulah perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di permukiman padat yang terbelah rel kereta di Comboran, Malang. Perayaan ini terekam dalam sebuah video yang viral (7/10/22) di media sosial. Keterbatasan suasana tak mengurangi makna perayaan Maulid. Menunjukkan begitu kuatnya tradisi ini melekat di kalangan masyarakat Indonesia yang beragama Islam.

Istilah ‘Maulid’ berasal dari bahasa Arab. Akar katanya walada, yalidu-wulud yang berarti kelahiran. Kata ini kemudian direkatkan pada Nabi Muhammad SAW untuk memperingati kelahirannya tiap 12 Rabiul Awal, bulan ketiga dalam kalender Islam (Hijriah/H).

Menurut Moch. Yunus dalam “Peringatan Maulid Nabi (Tinjauan Sejarah dan Tradisinya di Indonesia”, ada dua versi tentang kali pertama Maulid Nabi dirayakan dalam dunia Islam. Versi pertama mencatat Maulid diadakan kali pertama oleh khalifah Mu’iz li Dinillah, khalifah dinasti Fathimiyyah di Mesir yang hidup pada 341 H (902 Masehi).

Versi kedua menyebut Maulid diadakan oleh khalifah Mudhaffar Abu Said pada 630 H (1233 Masehi). Perayaannya berlangsung 7 hari 7 malam. “Dalam acara Maulid itu ada 5.000 ekor kambing, 10.000 ekor ayam, 100.000 keju dan 30.000 piring makanan. Acara ini menghabiskan 300.000 dinar uang emas,” catat Moch. Yunus seperti termuat di Humanistika, Volume 5, Nomor 2, Juni 2019.

Meski berbeda pendapat tentang kapan asal mula Maulid, sejarawan umumnya sepakat bahwa Maulid mulai dirayakan setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Perayaan ini kemudian tersebar ke banyak tempat seiring penyebaran Islam ke antero dunia. Termasuk ke Nusantara.

Tradisi Maulid di Indonesia muncul, berkembang, dan bercampur dengan kultur masyarakat tempatan. Tak mengherankan bila bentuk perayaannya berbeda dari satu tempat dengan tempat lainnya.

Baca juga:

Sejarah Perayaan Maulid Nabi


1. Coka Iba di Halmahera Tengah

Dalam perayaan ini, sekelompok orang berkumpul menggunakan busana serba putih dan mengenakan topeng yang atraktif. Coka Iba secara harfiah berarti pasukan topeng. Topeng merupakan tradisi lama masyarakat sebelum kedatangan Islam di Halmahera.

Baca Juga :   Peserta PKN-I Angkatan 53 Usulkan Zona Kebudayaan Masuk Instrumen Reformasi Birokrasi – PETISI.CO

Setelah Islam datang, ritual ini tetap digelar, tapi dengan makna berbeda, yaitu bentuk syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Sebelum ritual dimulai, imam masjid setempat melantunkan puja-puji dan doa untuk Nabi Muhammad SAW dari maghrib sampai Isya. Di tengah rapal pujian dan doa itu, sejumlah orang menyiapkan perlengkapan ritual Coka Iba.

Esok harinya, mereka berkumpul di masjid, lalu berkeliling kampung. Mereka melakukan aksi teaterikal menangkapi warga yang berada di luar rumah. Warga yang tertangkap lalu diminta masuk rumah dan merayakan Maulid dengan berdoa atau membaca puja-puji.

2. Walima di Gorontalo

Walima berasal dari bahasa Arab. Artinya perayaan atau kenduri. Masyarakat Gorontalo membuat Walima untuk merayakan Maulid sejak Islam berkembang di sini pada abad ke-17.

Walima menekankan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan berbagi kue atau panganan dalam beberapa wadah. Walima atau wadah berisi panganan ini diarak dari satu masjid ke masjid lainnya.

Walima disiapkan secara tekun berbulan-bulan sebelum Maulid. “Walima dibuat dengan berbagai keteraturan dan ukuran yang mempunyai ciri khas unsur budaya Gorontalo. Ada yang membuat Walima dengan ukuran sedang dan ada pula yang membuat dengan ukuran raksasa,” sebut Muhrizal H. Rahman dkk. dalam “Tradisi Walima (Suatu Studi Etnografi di Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo)”.

Sembari mengarak Walima, beberapa warga melantunkan zikir dan doa. Beberapa Walima kemudian dibagikan kepada para pezikir, masyarakat, pemimpin pemerintahan, dan pemuka adat. Sekilas Walima mirip tradisi Grebeg di Jawa.


Baca juga:

Keraton Kasunanan Surakarta Tiadakan Tradisi Budaya Grebeg Maulud


tradisi maulid nabi
Grebeg yang bertepatan dengan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW disebut Grebeg Mulud. (Foto: Unsplash/Angga Indratama)

3. Grebeg di Solo dan Yogyakarta

Tradisi Grebeg berjejak pada masa Kerajaan Hindu-Budha di Jawa. Beberapa kali dalam setahun, raja akan mengeluarkan sesaji untuk roh leluhur. Sesaji itu ditaruh di sejumlah candi. Saat Islam berkembang, tradisi ini memperoleh pemaknaan baru. Bukan lagi ditujukan kepada leluhur, melainkan untuk sesama manusia sebagai wujud rasa syukur atas pemberian Tuhan dan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga :   9 Rekomendasi Jajanan Kekinian di Makassar yang Sedang Tren

Grebeg berarti mengumpulkan hasil bumi dalam suatu tempat untuk diberikan kepada masyarakat. Grebeg dilakukan beberapa kali dalam setahun oleh Keraton Solo atau Yogyakarta. Grebeg yang bertepatan dengan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW disebut Grebeg Mulud.

“Ditandai dengan gunungan makanan dari dalam kompleks keraton untuk dibawa ke Masjid Agung Keraton. Gunungan tersebut biasanya kemudian diserahkan menjadi acara rebutan warga. Setiap orang akan bersaing sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan hasil-hasil bumi yang tersusun rapi di dalam gunungan,” terang Adi Teruna Effendi dalam Jejak Islam di Nusantara.

4. Badikia di Padang Pariaman

Badikia berarti berzikir. Ritual ini berlangsung untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW sebelum, selama, dan setelah 12 Rabiul Awal. Pada prakteknya, Badikia tak hanya berzikir, tetapi juga melamang (membuat makanan lemang), mahanta kue (mengantar kue ke surau atau masjid), dan bajamba (berlomba-lomba dalam kebaikan).

Badikia dimulai dengan aktivitas berzikir. Beberapa orang duduk bersila di surau atau masjid dan merapal puja-puji dalam bentuk syair untuk Nabi Muhammad SAW. Isi syair tentang sejarah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW. Selama rapalan tersebut, para ibu membuat lemang. Beberapa lainnya juga mengantar kue ke tempat rapalan.

Badikia sarat makna filosofis. Warga mengeratkan dirinya bersama-sama dalam ikatan kecintaan pada Nabi Muhammad SAW dan kepercayaan pada kebaikan. Membagi lemang dan kue-kue lainnya merupakan sebentuk perlombaan dalam kebaikan. (dru)

Baca juga:

Sri Sultan HB X Ikut Ambil Gunungan Grebeg Sekaten



Artikel ini bersumber dari : merahputih.com.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari Travelling.Web.id di Google News

  • Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *