Warung Mek Metar, Tiga Generasi Pertahankan Kelezatan Serombotan

SEMARAPURA, NusaBali.com – Penggemar kuliner tradisional Bali, utamanya di wilayah Klungkung, tak akan asing dengan nama Warung Mek Metar. Ya, warung serombotan ini sudah berdiri selama tujuh dekade!

Warung serombotan berlokasi di Jalan Untung Surapati, Semarapura Tengah, Klungkung tepatnya di sebelah selatan SDN 1 Semarapura Tengah, sudah dijalankan oleh tiga generasi berbeda. 

Perintisnya adalah Mek Metar yang pada tahun 1950an berjualan makanan khas Klungkung ini. Kemudian, warung ini dilanjutkan oleh Mek Galung, dan sejak 1980an diteruskan oleh Ni Kadek Sriani, 46.

“Dulu yang punya ini Ninik (nenek) saya Mek Metar, lalu turun ke anaknya yang bernama Mek Galung (bibiknya). Sewaktu SD saya sering membantu beliau berjualan dan sekarang turun ke saya sebagai generasi ke-3 setelah keduanya almarhum,” ujar Ni Kadek Sriani saat ditemui, Selasa (13/9/2022) siang.

Itu sebabnya resep dari generasi pertama bisa terus terjaga cita rasanya.

“Takaran bumbu selalu sama dari generasi pertama jadi rasanya tidak berubah. Soal rasa itu kan tergantung dari garis tangan jadi tetap menggunakan resep turun-temurun,” kata Sriani.

Nama warungnya pun tidak pernah diubah olehnya, menurut Sriani walaupun neneknya sudah almarhum, namun nama warungnya tetap dikenal dengan nama Mek Metar. 

Makanan berbahan dasar dari berbagai sayuran rebus ini menjadi ikon Klungkung dengan julukan Bumi Serombotan. Sehingga terlihat dari pantauan, di setiap sudut kota Klungkung akan ada banyak warung yang menjual serombotan. Namun, warung Mek Metar memiliki cita rasa tersendiri.

“Rasa bumbunya pasti berbeda karena kita pakai terasi dari lombok yang otomatis rasanya akan berbeda dari penjual lainnya,” ujar Sriani.

Ditanya tentang cara pembuatan sayur serombotan menurut Sriani tidak sulit, cukup merebus aneka sayuran seperti kangkung, bayam, buncis, kacang panjang dan sayuran lainnya. Kemudian semua sayur itu ditambahkan dengan Sambal Nyuh sejenis sambal yang terbuat dari kelapa parut. 

“Kalau orang yang beli suka pedas biasa saya tambahkan sambal uyah sera limo yang terbuat dari cabai, garam, terasi, dan perasan buah jeruk purut,” ujar Sriani.

Wanita yang berasal dari Nusa Penida ini menuturkan alasan dirinya tetap konsisten melanjutkan usaha serombotannya hingga kini karena agar pelanggan setianya tetap bisa merasakan enaknya serombotan buatan Mek Metar. 

Pelanggannya pun tak hanya dari warga lokal Klungkung saja, kini pecinta serombotan yang singgah ke warungnya kebanyakan berasal dari daerah Denpasar, Bangli, Gianyar, hingga Nusa Dua. Tak jarang pula konsumennya memborong serombotan hingga 10 sampai 15 bungkus sekaligus.

“Kadang mereka memang sengaja ke sini untuk beli serombotan tetapi ada juga mereka mampir karena sekalian beli kain di Pasar Klungkung,” paparnya.

Seiring perkembangan zaman, kini serombotan tidak hanya bisa ditemukan di Klungkung saja namun sudah tersebar dibeberapa daerah di Bali seperti Kuta dan Denpasar. 

Namun, Komang Febrianti, 21, seorang warga Nusa Dua menuturkan walaupun serombotan sudah mudah ditemukan diberbagai tempat di Bali, tetapi rasa serombotan Klungkung tidak ada duanya.

“Serombotan di luar Klungkung rasanya beda dari serombotan yang ada di Klungkung. Mulai dari rasa kelapanya yang kurang dan bumbu siramnya juga kurang enak karena hanya rasa pedas saja yang dominan,” Kata Febri.

Itu sebabnya tiap kali dirinya berkunjung ke Klungkung, Febri tidak pernah lupa membeli serombotan khas klungkung dan membawanya pulang sebagai oleh-oleh.

“Biasanya saya beli sekaligus lima bungkus atau lebih karena tidak tahu lagi kapan bisa ke Klungkung. Harganya juga terjangkau, jadi saya beli sekalian untuk orang rumah,” lanjut Febri. 

Warung sederhana dekat Kota Semarapura ini buka dari pukul 09.00 sampai 17.00 Wita. Harga serombotannya pun terjangkau hanya seharga Rp 5.000 per porsi dan Rp 7.000 jika dibungkus dengan bumbu yang terpisah. 

Tidak hanya serombotan yang ia jual, terdapat makanan lainnya seperti pepes, tipat santok, rujak buah, es campur, plecing kangkung, dan aneka jajanan lainnya. *ris


Artikel ini bersumber dari : www.nusabali.com.

Tinggalkan komentar