Wisata edukasi Yussar, musibah Lapindo menjadi berkah

Diposting pada

Masih segar dalam ingatan, 29 Mei 2006 bencana lumpur Lapindoo pertama kali menyembur di Porong Sidoarjo. Tak berselang lama ribuan warga mengungsi. Tak sedikit pula yang direlokasi. Sebanyak 16 desa akhirnya tenggelam ditelan derasnya lumpur yang terus menyembur. Bagaimana kabarnya sekarang?

LENSAINDONESIA.COM: 14 tahun berlalu bencana lumpur itu masih menyisahkan benang kusut. Ganti untung atas harta benda yang musnah akibat musibah pengeboran gas PT Lapindo itu tak sepenuhnya tercapai secara adil.

Desa Gempolsari dan Kalidawir di Kecamatan Tanggulangin yang berbatasan langsung dengan tanggul lumpur turut terdampak. Di tahun 2020 menjadi bencana lumpur yang di dua wilayah ini. Ratusan hektare tanah di kawasan mati suri. Tak lagi produktif. Rumah-rumah pun banyak ditinggalkan penghuninya.

Bencana seperti tak terputus, dulu semburan lumpur, 12 tahun kemudian disusul pandemi COVID-19 yang kengerianya berlangsung salam dua tahun. Warga yang bertahan semakin terpukul. Jumlah pengangguran meningkat. Mereka seolah tak ada asa.

Memotret keprihatinan atas dua bencana dalam dua dekade itu, salah seorang tokoh pemuda mulai berpikir solusi. Adalah Zahlul Yussar, putra asli Tanggulangin, Sidoarjo itu mencoba mengembangkan ide wisata di desanya. Ya, dia berfikir ekstrim, mengubah lokasi bencana yang menyimpan trauma itu menjadi sesuatu yang indah. Sesuatu yang bisa menyegarkan pikiran semua orang.

Zahlul Yussar mulai mengajak para pemuda untuk kolaborasi untuk memanfaatkan lahan tidur menjadi produktif. Memberdayakan aset tanah desa untuk membuka lapangan kerja baru.

Setahun sebelum pandemi, Zahlul mengawali membangun kandang kuda. Ide sederhana dengan mendirikan wisata berkuda. Namun sayang hasilnya masih sepi, minim peminat. Alhasil Yussar Horse Club yang didirikannya goyah saat pandemi COVID-19 belum genap setahun melanda. Kunjungan wisatawan terus menurun. Semakin sedikit pengunjung dan murid yang belajar berkuda.

Konsistensi baginya adalah kunci utama. Tak hanya bertahan, tapi mantan atlet berkuda itu berpikir semakin luas. Di saat semakin banyak pemuda yang kehilangan pekerjaan, Zahlul merangkulnya.

Ia kemudian menjalin kerjasama dengan pihak aparat Desa Gempolsari dan Kalidawir. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) juga dia dibentu bersama para pemuda Desa Kalidawir.

Perlahan, tanah terbengkalai dijadikan wisata edukasi yang diberi nama Yussar Fishing and Playground.

Yussar Fishing and Playground ini menyajikan paket piknik memancing dan arena bermain anak-anak. Wisata edukasi itu dikonsep sedemikian rupa dengan gemerlap lampu saat malam sehingga di setiap sudutnya menjadi spot yang instagramable. Bagian ini kemudian menjadi daya tarik luar biasa bagi pecinta swafoto.

“Konsepnya, pagi sampai sore bisa wisata berkuda. Bagi bapak-bapak bisa sambil memancing, anak-anak bermain di playground dan ibu-ibu bisa foto selfie dengan tempat yang instagramable. Alhamdulillah ada saja yang datang, biasanya weekend (Sabtu-Minggu) itu paling ramai. Wisata yang kami sediakan semua ada di satu lokasi, jadi wisata yang terintegrasi,” kata Zahlul Yussar saat ditemui lensaindonesia.com di Sidoarjo baru-baru ini.

Beruntungnya, pandemi pun membawa berkah. Masyarakat semakin karib dengan gadget. Media sosial menjadi rujukan. Wisata Yussar pun diviralkan. Saat semakin hingar, tak sedikit yang penasaran. Kunjungan wisata mulai bertumbuh. Perlahan, perekonomian desa ikut terdongkrak. UMKM mengambil peran. Menyiapkan cinderamata dan makanan ringan untuk buah tangan. Tercatat sudah ada 100 UMKM dari Paguyuban Dewi Sri di Kabupaten Sidoarjo turut kolaborasi di Yussar Fishing and Playground.

“Di Yussar ini kami juga menggandeng para pengusaha-pengusaha UMKM sekitar dua desa ini (Gempolsari dan Kalidawir). Mereka ini rata-rata ibu-ibu rumah tangga yang kita fasilitasi tempat agar bisa berjualan. Sekarang jumlahnya sudah ada 100 UMKM yang ikut berjualan di tempat kami. Macam-macam jualannya, produk makanan, minuman, oleh-oleh, dan lain-lain,” ungkap pria 25 tahun ini.

Melihat respon masyarakat sekitar Sidoarjo yang antusias meramaikan tempatnya, ia mengaku senang. Karena masyarakat tak perlu jauh-jauh dan keluar biaya mahal untuk bisa berwisata dengan keluarga. Apalagi tiket masuk wisata Yussar Fishing and Playground juga murah meriah.

“Kalau weekday (Senin-Jumat) masuknya bayar Rp 5.000 dan kalau weekend (Sabtu-Minggu) bayarnya Rp 8.000 per orang. Alhamdulillah setiap minggu pengunjung yang datang ke wisata Yussar mencapai 10-15 ribu orang. Kalau ditarik per bulannya rata-rata lebih dari 50 ribuan pengunjung,” urainya.

Dewi Sri Endang Prasetyowati si Ketua Paguyuban UMKM Sidoarjo pun berucap syukur karena diajak bergabung dengan komunitas UMKM Tanggulangin di wisata Yussar. Pasalnya, dengan adanya kesempatan ini, ia bersama para pelaku UMKM Dewi Sri lainnya merasa sangat terbantu dan kembali bisa mengais tambahan rezeki. Di awal pandemi, Endang hanya bersama 25 pelaku UMKM lokal lainnya yang ikut gabung di Yussar, namun kini kian banyak pelaku UMKM yang terberdayakan.

Baca Juga :   Daftar Kuliner Khas Bali Yang Wajib Anda Coba Ketika ke Pulau Dewata

“Setelah dicoba, eh ternyata penjualan kita bagus. Apalagi kami ini juga difasilitasi tempat, gazebo di wisata Yussar. Jadi tinggal masuk dan bawa barang saja,” ungkapnya dengan bibir memuai senyum.

Semakin berkembang, banyak lagi pelaku UMKM yang berminat. Kini tercatat 100 pelaku UMKM di sekitar Tanggulangin yang terlibat. Ia mengaku juga dibantu pelatihan bagaimana branding produk, cara pengemasan, hingga melengkapi perizinan. Alhasil, pendapatan pasca COVID-19 kini mulai stabil.

“Setiap ada even, UMKM kami tampil dan antusias. Apalagi di Yussar sekarang ini ramai, kami dari para pengusaha UMKM panen. Alhamdulillah,” kata dia.

Berbagai macam UMKM Dewi Sri rata-rata produk makanan. Seperti olahan keripik, makanan kering, makanan basah, minuman herbal dan minuman bunga telang. Produk hasta karya juga dijual. Mulai macam-macam rajutan, pembuatan tas yang bisa diberi nama.

Berkah wisata kian bisa dinikmati pelaku UMKM setempat. Ia menyontohkan pengrajin sepatu di Desa Kalidawir ikut meraskan manisnya wisata dengan banjir pesanan. Kini sekitar 8.000 pasang sepatu berkuda pun terjual. Dibeli oleh peminat olahraga berkuda yang berlatih di Yussar Horse Club. Bahkan sampai diekspor ke luar pulau di Indonesia.

“Alhamdulillah sekarang sudah mulai stabil, walaupun tidak banyak-banyak banget, tapi ada saja orderan setiap harinya,” ucapnya penuh syukur.

Wisata Integrasi

Kini wisata Yussar masih terus berbenah. Mempercantik diri. Menarik minat wisatawan. Zahlul pun menyiapkan paket wisata yang lebih luas di wilayah Sidoarjo. Konsep telah dibuat dan mulai dijalankan. Wisatawan tak hanya bisa menikmati fasilitas di Yussar Fishing and Playground atau Yussar Horse Club, namun juga bisa wisata berkuda hingga ke area tanggul lumpur Sidoarjo.

Selain itu, pengunjung bisa ke Pulau Lusi, spot yang terbentuk akibat semburan lumpur panas Sidoarjo. Lusi sendiri merupakan akronim dari lumpur Sidoarjo.

Wisata ini diintegrasikan pula dengan setra kerajinan tas dan sepatu Tanggulangin hingga wisata sejarah di Candi Pari yang letaknya di Porong.

“Harapannya dengan wisata yang terintegrasi, kunjungan wisatawan di Sidoarjo bisa meningkat. Efeknya, okupansi hotel di Sidoarjo juga bisa tinggi. Perputaran uang juga bisa melonjak. Perekonomian Sidoarjo bisa melesat,” ujar Zahlul.

Tak berhenti berinovasi, Zahlul bersama 100 pemuda Kalidawir dan Gempolsari yang turut menjadi pengelola wisata juga menyiapkan konsep baru. Saat ini dalam tahap pengembangan pembangunan kebun binatang mini untuk melengkapi destinasi wisata Yussar.

“Sekarang ini masih 70 persen. Kini dikebut buat mini zoo, kereta mono rel melintasi kolam dan persawahan. Dilengkapi dengan edukasi peternakan dan pertanian untuk anak-anak. Semua dalam satu area,” ujarnya.

Zahlul menargetkan pembangunan tuntas 100 persen di penghujung tahun ini. Zahlul menyebutnya, Wisata Yussar Ecopark.

Grand launching akhir 2022 nanti kami akan mengundang Pak Sandiaga Uno (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif). Bismillah semoga lancar dan membawa berkah untuk masyarakat Tanggulangin Sidoarjo, khususnya warga Desa Gempolsari dan Kalidawir,” harapnya.

Dukungan dan Apresiasi

Pakar Ekonomi Universitas Airlangga Surabaya Imron Mawardi menilai dunia pariwisata membutuhkan dukungan dari usaha yang lain. Menurutnya, kalau ada tempat wisata maka akan bermunculan usaha makanan atau minuman. Semua saling membutuhkan dan melengkapi, mulai buah tangan hingga kuliner khas.

“Intinya keberadaan pariwisata ini cukup bagus untuk bisa mendorong lahirnya industri kreatif. Sebagai catatan penting, tulang punggung ekonomi Jatim dari UMKM yang mencapai 7 juta pengusaha dengan dukungan pada PDB mencapai lebih 50 persen,” jelasnya.

Bahkan, efek penyerapan tenaga kerja juga menjadi cukup besar. Dan keberadaan mereka ini dapat terhitung dengan jelas dan memang bisa diandalkan.

“Maka ketika UMKM bisa terus tumbuh, harusnya mulai dipetakan. Orientasinya harus maju juga. Kalau sebelumnya pangsa pasarnya hanya lokalistik saja, maka setelah dipetakan dengan baik oleh pemerintah, bisa diarahkan untuk merebut pasar di luar yang lebih luas lagi,” kata Imron.

Imron mejelaskan, Provinsi Jatim memiliki cukup banyak sentra-sentra industri kerajinan dan makanan ringan.

“Kalau ini betul-betul difasilitasi oleh pemerintah, tentu bisa jadi kekuatan. Kelebihan kita, banyak yang bekerja di sektor non formal dan industri kita didominasi mikro kecil, maka mereka ini lebih tahan. Bisa kita lihat saat terjadi krisis, keadaan di Indonesia relatif lumayan baik dibanding negara ASEAN yang lain. Karena sifat dari ekonomi kita didominasi dan dihasilkan usaha mikro kecil,” katanya.

Terlebih pasca pandemi, kunjungan wisata melonjak drastis. “Banyak masyarakat yang butuh healing. Apalagi kultur belanja wisatawan cukup besar, karena mereka berwisata untuk rileks. Maka bisanya tidak eman-eman untuk mengeluarkan uang termasuk membeli makanan dan oleh-oleh,” paparnya.

Baca Juga :   Jadi Favorit Snorkeling, Ini Potret Keindahan 4 Destinasi Wisata Bawah Laut Kabupaten Malang

Terkait wisata Yussar, ia menilai ada target pasar yang tepat dan jelas. Segementasinya mengakomodasi semua usia.

“Kalau membidik pasar keluarga, maka otomatis harus menyiapkan wisata yang lengkap. Butuh kreativitas tinggi dan sering berganti untuk memancing orang datang kembali. Kalau itu-itu saja, orang ya bosen. Intinya harus inovatif. Apalagi jika terintegrasi dengan berbagai macam pasar dan sektor usaha lain, maka bisa memberikan dampak ekonomi yang tinggi,” jelasnya.

Sektor pariwisata dinilainya akan terus berkembang pesat, bila pendapatam masyarakat per kapita meningkat. “Saat orang sudah mampu mencukupi kebutuhan primer, sekunder maka mereka pasti akan memenuhi kebutuhan tersiernya dengan berwisata,” imbuh Imron.

Menurutnya, wisata Yussar juga bisa menjadi percontohan wisata desa-desa lain. “Kalau pengunjungnya sebulan sampai 50 ribu orang, maka Jawa Timur gak kalah sama Jawa Tengah. Di sana juga bermunculan wisata yang mulai hits dan pengunjungnya ramai luar biasa,” bandingnya.

Apresiasi dan dukungan juga datang dari Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jatim Adam Rusydi. Kata dia, kalau ada wisata yang bisa menggandeng, apalagi membangkitakan para pelaku UMKM dengan jumlah yang tidak puluhan tapi ratusan, maka patut diapresiasi.

“Kami di Komisi E DPRD Jatim bangga dan senang melihatnya. Saya pribadi salut. Tidak mudah membangun wisata yang terintegrasi dengan melibatkan banyak pelaku UMKM,” ungkap politisi muda ini.

Ia berharap, wisata yang diprakarsai Zahlul bersama Pokdarwis Kalidawir dapat terus mampu membangun kepercayaan masyarakat.

“Mereka pasti ingin berkembang UMKM-nya. Saya apresiasi Mas Zahlul bisa memberikan kepercayaan kepada masyarakat dan memberikan feedback yang baik pula ke mereka. Ini menjadi inovasi yang sangat luar biasa,” cetus anggota dewan asal Dapil Sidoarjo tersebut.

Desa Devisa

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa tahun ini menyiapkan sebanyak 15 desa devisa di Jawa Timur. Desa yang disiapkan dinilai memiliki potensi ekonomi kreatif dan diusulkan sebagai desa devisa ke pemerintah pusat bekerja sama dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).

“Tahun 2022 ini, Jawa Timur mendapat kuota sebanyak 15 desa untuk menjadi desa devisa. Saya meminta ke LPEI agar bisa diperluas menjadi 20 desa devisa,” ujar Khofifah.

Adapun, desa devisa merupakan program pendampingan yang digagas Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/Indonesia Eximbank berbasis pengembangan masyarakat atau komunitas. Program desa dvisa memberi kesempatan bagi wilayah yang memiliki produk unggulan berorientasi ekspor untuk mengembangkan potensinya secara ekonomi, sosial, dan lingkungan bagi kesejahteraan masyarakatnya.

Terdapat sejumlah pertimbangan aspek dalam menentukan desa devisa. Di antaranya produk, konsistensi dan keberlanjutan produksi, pemberdayaan masyarakat dan koordinasi antarpemangku kepentingan, produsen dan manajerial, infrastruktur, serta sarana penunjang lainnya.

Ditambahkan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, ia optimis desa wisata dan produk pelaku UMKM di Desa Gempolsari dan Desa Kalidawir Sidoarjo layak dijadikan percontohan desa devisa.

“Saya optimistis dan yakin bahwa berbagai jalur penjualan online akan bersinergi menyejahterakan masyarakat. Maka Desa Gempolsari dan Desa Kalidawir sudah sangat layak dijadikan percontohan,” kata Emil.

Ia menilai wisata Yussar menjadi contoh desa yang menyediakan suguhan wisata yang mumpuni untuk menarik pengunjung datang. “Bagaimana desa wisata saling mendukung dengan memasarkan produk UMKM kepada pengunjung. Sedangkan wisata alam dan buatan yang indah. Nanti ujungnya, bersinergi dengan desa devisa. Jadi orang datang ke sini beli produk berkualitas ekspor,” ungkap Wagub.

Emil juga mengaku bangga adanya kolaborasi generasi milenial kedua desa yang saling berkreasi. “Wisata ini sudah menuju desa devisa karena punya produk unggulan ekspor. Bahkan dikelola secara mandiri. Tanggulangin punya produk berbahan dasar kulit yang luar biasa. Termasuk corak pakaian batik yang unik serta produk makanan yang enak. Khusus sepatunya sehari laku beratus-ratus item dengan sistem penjualan secara online,” tambahnya.

Sistem penjualan online, lanjut Wagub Emil, bukan hal yang klise melainkan nyata. Nantinya, Pemprov Jatim akan mengintegrasikan produk UMKM dengan Milenial Job Center.

“Ada produk makanan yang perlu dikemas lagi agar lebih baik. Mulai cara pemasaran digital sampai dibuatkan materi promosi yang mana talenta-talenta bisa kita mobilisasi untuk membantu transformasi digitalisasinya,” kata suami Arumi Baschin tersebut.

“Ketika produk UMKM berjalan otomatis, maka turut menggerakkan roda perekonomian. Di sini, penduduk desa tidak lagi menjadi penonton akan tetapi menjadi pelaku usaha yang turut membangun pertumbuhan ekonomi. Maka dari itu, saya pesan jangan dihilangkan semangat desa, yakni gotong royong dan saling memberi. Jangan menjadi warga yang individual. Seperti kata Bu Gubernur (Khofifah Indar Parawansa) rembuk nyekrup guyub rukun jangan sampai hilang,” ucapnya.@sarifa

Artikel ini bersumber dari : www.lensaindonesia.com.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari Travelling.Web.id di Google News

  • Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *