Yang Muda, Yang Gigih Menolong Sesama

Wulan Sofia saat memberikan pelayanan kesehatan untuk korban gempa Banten pada Januari 2022. (dok pribadi untuk JawaPos)

Bisa memberi pengobatan darurat di lokasi bencana atau melihat langsung antusiasme warga di pulau terpencil saat didatangi tim medis. Pengalaman-pengalaman berharga itulah yang menguatkan Wulan Sofia dan Wahyu Setyo Putro untuk menjadi relawan. Insiden kereta api anjlok dan gempa besar jadi penguat tekad mereka untuk menolong sesama.

LAILATUL FITRIANI, Surabaya

SEGALANYA dimulai dari rumah. Wulan Sofia kecil yang kerap melihat orang tuanya berbagi dengan tetangga sekitar tergerak untuk menirukan. Ketika memiliki dua jajan, misalnya, dia akan memberikan salah satunya ke teman. ’’Ibu selalu ngasih tahu kalau jadi orang itu nggak boleh rakus, harus berbagi. Sekecil apa pun harus bantu orang, kasih orang,’’ kenangnya.

Advertisement

Seiring usianya yang kian bertambah, kebiasaan sedari kecil itu terus tertanam. Dan, pada akhirnya menggumpalkan niatnya untuk terus mengulurkan tangan bagi sesama, dalam kapasitas yang dia mampu.

Pengalaman pertama sebagai relawan medis dia rasakan saat terjadi insiden kereta api anjlok di kampung halamannya di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 2014. Empat tahun setelah insiden itu, gempa besar mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ke sanalah Wahyu Setyo Putro untuk kali pertama menceburkan diri untuk menolong sesama. Pengalaman yang, seperti halnya Wulan, terus menggerakkannya ke berbagai medan bencana lain sebagai relawan.

Wulan dan Wahyu adalah bagian dari gelombang orang-orang muda yang tanpa lelah berbagi dengan sesama dan peduli kepada sekitar. Yang diwujudkan dalam beragam bentuk dan di berbagai tempat.

’’Saya ingat ada ibu-ibu yang terjepit minta tolong, cuma kelihatan tangan berdarah-darah, yang ternyata dia sedang melindungi anaknya yang masih kecil. Seketika saya ingat ibu di rumah,’’ tutur Wulan tentang pengalaman pertamanya sebagai relawan medis dalam insiden kereta api anjlok di Tasikmalaya.

Pada 2014 Wulan masih berstatus mahasiswi Poltekkes. Jatah cuti sakitnya masih panjang, sedangkan dia sudah kembali sehat. Tak tahan terlalu lama di rumah, dia akhirnya mengajukan diri untuk bantu-bantu di Puskesmas Ciawi, Kabupaten Bogor. ’’Puskesmasnya itu tipe yang terjun langsung ke masyarakat. Salah satunya pemberian obat kaki gajah dari dinkes setempat,’’ ujarnya.

Selama setahun mengabdikan diri di sana, Wulan tidak menerima bayaran sepeser pun. Sebab, statusnya belum lulus pendidikan. Meski begitu, dia menikmati tugasnya dan melakukannya dengan sepenuh hati.

Wahyu Setyo Putro beserta tim relawan RS Terapung Ksatria Airlangga setelah melaksanakan kegiatan sunat massal di Pulau Papagarang, NTT, pada Juli 2019

Begitu lulus dan menjadi bidan, Wulan kembali menerapkan ilmunya ke puskesmas, rumah sakit, hingga lembaga kemanusiaan. ’’Dua tahun ikut gerakan sana sini. Karena tidak boleh nyambi kerja yang lain, harus fokus ke program lembaga itu, jadinya nggak begitu sibuk. Namanya masih muda, penginnya satu hari full kegiatan,’’ lanjut perempuan 28 tahun itu.

Untung, seorang bidan koordinator puskesmas mengizinkannya tinggal di tempat praktiknya. Dia juga dipercaya untuk membantu menangani pasien. Wulan yang tak suka berdiam diri pun dengan senang hati melakukannya. ’’Sehari full sampai malam tetap ada kegiatan. Entah ada yang melahirkan, rujukan, kadang sampai subuh dan besoknya harus kerja,’’ paparnya.

Keluar dari lembaga kemanusiaan, Wulan memutuskan pindah ke Serang, Banten. Di sana dia mengurus segala perizinan buka praktik. Tidak betah hanya menunggu, dia memutuskan bergabung dengan Sekolah Relawan. Tepatnya di bagian social rescue disaster yang menangani kebencanaan, medis, dan infrastruktur.

’’Aku orang yang pengin langsung terjun ke lapangan. Di social rescue disaster, selain memang bidangku medis, kalau ada korban ya aku menangani korban. Kalau tidak ada korban, aku bantu evakuasi warga,’’ jelasnya.

Sebagai bidan muda, banyak tantangan yang dia hadapi. Apalagi menangani pasien di lokasi bencana yang serbakacau. Setiap akan turun ke lapangan, Wulan menyiapkan alkohol untuk menjaga alat-alat praktiknya steril, sebagaimana prinsip dalam bidang medis. ’’Pernah aku menjahit luka sambil duduk. Guntingnya juga nggak ada, jadi pakai gunting biasa,’’ ungkapnya.

Proses evakuasi menjadi tantangan terberat kedua. Para warga ingin bertahan di rumah masing-masing. Mereka tak mau meninggalkan harta bendanya.

Bencana banjir juga menyulitkan Wulan yang tidak pandai berenang. Hal itu sempat membuat orang tuanya waswas. Namun, Wulan berhasil memberikan pengertian dan mengurangi kekhawatiran mereka.

Meski terhitung baru bergabung dengan tim social rescue disaster, dia sudah terlibat beberapa aksi kemanusiaan. Mulai banjir di Bogor, Garut, hingga gempa di Banten. ’’Setiap aku ke lokasi bencana itu selalu minta doa ke ortu. Karena aku nggak tahu bakal kembali utuh atau hanya nama aja,’’ tuturnya.

Risiko yang besar tak menyurutkan semangat Wulan. Begitu pula Wahyu. Meski bukan dari bidang kesehatan seperti Wulan, dia sudah berlayar ke beberapa pulau untuk misi kemanusiaan. Bersama Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga, dia melakukan kegiatan pelayanan medis hingga penyuluhan.

’’Awalnya, saya dimintai tolong untuk melakukan penyuluhan. Karena bukan dari bidang kesehatan, saya jadi berpikir penyuluhan apa yang bisa saya berikan. Akhirnya saya mengajar untuk literasi sesuai basic saya,’’ ucap mahasiswa akhir jurusan bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Airlangga, Surabaya, itu.

Setelah pengalaman pertama di Lombok, mahasiswa 22 tahun itu menjadi relawan gempa dan tsunami Palu yang terjadi pada tahun yang sama. ’’Dari aksi kolaborasi pada gempa Lombok dan bencana di Palu itulah saya mengenal RS Terapung. Baru pada 2019 saya diajak bergabung dengan pelayaran RS Terapung ke Pulau Sapeken,’’ lanjutnya.

Berlayar dari pulau ke pulau memberi Wahyu pengalaman dan pandangan baru. Ketika berlayar ke Pulau Masalembu yang berada di perairan antara Madura dan Kalimantan, dia terkejut. Ternyata masih ada pulau di Jatim yang tidak dialiri listrik. Apalagi sinyal internet. ’’Masyarakat kalau berobat atau rujukan itu harus menempuh 7 jam untuk sampai di Sumenep. Kapalnya juga tidak tiap hari ada,’’ terangnya.

Pelayaran ke Pulau Matalaang, Sulawesi Selatan, tak kalah membekas di benaknya. Sama halnya dengan Masalembu, di Matalaang juga tidak ada listrik, sinyal, puskesmas, termasuk dermaga. ’’Bahkan masih ditemukan gizi buruk. Kegiatan pelayanan medis seperti inilah yang paling dirindukan masyarakat karena selama 20 tahun tidak ada dokter yang ke sana,’’ jelas Wahyu.

Semakin banyak dia tahu kondisi masyarakat di pulau-pulau tertinggal, semakin kuat tekad Wahyu untuk terjun ke dunia kerelawanan. Orang tuanya tidak melarang pilihan itu. Mereka mendukung apa yang bagi Wahyu baik.

Enam bulan terlibat penyuluhan, kini dia tergabung menjadi general staff RS Terapung. ’’Saya bertugas mengurus survei, menyiapkan keberangkatan kapal, hingga mengakomodasi dari relawan dan rumah sakit,’’ ujarnya.

Ke depan, Wahyu berniat melanjutkan studi. Dia ingin mempelajari lebih dalam terkait manajemen penanganan bencana. Dengan begitu, dia bisa bergerak di bidang kebencanaan.

’’Walaupun kita hanya sedikit meneteskan air di lautan, pasti akan bertambah. Itu juga yang dirasakan orang yang kita tolong. Bantuan sekecil apa pun akan berarti dan senyuman mereka sangat membahagiakan bagi saya,’’ ucap Wahyu tentang komitmennya sebagai relawan kemanusiaan.

Tak jauh berbeda, Wulan juga berpesan agar generasi muda tidak takut turun ke lapangan untuk menolong sesama. ’’Dalam keadaan apa pun, kita bisa nolong orang. Bisa kasih manfaat buat orang lain. Masa muda cuma sekali, tidak bisa diulang,’’ katanya. (*)

Artikel ini bersumber dari : news.batampos.co.id.

Tinggalkan komentar