Yuk Intip Pesona Wisata Alam Mata Air Fotuno Rete di Muna

Diposting pada

Muna – Objek wisata air di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra) memiliki pesona yang tidak kalah dari wilayah lainnya. Seperti wisata alam mata air Fotuno Rete yang terletak di Desa Wakumoro, Kecamatan Parigi.

Pemandian alami ini ternyata menawarkan alam yang sangat asri dan tenang. Pepohonan yang berumur tua masih berdiri kokoh mengelilingi kawasan wisata alam tersebut. Suasana semakin sejuk saat angin semilir berhembus dengan pelan dari balik pohon-pohon yang kokoh.

“Fotuno Rete ini adalah pemandian air tawar yang berasal dari mata air alami yang jernih dan sejuk. Lingkungannya masih sangat asri dengan pepohonan yang rimbun,” kata Tim Promosi Pemandian Fotuno Rete La Ode Sunanto kepada Kendariinfo, Minggu (25/9/2022).

Wisatawan saat tengah menikmati objek wisata mata air Fotuno Rete di Kabupaten Muna.
Wisatawan saat tengah menikmati objek wisata mata air Fotuno Rete di Kabupaten Muna. Foto: Facebook LA Ode Halilu Muminin. (5/5/2022).

Sunanto mengungkapkan selama ini masyarakat sekitar terus menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar Fotuno Rete agar tetap terjaga dengan baik. Selain deretan pohon-pohon yang berusia tua sebagai bukti keasriannya, mata air ini masuk dalam kawasan hutan lindung.

“Kalau mau lihat situasi alamnya masih terjaga dengan baik, kalau naik ke wilayah atas Fotuno Rete ini masih dikelilingi oleh hutan lindung dan ada juga gua-gua yang masih terjaga,” ungkapnya.

Wisatawan yang berkunjung diperbolehkan untuk berenang ke dalam kolam mata air tersebut yang memiliki kedalaman hingga 3 meter. Hal itu terlihat dengan adanya fasilitas papan loncat di pinggir kolam yang dibuat oleh warga setempat.

“Kedalamannya rata-rata 2 – 3 meter dan boleh berenang di dalamnya. Di dalam air banyak juga ikan-ikan yang hidup dan ada juga ikan yang cukup langka,” bebernya.

Untuk jumlah kunjungan di objek wisata ini memang masih dominan berasal dari masyarakat sekitar Desa Wakumoro. Sedangkan pengunjung dari luar Kabupaten Muna belum begitu banyak.

“Kalau hari-hari biasa palingan yang datang ke sini warga-warga sekitar Wakumoro yang ingin main air. Kalau seperti weekend itu biasa anak-anak sekolah dan ada juga anak-anak traveler dari luar Muna yang mau healing ke sini,” ungkapnya.

Baca Juga :   Sekda DKI Sebut Radjak Hospital Cengkareng Perkuat Cita-Cita DKI jadi Pusat Wisata Kesehatan

Sunanto mengatakan untuk tetap menjaga keberlangsungan tempat itu, masyarakat setempat turut andil untuk membersihkan kawasan itu dengan rutin. Hal itu sebagai bukti masyarakat ingin terus menjaga alam itu agar tetap asri.

“Untuk perawatannya alhamdulillah masyarakat setempat berupaya setiap Jumat dan Minggu diadakan pembersihan sampah-sampah dan menata dengan baik kawasan pemandian ini,” bebernya.

Mata air Fotuno Rete ini juga merupakan sumber dari beberapa aliran sungai yang ada di Kecamatan Parigi dan pusat mata air yang mengaliri wilayah-wilayah pertanian masyarakat.

Wisatawan saat tengah menikmati objek wisata mata air Fotuno Rete di Kabupaten Muna.
Wisatawan saat tengah menikmati objek wisata mata air Fotuno Rete di Kabupaten Muna. Foto: Facebook Ihlas Muhamad. (4/5/2022).

“Airnya memang kadang berkurang sampai sepinggang karena saat ini masih digunakan sebagai air bersawah bagi masyarakat sekitar. Tapi setelah dipakai nanti banyak lagi airnya,” ungkap dia.

ADVERTISEMENT

Akibatnya, masyarakat mulai melakukan pelarangan bagi wisatawan yang mandi di dalam kolam mata air menggunakan sabun dan sampo. Selain mengaliri pertanian masyarakat, ditakutkan biota yang hidup di dalam kolam pemandian itu terancam punah.

“Dulu memang belum ada aturan jadi orang sembarangan saja. Tapi sekarang sudah kami berlakukan aturan jangan mandi di dalam kolam menggunakan sabun dan sampo. Karena kan kita tahu sendiri air ini masih digunakan masyarakat sekitar untuk berkebun dan bersawah. Selain itu nanti ikannya punah,” ungkapnya.

Ternyata, para pengurus mata air Fotuno Rete ini belum memberlakukan retribusi masuk sehingga wisatawan bebas menikmatinya. Pemberlakuan retribusi dilakukan saat libur panjang dan hari-hari besar.

“Kami memang belum berani memberlakukan karcis masuk dengan alasan kami belum bisa memberikan fasilitas-fasilitas pendukung keberlangsungan objek wisata ini. Ada waktu-waktu kami berlakukan karcis seperti libur panjang, hari raya dan hari besar lainnya,” jelas dia.

“Selain pemandian ini, ada juga di sini makam Raja Muna La Ode Dika. Lokasinya bersebelahan dengan mata air Fotuno Rete ini,” ujarnya.

Baca Juga :   5 Fakta Keindahan Wisata Makassar Pulau Panambungan, Pasir Putih Berpadu Pinus

Masyarakat setempat diketahui juga kerap menyelenggarakan ritual adat dan budaya turun temurun yang masih dilakukan hingga saat ini dengan memanfaatkan tempat dan mata air Fotuno Rete ini seperti tradisi menyambut bulan Safar. Sehingga, kawasan mata air itu harus tetap dijaga dan dilestarikan keberlangsungannya.

“Belum lama ini kami laksanakan ritual adat dan budaya masyarakat setempat di sini,” ujarnya.

Konon, dalam cerita rakyat wisata alam mata air tersebut merupakan tempat masyarakat adat dahulu melakukan ritual adat dalam penyelesaian sengketa di antara masyarakat yang berselisih. Dua masyarakat akan direndamkan ke dalam mata air setinggi pinggang itu untuk menyelesaikan sengketa.

Wisatawan saat tengah menikmati objek wisata mata air Fotuno Rete di Kabupaten Muna.
Wisatawan saat tengah menikmati objek wisata mata air Fotuno Rete di Kabupaten Muna. Foto: Facebook Israhmadt Misrahyu. (13/5/2022).

“Menurut orang tua kami dulu, tempat ini juga digunakan masyarakat adat untuk disidang (dalam sengketa yang berselisih). Kalau dia tenggelam berarti dia bersalah. Itu cerita dulu dan dipercaya masyarakat. Ada juga cerita rakyat di sini tempatnya mandi 7 bidadari,” ungkapnya.

Sunanto memiliki harapan besar untuk keberlangsung mata air Fotuno Rete tersebut. Ia meminta agar pemerintah bisa turut andil dalam mengembangkan dan mengenalkan objek wisata ini.

“Kami meminta kepada pemerintah atau stakeholder agar bisa bekerja sama dengan baik demi perkembangan objek wisata ini dengan harapan pemandian mata air Fotuno Rete menjadi salah satu tujuan wisata, baik itu wisatawan lokal, nasional bahkan internasional,” bebernya.

Objek wisata ini berjarak kurang lebih 50 kilometer dari Kota Raha dengan waktu tempuh 1 jam 20 menit. Setelah tiba di perempatan Desa Wakumoro, perlu masuk lagi ke arah dalam sekitar 200 meter hingga benar-benar tiba di objek wisata mata air Fotuno Rete.

Menikmati Segarnya Mata Air Biru di Pemandian Fotuno Sangia Pulau Muna



Post Views:
105

Artikel ini bersumber dari : kendariinfo.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *